Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Living happily without children, thought?

ForumGaya hidup Kristen

51 – 75 dari 339    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  4 ... 14  Selanjutnya Kirim tanggapan

  • YUDI139

    2 Mei 2016

    LINDA299 tulis:

    Yudi139@

    Sblmnya saya minta maaf atas komen saya yg hin n run tdi.

    To the point jg nih.

    1.seandainya aq bertemu pria dan kami ada komitmen berumahtangga,ttpi dia mengungkapkan bahwa dia menginginkan kami berumah ta gga tanpa anak krn dia tdk bs memberikan anak(mandul) itu tdk akan menjadi masalah buat saya krn bs saja sebaliknya.

    2.jika pasangan saya kelak meminta agar pernikahan kami tanpa anak krn usia kami yg sudah cukup tua dan berfikir tdk akan sanggup membsarkan anak mengingat kami menikah diusia tua itu jg tdk akan menjadi masalah.

    3.saya single parent tpi tdk pernah menawarkan seks sebagai upah dari suami yg akan menikahi saya.saya mencari suami yg justru bisa menerima saya dgn segala beban saya dan saya juga bisa menerima dia dgn segala bebannya ingat!!pria jg manusia bukan Tuhan !masalah begitu byknya tawaran wanita muda diluar sana bukan urusan saya.urusan saya berusaha dan berdoa Dan jodoh itu anugrah Tuhan buat saya klo dijinkan menikah lagi.saya jg tidak sedang menunggu pria2 yg sedang mengejar wanita muda.yg saya tunggu adalah pria sejati yg dri Tuhan degn segala kekurangan dan kelebihannya.

    Ntar dilanjut lagi....

    1 dan 2 itu wajar, usia rawan hamil. Anda jangan khawatir, dating pool orang usia matang 40 tahun ke atas itu luar biasa luas loh, dan they're not after sex anymore, kebanyakan they're after tranquility in life. Ya hidup monoton, bahagia, tenang seperti kolam tenang.  Menikmati kasih karunia Tuhan di dalam hidup.

    Nah childfree philosophy itu manifestasi bentuk orang2 yang mendambakan hidup seperti ini. Jadi janganlah di prejudice dengan sudut pandang sempit seperti :

    1. Kepahitan masa kecil?

    2. Trauma masa kecil?

    3. Hidupmu hancur ya kok mikirnya ga wajar begini? Atau mungkin malah tanya otakmu hancur ya? Hahaha.

    4. Ditelantarkam ortu? Lahir langsung jadi dewasa ya?

    5. Dll tambahkan sendiri. Hehehe.

    Ini sangat kurang etis dong, coba diperluas pola pikirnya lebih lagi.

    Contoh : masa ada orang duda umur 60 tahun ke atas, nulis cari pasangan untuk menikah karena ingin memiliki anak, carinya gadis minor umur 30 tahun ke bawah (sampe dibuatin lagu sindiran wong tuwo rabi perawan), kan ga mutu gini ini hehe. Beneran punya anak, ga cukup tidur, sakit jantung kumat, terus berangkat dah, hehehe masa gitu, apalagi sampai ada yang gifted, istri dinyatakan mandul malah dicerai dengan alasan tidak bisa memberikan keturunan. Ini kan jelas pola pikir nyeleneh tentang pernikahan. Hehe.

    Kalau menikah hanya untuk meneruskan keturunan, ayam di peternakan juga menikah dong. Konsep pernikahan tidak sengawur itu saya rasa.

    Saya pun sudah berpikir dan mengalami banyak pengalaman hidup kok, makanya saya pilih childfree dan cari pasangan yang setuju dengan gaya hidup seperti ini.

    Walau ada juga ya semisal duda, cerai. Kapok masalah anak. Akhirnya takut kalau dapat kenalan janda anak 1, 2, 3.

    Ada juga masalah finansial yang jadi concern. Ya macam2 orang punya masalah hidup. Terlepas dari kesalahan masa lalu atau kurang luasnya pola pikir di masa lalu, dll.

