Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Tuhan peduli

ForumInspirasi

226 – 249 dari 249    Ke halaman:  Sebelumnya  1 ... 8  9  10Kirim tanggapan

  • KALEB643

    15 Desember 2016

    ah biasa ja ko, g pandai rangkai kata aq...

    yup betul banget.. lebih menghargai hubungan dunk "thats more important" apalagi hubungan dengan TUHAN...

    FAJAR882 tulis:

    Bagus sekali Mas Kaleb.. :up:

    Iya.. Saya sendiri juga sedang belajar untuk lebih menghargai "hubungan" lebih daripada hal-hal lain dalam hidup ini. Dan, bagusnya, mas Kaleb berhasil meng-artikulasikan-nya secara estetis dalam bentuk puisi. :-)

    Sipp.. Bagaimana kira-kira, sekedar pendapat saya tersebut? Kena gak, sperti yang dimaksud dengan puisinya?

    (*yuk, diskusi..)

  • 15 Desember 2016

    KALEB643 tulis:

    ah biasa ja ko, g pandai rangkai kata aq...

    yup betul banget.. lebih menghargai hubungan dunk "thats more important" apalagi hubungan dengan TUHAN...

    Saya copas lagi di sini deh, quote di depan tadi, untuk melengkapi penjelasan mas bro Kaleb.

    cdn.quotesgram.com/small/23/21/1148090211-who-i-have-in-my-life-counts-quote-love-family-friends-quotes-pictures-pics.jpg

    terjemahan, utk sekedar membantu:

    "Saya telah belajar... bahwa bukanlah apa yang saya miliki di dalam hidup saya, melainkan siapa yang saya miliki dalam hidup saya yang berarti/berharga."

    Hey.. lihatlah, bagaimana saling bertukar puisi, itu juga bisa menjadi salah satu langkah bertukar ide atau gagasan.. bahkan bisa saling memberi inspirasi.

    Beneran, biasanya kalau saya sendirian saja, rasanya kayak "buntu", gak ada ide untuk bikin karya apa2.. Lagian juga mo diapain kalau umpamanya bikin2 puisi, gitu. Nah.. dengan adanya thread puisi seperti ini, bisa deh disalurkan, bakat puisi.. atau "cita-rasa" berkeseniannya.. Hehehe.. (*peace,, no offence..)

    Monggo.. Yuk.. dilanjut, ber-puisi-ria-nya. :-)

    15 Desember 2016 diubah oleh FAJAR882

  • KALEB643

    15 Desember 2016

    masih nyambung ma thread? buat thread puisi ja.. kayaknya ada de...

    wah beda emank cara sesepuh nyalurin eksperinya hahaha... salut lut lut...:up:

    FAJAR882 tulis:

    Saya copas lagi di sini deh, quote di depan tadi, untuk melengkapi penjelasan mas bro Kaleb. cdn.quotesgram.com/small/23/21 ... ctures-pics.jpg terjemahan, utk sekedar membantu:

    "Saya telah belajar... bahwa bukanlah apa yang saya miliki di dalam hidup saya, melainkan siapa yang saya miliki dalam hidup saya yang berarti/berharga."

    Hey.. lihatlah, bagaimana saling bertukar puisi, itu juga bisa menjadi salah satu langkah bertukar ide atau gagasan.. bahkan bisa saling memberi inspirasi.

    Beneran, biasanya kalau saya sendirian saja, rasanya kayak "buntu", gak ada ide untuk bikin karya apa2.. Lagian juga mo diapain kalau umpamanya bikin2 puisi, gitu. Nah.. dengan adanya thread puisi seperti ini, bisa deh disalurkan, bakat puisi.. atau "cita-rasa" berkeseniannya.. Hehehe.. (*peace,, no offence..)

    Monggo.. Yuk.. dilanjut, ber-puisi-ria-nya. :-)

  • 16 Desember 2016

    Kalo saya murid. Berhubung paling tua jd duduk di paling pojok belakang. Biar bisa tidur. Terimakasih sdh boleh bergabung.