    Suatu ketika pasti ada jodoh yang dari Tuhan, terus berdoa sis.

    2 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • RYO288

    2 Mei 2016

    ijin nyimak saja deh.. :-D

  • SISKA774

    2 Mei 2016

    pemikiran seperti ini lazim kok. Muncul di negara maju dimana kebanyakan orang memiliki pemikiran serupa. Namum ketika sebuah negara sudah mengalami minus angka kelahiran, biasanya pemerintah turun tangan.

    Kalau di negara berkembang pemikiran seperti ini sgt jarang muncul, kasus nya pun sangat jarang dan belum menjadi masalah nasional.

  • MEY072

    2 Mei 2016

    Bisa ksh contoh negara mn yg persentase warganegaranya menganut childfree philosophy ini??

    SISKA774 tulis:

    pemikiran seperti ini lazim kok. Muncul di negara maju dimana kebanyakan orang memiliki pemikiran serupa. Namum ketika sebuah negara sudah mengalami minus angka kelahiran, biasanya pemerintah turun tangan.

    Kalau di negara berkembang pemikiran seperti ini sgt jarang muncul, kasus nya pun sangat jarang dan belum menjadi masalah nasional.

  • DONY531

    2 Mei 2016

    MEY072 tulis:

    Bisa ksh contoh negara mn yg persentase warganegaranya menganut childfree philosophy ini??

    Jepang cthnya, angka pertumbuhan penduduknya udh minus.. kabarnya pemerintah disana harus kasih subsidi kebutuhan anak (utk susu, popok, dll) utk keluarga baru.. Klo menganut childfree ato tidak, saya kurang paham ya, soalnya kenal org jepang cuma tau yg jd anggota sailormoon..

  • DONY531

    2 Mei 2016

    YUDI139 tulis:

    Memang betul yang dibahas adalah fakta dan realita, saya luruskan sedikit. Anak investasi jangka panjang, ini adalah Big NO. Jika mau punya anak maka mindset anda haruslah ikhlas seperti menyumbang kaum duafa, anak bukanlah investasi. Membesarkan anak dengan mindset seperti ini hanya akan membebani mental anak, jadi jangan heran jika banyak anak sampai usia 40 tahun juga masih belum bisa berbakti kepada orang tuanya.

    Jika diajari seperti Joey alexander. Wow good point, tapi anda lupa berapa probabilitas anda memiliki anak seperti Joey alexander? Bicara kuantitas sperma 1 : 2 milyar. Itu probabilitas anda memiliki anak seperti Joey si pianis.

    Istri dulu kurus sekarang gemuk, maaf agak vulgar. Yang dimaksud di sini adalah kecantikan butuh perawatan, lalu jika melahirkam normal, maaf elastisitas organ intim jadi berbeda, anda bisa tanyakan yang sudah menikah saja. Hehe.

    Lalu tua sewa perawat cantik karena investasi hal lain misal tanah dan emas, itu hanya jokes, hanya humor saja. Intinya begini, ketika kita tua, anak belum tentu urus kita kok. Yang urus ya pembantu, pembantu sekalian pilih yang top rank misal mantan perawat di RS skala internasional. Kan lebih bagus pelayanan, kepeduliannya, sama seperti kita naik mobil, jika ada berkat lebih why not beli mobil lebih bagus untuk kesenangan hidup. Bukan masalah tua, genit, libido tinggi cari pelayan untuk sex. Bukan seperti itu maksudnya. Hehehe.

    Anda lihat info lowongan pekerjaan, banyak dicari PRT untuk rawat orang sudah sepuh. Ini salah satu bukti anak bukanlah teman hidup sejati, teman hidup sejati adalah Tuhan, dan istri di dunia.

    Jadi jelas kan menikah tanpa anak seperti apa yang jadi versi saya ini?