    FAJAR882 tulis:

    Boleh. Sebagai GURU.

    (*sangat diharapkan malah..)

  • 16 Desember 2016

    KATHARINA781 tulis:

    Kalo saya murid. Berhubung paling tua jd duduk di paling pojok belakang. Biar bisa tidur. Terimakasih sdh boleh bergabung.

    FAJAR882 tulis:

    Boleh. Sebagai GURU.

    (*sangat diharapkan malah..)

    Lha puisinya mana Mbak? 8-o Eh, Bu?

    (*kirain kalimat tadi itu sebuah puisi tentang ... emm.. tentang apa yaa? #bingung)

  • 16 Desember 2016

    Kalo dari penerawangan saya; puisi ini berisi tentang harapan2 cinta. Kau, dirimu mewakili "cinta" itu. Walaupun bercerita ttg harapan2 tetapi sebenarnya ada sedikit tersirat keraguan di sana dan keraguan yg membawa kepada keinginan berserah pada Tuhan.

    (Boleh berbeda ya..tergantung dr sudut pemmbaca memaknainya seperti apa. Penulisnya-pun bisa sj berbeda)

    KALEB643 tulis:

    Semua terasa indah saat kau hadir,

    Hati duka kini penuh dengan kebahagiaan,

    ...

    Agar ku bisa milikimu hingga akhir nafasku.

    10 Mei 2018 diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 16 Desember 2016

    Lagi belajar merangkai, Mas. Kehabisan kata2.

    FAJAR882 tulis:

    Lha puisinya mana Mbak? 8-o Eh, Bu?

    (*kirain kalimat tadi itu sebuah puisi tentang ... emm.. tentang apa yaa? #bingung)

  • DIAN453

    12 Februari 2017

    Mata tak melihat, bukan berarti tak ada.

    Tangan tak menjangkau, bukan berarti tak dapat.

    Mulut tak bergerak, bukan berarti tak bicara.

    Yang nampak, bukan itu yg kumaksud

    Yang ada, bukan itu yg kuingin

    Dia tahu yg terdalam.

  • 28 September 2017

    TERKENANG

    terkenang akan waktu yang telah silam
    berhenti sejenak, untuk mengambil jeda
    dari riuh bising kesibukan keseharian
    lalu terduduk sendirian
    di pojok beranda, lengang,
    dan basah oleh tempias air hujan

    beranda ini, teras rumah ini
    masih sama seperti kala waktu itu
    kala ketika berjuta mimpi masih merekah
    tegas dengan warna-warna menyala
    seolah sapuan kuas kau goreskan
    kata demi kata, merajut harap
    merenda khayal, dan kau tenun
    selembar kisah tentang asmara

    dan kini, tak lagi berani aku bermimpi
    tidak lagi untuk mimpi yang sama
    biarkanlah..
    waktu dan cuaca itu, yang masiihh.. saja
    dan selaluuuuu.. menunggu
    menuntut dalam hening udara malam
    tetap dengan tuntutan yang sama
    menagih janji untuk menjadi nyata

    kau sapa kah cuaca malam ini?
    kau pandangi kah rembulan sunyi
    yang diam mengisyaratkan iba
    tanpa bintang, mengambang sendirian
    dan bersembunyi di balik awan?

    Namun langit punya rahasianya sendiri
    aku dan kamu tak akan punya daya
    di hadapan kedahsyatan rencananya

    Sesal kah bahwa kita pernah bertemu
    kesal kah karena tak kan pernah dipersatukan
    Sia-sia kah waktu yang pernah kita habiskan

    Meski sejumput pilu mengusik kalbu
    saat kenangan hantarkan sekeping rindu
    Siapakah kita di hadapan Sang Pengatur Waktu?

  • IMANUEL425

    29 September 2017

    Saat ku tak melihat jalan Mu..

    Saat ku tak mengerti rencana Mu..

    Namun tetap ku pegang janji Mu..

    Pengharapan ku hanya pada Mu..

    Hati ku percaya

    Hati ku percaya

    s'lalu ku  percaya.