    Tambah ga jelas bro. Analoginya, di awal bro bilang "A", kemudian saya bilang "A" itu ga sesuai dgn pendapat saya. Tapi kemudian bro bilang "bukan A".

    Well itu membingungkan bagi saya. Atau mgkn saya yg beda menangkapnya. Tapi ya up to u lah. Gdluck aj bro, kan bro udh tau bakal gimana akhir ceritanya. Thanks for sharing pikiran yg anti-mainstream dan terlihat ribet di forum ini.

  • MEY072

    2 Mei 2016

    Ya klo sekedar cari tambahan wawasan ttg alkitab dan Tuhan Yesus scr pribadi itu bagus jg mas, cm khn bersekutu dalam kelompok gereja itu khn beda ya.. Example jika bergereja setdknya kita bs sharing dan terlibat dalam perselutuan.. Saling menguatkan satu sama laen scr real ya..

    Klo streaming kdg pemahaman akan kotbah yg kita dengarkan sebatas dr pemikiran kita yg bs dpt tp jika bersekutu scr kelompok khn lbh variatif..

    Khn kita makhluk sosial, ga selamanya kita ngendon di dumay saja sometimes kita butuh realnya jg, bnr khn mas..

    Trus utk pengalaman hdp memang bnr kita bs dpt sharingan dr org laen tanpa perlu kita ngalamin.. Cm kdgkala kita tanpa sengaja ngalamin kejadian ato problem yg sama dialamin org laen tp ketika kita ngalamin pasti refleks tiap org dlm nyelesaikan problem pasti beda2 mas..itulah namanya kita diproses..

    Kita khn diksh budipekerti sama Tuhan bt befikir, bertahan hdp dan berevolusi dlm pemikiran kita,  masa sdh tau api, sy coba jg..bahasa kasarnya sy sdh pernah jatuh disitu ko mau msk ke lubang yg sama..tp jgn slh kdg kita ngalamin hal yg berulang gitu jg khn..bkn ga preventive cm kdg kita cari yg gampang tdk mo diproses..bnr khn??

    Banyak ilmu diotak lom tentu semua org bs menuangkan dan mengaplikasikannya dlm hdp..mengalami sendiri bs terekam dlm otak dan kdg lbh mengena

    Naahh itu mas pemahaman org beda2 dlm mendapatkan pengalaman hdp..

    Btw mas Yudi tau childfree philosophy ini atas pemikiran sendiri atokah dpt inspirasi dari org terdekat ato dr mn?? Ya itu pilihan mas, sy harap tdk ada penyesalan aja apalagi vasektomi apa itu ga nyalahin kehendak Tuhan..

    Makasi mas sdh ikut sharing:)

    Gbu

    YUDI139 tulis:

    Pakai JK kan melalui internet, seperti saya kalau ke gereja streaming saja. Itu bentuk pemanfaatan internet saja.

    Oh untuk asam garam dunia, ada 2 cara orang mendapatkan itu.

    1. Belajar dari pengalaman sendiri.

    2, Belajar dari pengalaman orang lain.

    Belajar paling enak itu ya belajar lewat point ke 2, orang sharing banyak, orang mengajarkan banyak juga kan tidak harus mengalami, tergantung anda suka informasi dan bisa filter atau tidak.

    Ini ada cerita agak kocak saya bagi untuk anda.

    Tahu ga sih kenapa setiap kali kita tanya seorang pemilik usaha berpengalaman, mereka selalu berbicara kalau usaha elektronik misalnya, tidak enak banyak rugi, susah, dll. Tapi si engkoh pemilik usaha ini usaha puluhan tahun elektronik? Hehehe.

    Kita : Koh enak usaha elektro n lighting?

    Engkoh 1 : Ora enak. Bla bla bla.

    Kita : Koh usahanya maju banget ya, tokonya ramai.

    Engkoh 2 : Kelihatan aja ramai, tapi cuma orang lewat. Bla bla bla.

    Hehehe.

    Jawabannya karena si engkoh ini tahu kalau dia bilang jualan usaha elektronik manis seperti madu maka kompetitor banyak bermunculan, lalu menurunkan pangsa pasarnya.

    Dari cerita ini bisa dilihat kalau si engkoh pengalaman bisnis kuat, dan salah 1 cara menghilangkan calon kompetitor adalah make other ppl losing interests.

    1 pengalaman anda dapatkan dari cerita ini, bisa dipraktekkan hehehe. Kalau orang masih hijau di bisnis dia akan cerita apa adanya, hasilnya ya masalah seperti itu tuh si pintar maha guru ticketing online. Setelah cerita bagaimana manisnya bisnis ticketing online, disikat indomaret. Habis dah pangsa pasarnya, entah sekarang bagaimana. Lalu seperti go jek, keluar deh grab bike, dll. Coba dia belajar dari pengalaman orang lain dan mau memperluas wawasan, kan ga bakalan dia sharing success story nya dan how to do it nya.

    Jadi mey jgn ya jadi orang konyol, konyol di sini seperti ini, jangan pegang api nanti kamu terbakar sakit, lalu mey pegang apinya, terbakar baru berkata oh, iya ya api itu membakar. Hehehe.

    Ngicip pengalaman itu ga enak loh, lebih baik lihat yang mengalami saja.

    2 Mei 2016 diubah oleh MEY072

  • 2 Mei 2016

    Yudi139@

    Dilanjut lagi yah....

    Point2 yg saya sampaikan tuh maksud nya saya juga bersedia childfree apabila ada alasan yg logis dan tidak menentang kodrat Ilahi.

    1.klo alasan childfree tu adalah seperti yg masa yudi ungkapkan menurutku adalah sebuah masalah.Kata "egosentris" lebih cocok kyknya.sepanjang perjalanan hidup org seperti tuh segala sesuatunya berpusat pada kata "aku". Aku ingin hidup tenang,aku ingin diperhatikan 100%,aku ingin menikmati hasil kerja kerasku,aku ingin.......................tambahkan aja sendiri.

    2.pengalaman pahit/suram/terabaikan/tanpa kasih sayang di masa kecil sebetulnya lebih sering jadi penyebab hal seperti ini.ttpi bs saja keinginan seperti ini tumbuh dgn tiba2 ketika terjadi sesuatu yg membuat kekuatiran/ketakutan akan dimasa depan dgn segala tetekbengeknya.

    3.suatu hari kita dan pasangan akan menjadi tua dan lemah.siapakah yg akan menghargai dan menyayangi org yg sudah tua?suster2 cantik?hello.........klo kamu sudah tua dan dirawat suster cantik tpi tdk ada yg bertanggung jawab atas kehadiran para suster tuh ga bakal lama kamu pasti di sianidakan.sifat org yg sudah tua tuh bawelnya minta ampun krn tua akan menjadi pikun dan yakinlah merawat org pikun tuh butuh kesabaran yg luar biasa .(pengalaman merawat ibu sepupu ayah) bisa ga kamu bayangin saat sudah tua kencing dan buang air besar di tempat tidur.sklipun pakai popok dewasa ttp aja yg rawat harus sentuh kotoran yg bau.yakin suster cantik dgn senang hati setiap hari membersihkan kotoranmu dgn kasihsayang,kesabaran....prikitew bgt tuh suster cantik.klo bukan anak apakah kamu bisa jamin dpt suster yg sayang sama kamu?kamu tawarkan uang besar sebagai upah tdk akan menjamin.yg ada tetaplah makan hati sampai kamu berharap cepat2 DO dri dunia ni.

    4.segala sesuatunya menurutku ttp kembali pada kehendak Tuhan.ada yg diizinkan punya anak dan ada yg tidak.ttpi untuk semua itu Tuhan sudah punya rancangan sendiri.jika seandainya pun anda tidak menginginkan kehadiran anak dlm masa depanmu gantilah alasannya.alasan itu bisa diganti setelah kepahitan itu dihilangkan.