  • 2 Oktober 2017

    Oh Tuhan pakai lah hidupku selagi aku masih kuat, bila saat nya nanti ku tak berdaya lagi,hidup ini sudah jadi berkat....

  • 2 Oktober 2017

    Cieeeeeeeee..

    Ohok ohok....

    Jarang jarang nih mas hihihi.

    FAJAR882 tulis:

    TERKENANG

    terkenang akan waktu yang telah silam

    berhenti sejenak, untuk mengambil jeda

    ....

    Siapakah kita di hadapan Sang Pengatur Waktu?

    2 Oktober 2017 diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 5 Oktober 2017

    TRISH197 tulis:

    Cieeeeeeeee..

    Ohok ohok....

    Jarang jarang nih mas hihihi.

    Hola Trish, :-)

    Well, “jarang-jarang..” Iya sih, bener. Terakhir posting puisi di sini, tercatat sejak 14 Desember tahun lalu, (saat seputar momen Natal, postingan di halaman sebelum ini), baru ngisi lagi.. itu, puisi di atas, yang kamu komen-in itu. Meskipun, seingatku, ada pula beberapa puisi singkat yang masih sempat dibikin dan di-posting di Thread/Topik “Pusing (Puisi Singkat)”, memang sudah lama juga rasanya tidak “bermain puisi” lagi.

    :$) ahahaha.. Sekedar sebagai selingan saja Trish. Sekali waktu ber-mellow-ria, sekedar pengalih kebosanan dari aktivitas harian. Gak tahu juga hasilnya apa. Mungkin, bisa sekedar dan sedikit menjadi pereda ketegangan urat syaraf.

    By the way, baru tahu, ternyata kamu penikmat puisi juga toh, Trish. Atau jangan-jangan, pujangga juga kamu ini sebenarnya? (*eh, baru lihat ini loh, kamu ikutan komen di sini, dari sejak pertama kali topik ini didirikan..) Ayolah, di-posting juga di sini, sebagian dari puisi-puisimu; biar turut dinikmati oleh teman-teman kita di sini.

    Nah, sedikit tentang puisi di atas, (*ini menanggapi tentang koment: “Cieeeee...”, dan “Ohok ohok...”), intinya sih: imajinasi - sebab, menurut Wiki nih.. ehmm.. mendingan saya kutipkan saja beberapa kalimat tentang puisi, (Sumber: Puisi - Wiki: id.wikipedia.org/wiki/Puisi ) berikut ini:

    “Beberapa ahli modern memiliki pendekatan dengan mendefinisikan puisi tidak sebagai jenis literatur tetapi sebagai perwujudan imajinasi manusia, yang menjadi sumber segala kreativitas. Selain itu puisi juga merupakan curahan isi hati seseorang yang membawa orang lain ke dalam keadaan hatinya.

    Hehee.. kalau sampai ada “Ohok ohok..” berarti agak tercapai juga kegiatan puitisasi-nya..:-p Hahaha..:-D

    ________________

    Baiklah. Kemarin (dan hari ini) ada waktu yang slowww.. lagi. Saya bikin kreasi (masih) dari Wiki, tentang sebuah kata: Tajuk, menjadi “puisi-cerita” (prosa puisi) yang, tentu saja, berawal dari imajinasi, dan ceritanya pun fiksi belaka. Puisinya ada di bawah ini.. (dalam postingan berikutnya).

    Semoga berkenan. Salam.

  • 5 Oktober 2017

    Tajuk

    - kenapa namaku tajuk, ma?

    - ah, anakku, mengapa engkau bertanya begitu?

    - anak-anak di sekolah mengejekku karna namaku

    - anakku sayang, janganlah kau dengarkan mereka.
    Mereka tidak tahu arti namamu.
    Tajuk adalah kata dengan beragam arti yang indah.
    Kaulah yang kami harapkan untuk selalu berada di atas,
    dan menghiasi kepala rumah kita.

    Waktu kami menikah,
    papamu amat terpesona dengan dandananku;
    kembang goyang di kepala mama
    katanya paling mempesona.
    Kembang goyang, itulah tajuk.