    5.semua org blh punya pendapat dan impian mengenai kehidupannya masing2.tpi aq menentang pendapatmu bagi diriku krn jika aq merancangkan hidup seperti itu dgn alasan seperti itu juga.....oh no....seolah saya tidak percaya Tuhan dan rancanganNya.

    End.........

  • 2 Mei 2016

    YUDI139 tulis:

    Living happily without children, thought?

    Saya menangkap bro Yudi ini orang yg bertanggungjawab.

    Saya ada rekan kerja orang jepang. Ya, di sana pertumbuhan penduduknya sudah sangat lambat. Bukan karena para pasangan sibuk bekerja, tetapi karena rasa tanggungjawab "Kalau saya bikin anak, apakah bisa membesarkannya dengan baik? Ntah itu perhatian yg cukup,  pendidikan yg layak, warisan yg bisa menjadi modalnya nanti, dsb" Untuk rasa tanggungjwab itulah mereka mengorbankan keegoisan mereka...

    Kita tahu, jepang itu negara maju. Persaingan sangat ketat. Yang tidak bisa bersaing, sering gagal paham, malas belajar hal baru, sudah pasti tersortir. Masih untung kalau punya paras cantik, bisa jadi bintang film jav. Kalau status jomblo sudah pasti tidak masuk ruang antri.

    Benar, anak itu bukan assets, bukan liabilities, dan juga bukan investasi. Anak itu titipan Tuhan.  Kalau kita ngaku takut Tuhan, maka besarkanlah anak itu dengan sebaik2nya. Sama seperti Bapa Yusuf dan Bunda Maria yg membesarkan Yesus TANPA mengharap Yesus bakal bayar balik jasa penitipan anak.

    Jasa penitipan anak, misalnya mengharap anak memelihara hari tua mereka, anak bisa jadi tenaga kerja bantu2 ortu, mengharap anak meneruskan keturunan lagi,  anak bikin mereka bangga, dst.

    Beberapa tahun ke depan, persaingan kehidupan akan sangat sengit. Hari ini orang yang bisa dapat makan tanpa pengetahuan apa pun, benar2 wajib bersyukur! Itu memang benar2 mukzizat! Bagaimana mungkin, misalnya buruh yg gaji UMR bisa hidupi keluarganya PLUS orang tuanya? Mau kasih makan omong kosong? Saya bisa bilang, UMR itu hanya cukup untuk hidup satu orang single tanpa tanggungan, dan ngga usah mimpi bisa beli rumah. Jangan coba2 sakit yg agak parah deh.

    So, menurut saya,

    Berkeluarga itu kerja sama 2 orang. Jadi bukan keinginan bro Yudi saja. Silakan diskusikan dengan pasanganya. Btw saya heran, sudah punya pacar kok masih di JK ya? Apa mau cari cwe yg sepaham? Boleh, pasti ada.

    Saya ada teman yg sudah agak berumur. Mereka baru saja menikah. Tentu sudah sangat beresiko membuat anak. Mereka bilang yg penting bisa bersama2 sambil menanti hari tua. Bukankah punya anak pun, satu hari mereka akan pergi berkeluarga, dan tinggal kami berdua lagi? O ya mereka juga punya paham anak tidak bertanggungjawab akan mengurus hari tua orang tua.

    Kalau bro sudah diskusi baik2 dgn.pasangan dan tidak ada titik temu, ya salah satu harus ngalah. Itulah JAWABAN YANG BRO CARI. Kalau ngga sepakat berarti bubaaarrr...

    Saya pribadi akan berusaha bikin anak. Dapat atau ngga, itu titipan Tuhan. Jadilah yg baik menurut Tuhan, saya akan jalani sebaik mungkin.

    Ya tentu saya akan berdoa, semoga anak saya menjadi anak yg berbakti, berguna buat sesama, elok, bisa bersaing dalam segala hal, mujur, jangan ketemu orang2 sucks, dsb yg bagus2.