    Ada yang kuingat dari wajah papamu ketika itu
    polos, lucu dan lugu
    seperti kebingungan setiap kali aku menatapnya
    sungguh, membuatku sulit menahan ketawa.
    Tetapi mahkota di kepalanya,
    adalah yang paling jenaka

    Ah, kenangan terindah di pernikahan kami.
    Meski sulit, kami bertekad menghormati tradisi.
    Senyum itu.. kemeriahan itu..
    Dan mahkota..., itulah juga tajuk.

    Tahukah kau, nak..
    Kami mengawali segalanya dari bawah.
    Sungguh dari bawah kami merangkak.
    Tak banyak harta yang kita punya.
    Hanya sepetak tanah untuk kami bercocok tanam.
    Pepohonan, meski tak seberapa, menjadi gantungan hidup.
    Bagian yang melingkupi batang utama,
    itu yang selalu kami sayangi, seperti anak sendiri.
    Tahukah kau, ilmu hayat juga menyebutnya ‘tajuk’.

    - apa yang terjadi dengan papa, ma?

    - nanti, pada waktunya kau akan mengerti. Hari sudah malam. Tidurlah nak.

    - mengapa aku tak boleh mengerti sekarang, mama?

    - harimu masih panjang. Besok kamu harus sekolah.
    Kau tentu tak bisa mengingatnya,
    ketika papamu berangkat berlayar
    demi mendapat penghasilan yang lebih besar.
    Semuanya agar nanti pada saatnya
    kau dapat tetap sekolah, anakku.

    Dalam pelayaran, tajuk adalah kili-kili,
    semacam tonggak besar yang dipasang mencuar
    atau menganjur di tepi perahu.
    Jika saja mereka menyadari ada yang salah
    sebelum peristiwa itu terjadi
    mungkin saja tajuk bisa menjadi penyelamat
    nyawa papamu.

    Namun, rupanya hidup berkehendak lain
    Papamu pergi, kecelakaan terjadi, dan dia tak pernah kembali.

    Kau tak perlu kecewa, anakku.
    Seseorang yang bisa dipercaya mengatakan
    tindakan papamu telah menyelamatkan orang seisi kapal
    meski ia sendiri harus pergi menghadap Yang Kuasa
    jauh sebelum ia bisa melihat
    kau memakai seragam sekolah pertamamu.

    Biarkanlah banyak orang lain menyangkal
    bahkan ketika peristiwa itu muncul di Tajuk Berita...

    - apakah tajuk berita, ma?

    - berita utama yang judulnya dipajang dengan ukuran besar
    Perusahaan pelayaran tetap menyangkal
    bahwa kejadian itu akibat kelalaian mereka.

    Tetapi Tuhan Mahatahu, anakku..
    Tuhan tahu. Dia Mahaadil,
    Dia tak pernah tidur, dan Dia menyayangi kita.

    Biarlah.. meskipun jika orang lebih percaya pada
    Tajuk Rencana, tulisan opini yang dibuat redaktur surat kabar
    Walaupun ulasannya bukan kebenaran
    walaupun semua serba diputar-balikkan.

    Mungkin ini memang sudah zamannya
    dimana orang lebih suka akan kepalsuan
    dan membiarkan diri diperdaya oleh
    berita bohong media massa

    Berjanjilah bahwa kau tidak akan
    seperti mereka, anakku.

    - iya, mama. Aku akan sekolah dan rajin belajar
    Biar kelak aku akan jadi orang pintar,
    tak akan kubiarkan orang mengacaukan
    dan meremehkan semua tentang tajuk.

    - oh, anakku, cantikku, bidadariku.

    (“Tajuk” - Jogja, awal Oktober’17, F-882, JK)

  • 25 Maret 2018

                      iman
                      iman
                      iman
    pengharapan pengharapan
    pengharapan pengharapan
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih
                     kasih

  • MAYA509

    25 Maret 2018

    FAJAR882 tulis:

    Tajuk

    - kenapa namaku tajuk, ma?