    Sementara itu, drpd mikirin anak yg belum tentu punya, saya lebih mikirin di mana cari maminya. Aneh, di dunia nyata hampir selalu saya temukan istri orang, pacar org, dsb. Mudah2an yg di sini beneran jomblo semua dan bukan cwe jadi-jadian.

    2 Mei 2016 diubah oleh MUWARDY036

  • SISKA774

    2 Mei 2016

    saya pernah baca cerita/ nonton movie (antara salah satu itu, agak lupa juga), jadi seorang pengusaha muda (laki-laki) menikahi wanita yang ditemui nya di sebuah event perusahaan. Kemudian tak berapa lama pernikahan mereka, ternyata si istri begitu gembira memberitaukan kepada suami nya dia sedang hamil. Sontak, suami nya terkejut, karena dia mengaku sudah vasektomi sebelum menikah tanpa diketahui istrinya. Cerita selanjutnya tentu kita bisa tebak..

    YUDI139 tulis:

    Justru mantan selama ini ga mau diajak hidup childfree, takut lakinya selingkuh, ingin Bahkan saya mau vasektomi saja tidak boleh.

    2 Mei 2016 diubah oleh SISKA774

  • YUDI139

    2 Mei 2016

    DONY531 tulis:

    Tambah ga jelas bro. Analoginya, di awal bro bilang "A", kemudian saya bilang "A" itu ga sesuai dgn pendapat saya. Tapi kemudian bro bilang "bukan A".

    Well itu membingungkan bagi saya. Atau mgkn saya yg beda menangkapnya. Tapi ya up to u lah. Gdluck aj bro, kan bro udh tau bakal gimana akhir ceritanya. Thanks for sharing pikiran yg anti-mainstream dan terlihat ribet di forum ini.

    Bukan tidak jelas, anda mengartikan tulisan implisit secara harfiah. Itulah sebabnya anda merasa ada missed di sini.

  • YUDI139

    2 Mei 2016

    LINDA299 tulis:

    Yudi139@

    Dilanjut lagi yah....

    Point2 yg saya sampaikan tuh maksud nya saya juga bersedia childfree apabila ada alasan yg logis dan tidak menentang kodrat Ilahi.

    1.klo alasan childfree tu adalah seperti yg masa yudi ungkapkan menurutku adalah sebuah masalah.Kata "egosentris" lebih cocok kyknya.sepanjang perjalanan hidup org seperti tuh segala sesuatunya berpusat pada kata "aku". Aku ingin hidup tenang,aku ingin diperhatikan 100%,aku ingin menikmati hasil kerja kerasku,aku ingin.......................tambahkan aja sendiri.

    2.pengalaman pahit/suram/terabaikan/tanpa kasih sayang di masa kecil sebetulnya lebih sering jadi penyebab hal seperti ini.ttpi bs saja keinginan seperti ini tumbuh dgn tiba2 ketika terjadi sesuatu yg membuat kekuatiran/ketakutan akan dimasa depan dgn segala tetekbengeknya.

    3.suatu hari kita dan pasangan akan menjadi tua dan lemah.siapakah yg akan menghargai dan menyayangi org yg sudah tua?suster2 cantik?hello.........klo kamu sudah tua dan dirawat suster cantik tpi tdk ada yg bertanggung jawab atas kehadiran para suster tuh ga bakal lama kamu pasti di sianidakan.sifat org yg sudah tua tuh bawelnya minta ampun krn tua akan menjadi pikun dan yakinlah merawat org pikun tuh butuh kesabaran yg luar biasa .(pengalaman merawat ibu sepupu ayah) bisa ga kamu bayangin saat sudah tua kencing dan buang air besar di tempat tidur.sklipun pakai popok dewasa ttp aja yg rawat harus sentuh kotoran yg bau.yakin suster cantik dgn senang hati setiap hari membersihkan kotoranmu dgn kasihsayang,kesabaran....prikitew bgt tuh suster cantik.klo bukan anak apakah kamu bisa jamin dpt suster yg sayang sama kamu?kamu tawarkan uang besar sebagai upah tdk akan menjamin.yg ada tetaplah makan hati sampai kamu berharap cepat2 DO dri dunia ni.