    - ah, anakku, mengapa engkau bertanya begitu?

    .....

    - oh, anakku, cantikku, bidadariku.

    (“Tajuk” - Jogja, awal Oktober’17, F-882, JK)

    panjang aja.....bobo aja lah. Zzzzz.....

    26 Maret 2018 diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 25 Maret 2018

    tak...jub..jub..jub...

    tak.. tak.. tak.. jub..

    takjub

  • 26 Maret 2018

    seraut wajah berlumuran darah
    lengkap sudah luka menganga di sekujur tubuh
    segala beban dipaksa tanggungkan
    melebihi batas kekuatan kemanusiaan
    diperlakukan selayak binatang

    di sanakah kau, saat mereka menyalibkan Dia?
    di manakah kalian, ketika dirayakan hari penghukuman itu?

    di sana kah kalian?
    ketika kepada-Nya difitnahkan segala yang jahat,
    dinistakan, dilecehkan, diludahi, dihujat,
    dihajar, dicambuk, dimaki, dilaknat, di..
    di.. di..
    ahk..

    runtuhlah benteng logika
    ketika mereka mengatakannya tak lebih
    dari mitos belaka
    sebab sejarah mencatat, dan semua adalah fakta

    bilur-bilur ganti kesembuhan
    caci-maki dusta ganti patah hati
    dipikulNya salib menuju bukit Golgota
    biar engkau bisa menikmati bercengkerama
    atau merisaukan besaran angka
    gigabyte di perangkat telephone cellular-mu

    lalu engkau katakan, semua karena Dia
    jika kau pintar, gagah, cantik, kaya..
    semua karena anugerah-Nya
    sebab Dia adalah Tuhan, maka demikianlah semestinya
    baik oleh kata orang, ataupun buku-buku agama

    kemudian lantang pula kalian teriakkan..
    "Di mana Tuhan? Kenapa ada penderitaan?"

    Tapi Dia lebih dari menderita,
    semua agar kita: kalian, kamu, kamu, kamu,
    dan aku..
    bisa merasakan kebahagiaan..
    fi aldunya, walakhira*).

    (*di dunia dan akhirat.)

    ("Lebih dari Jawaban" - Jogja, 27 Maret 2018)

  • 9 Mei 2018

    diksi di awal, delusi di akhir
    "Yang ini pun," kataku, "adalah tragedi!"

    diksi yang menjadi awal segalanya

    ini tentang sebuah kata
    yang kau pikirkan, kau timbang-timbang
    kau pilih-pilih, dan pikirkan matang-matang
    agar jangan lalu berubah jadi lalang

    secarik pesan, sebongkah bimbang
    yang di latar, jadi terbelakang
    sorotmu pada kata 'tuk jadi pengantar
    malah terlewat, teracuh di balik layar

    tak ayal, anggap jadi asumsi
    ibarat harap pada sebenih janji
    dan kecewamu berujung pudar
    sebagai nada tiada berdasar

    pun irama tak jua ketemu pola
    karna nuansa tinggal sebentuk khayal

    ketika setiap selalu
    hendak serba tahu
    rumuskan tata pada bahasa kalbu
    kukira kau tak senaif itu

    bagai mencanangkan postulasi
    premismu tegar, seolah tiada terganti
    data, fakta, dan kebenaran pun kau ingkari
    sebab kau lebih cinta pada fantasi

    dan semua berakhir
    pada sebuah delusi

    ("Ngeyel" - Jogja, 10 Mei 2018)

  • 10 Oktober 2018

    Setiap orang..

    adalah produk dari masa lalu.

    Meskipun kita tahu

    ruang itu tidak perlu jadi pukat yang menjebak dan memenjarakan;

    terkadang..

    sulit memang,

    untuk sepenuhnya mampu memerdekakan diri dari jerat sebuah zona

    yang pernah begitu memanjakan segala eksistensi diri dengan beragam kenyamanan yang melenakan dan cenderung memabukkan.

    Terutama..

    ketika berkas embun kenangan menghablur jadi kabut kebisuan;

    menutupi dan mengaburkan visi tentang penantian akan hari depan yang penuh dengan pengharapan.

    *

    Semu.

    Absurd.

    Palsu, dan menipu.

    Serpihan residu dari lorong waktu.

    ("Residu dari Lorong Waktu" - Jogja, 11 Oktober 2018)

    _______________________

    Pindahan dari thread "Pusing" - www.jodohkristen.com/topic/2045/52/

  • 10 Oktober 2018

    Saya pindahkan di sini, diskusi dari lapak sebelah, topik "PUSING (Puisi Singkat)"; sebab di topik ini masih memungkinkan untuk dilakukan diskusi puisi.

    :-) Mohon maklum, dan semoga bisa dimengerti.

    LISNARINAA355 tulis:

    Salam damai

    ~jangan pikirkan masa lalu

    Jangan mimpikan masa depan

    konsentrasi pada masa kini(saat sekarang)~

    =Pusatkan perhatian pada Harapan=

    🎼🎵🎶Pengharapanku.. Hanya padaMU🎹

    Lho.. 8-o tentang apa to ini?

    :-D ahahaa.. itu, yg di atas itu cuma puisi, Itok.. Tapi, oke lah. Dihargai masukan dan pendapatnya. Mauliate, trima kasih.

    Maaf, Sdr./i., para pembaca yang budiman. Puisi di atas itu cuma sebuah kreasi poetik; mohon tidak menyimpulkan atau berasumsi tentang sesuatu di luar konteks.

    Dalam hal ini, ayat ini konteksnya: Yeremia 29:11 (TB) - "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

    *

    Shalom. O:) Tuhan memberkati.

  • 6 Maret 2019

    ku kisahkan malam dalam
    pesona lekuk lesung pipit bulan purnama
    sehirup pekat wangi melati
    di larut irama gending Jatikumara

    selembut lena kelana angan
    di simpang rona larung paya-paya
    dalam simpuh, teduh kening berpeluh
    tiada lagi berani kami mengaduh

    dan malam disergap keheningan
    seribu kunang-kunang mendandani mega-mega
    ingatan bagai asap
    tebal, menipis.. lalu memudar

    sisakan sepenggal kisah
    tentang kerinduan yang samar

    *

    bila hati dirundung sunyi
    bulan dan mega, kini dan nanti
    tersenyum di selasar mimpi
    bentang puisi tiada bertepi

    bila angan ditempa kerinduan
    dibasuh sayup simfoni tembang kenangan
    biarlah sajak menggantikan mu
    memanduku meniti nada, menemani malam

    *

    bila hati dirundung sunyi
    bila angan ditempa kerinduan
    biarlah sajak gantikan mu
    menemani malam

    ("Sajak-sajak Malam" - Jogja, Maret'19, JK.)

  • 13 Februari

                 dan

              c i n t a

           menampakkan

        dirinya dalam tanda bahaya

       layaknya serumpun bunga

       di padang belantara sana

        tiada sanggup berkata

           mesra dibalutkan

              sutera perak

                 bercahya

                    noktah

                      merah darah

                      salut rindu

                      dendam

                     tabur

                   doa

                  nu

                  a

                   i

    ("Kisah Cinta yang Tak Pernah Usai" - Jogja, Feb.'20 - JK)

  • 14 Februari

    Oh Tuhan,

    kata mereka Engkau perduli.

    Bukan aku menolak percaya,

    namun dari jaman mesin ketik kuno

    sampe kini di jaman laptop,

    otakku bertanya dan bertanya terus

    "SEJAUH MANA Engkau perduli dan mewujudkannya?"

    Dari jaman ke toko buku

    sampai kini jaman nge browsing

    tetap jawabannya tak kutemukan.

    Dari jaman Pasar Baru nge trend

    sampe sekarang beralih ke Kokas,

    aku masih bertanya dan bertanya.

226 – 249 dari 249    Ke halaman:  Sebelumnya  1 ... 8  9  10Kirim tanggapan