    4.segala sesuatunya menurutku ttp kembali pada kehendak Tuhan.ada yg diizinkan punya anak dan ada yg tidak.ttpi untuk semua itu Tuhan sudah punya rancangan sendiri.jika seandainya pun anda tidak menginginkan kehadiran anak dlm masa depanmu gantilah alasannya.alasan itu bisa diganti setelah kepahitan itu dihilangkan.

    5.semua org blh punya pendapat dan impian mengenai kehidupannya masing2.tpi aq menentang pendapatmu bagi diriku krn jika aq merancangkan hidup seperti itu dgn alasan seperti itu juga.....oh no....seolah saya tidak percaya Tuhan dan rancanganNya.

    End.........

    Ok perbedaan pendapat yang mengagumkan, really appreciate it.

    Ada 2 jenis orang yang dianggap egosentris :

    1. Orang egosentris karena tidak kenal dirinya.

    2. Orang egosentris karena kenal dirinya.

    Saya jenis orang introvert, saya sudah tekankan bahwa saya tahu tujuan hidup saya di dunia ini, dan saya tahu betul kalau mengasuh, merawat, dan membesarkan anak bukanlah untuk saya, tentu dengan alasan yang panjang jika dijabarkan.

    Salah 1 contoh mudah saja, saya kalau kerja mikirnya keras, energi mental terkuras habis, selain itu telinga sensitif, suka ketenangan. Anak kecil konteks balita, tidak akan mengerti itu.

    Itu baru 1 contoh, tentu ada solusi setiap masalah, tetapi kembali lagi mari kita pikirkan, hapus sumber masalah internal, atau buat masalah lalu selesaikan, begitu dst? Setiap orang punya pilihan berbeda dalam hal ini.

    Semua orang pasti akan menjadi tua dan lemah, kemudian mati, anda tidak perlu bingung siapa yang akan merawat anda di masa tua, umur tidak ada yang tahu, saya rasa suster cantik standar rs internasional ada rasa humanisme, dan mereka tidak akan setega menelantarkan, kan kita sama2 bicara probabilitas nih ya, anak menelantarkan orang tua? Ada. Suster menelantarkan orang tua? Ada. Bedanya di mana? Suster bisa diganti, anak tidak bisa diganti. Saya lebih percaya probabilitas menemukan suster yang care dengan kita melalui yayasan sosial lebih besar daripada anak merawat orang tua, dan rela mengesampingkan everything in his or her life (family, wife, husband) for their parents.

    Ada orang tidak bisa punya anak karena mandul, lalu apakah ketika tua nanti mereka akan terlantar seperti anggapan anda di point sebelumnya? Wah kalau begitu tidak adil sekali dong bagi yang childless jika seperti itu dan di sini kita bisa temukan kontradiksi yang ekstrem dari apa yang telah anda kemukakan. Hehehe. Dan kenyataannya dari sini terbukti bahwa punya anak atau tidak adalah pilihan hidup.

    Berbeda pendapat sah2 saja, justru diskusi yang baik akan lebih memuaskan hati. Hehehe. Tuhan beri manusia hak istimewa di dalam kehidupan, itu yang membedakan manusia dengan binatang bukan? Manusia berhak memilih, seperti anda memilih mau berbuat dosa atau tidak begitu juga kehidupan seperti apa yang anda mau jalani, itu bisa dan tergantung pilihan anda, dan setiap pilihan tentu ada konsekuensinya. Itu semua kembali ke pilihan masing2 sesuai wisdom masing2 individu.

    2 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • YUDI139

    2 Mei 2016

    MUWARDY036 tulis:

    Saya menangkap bro Yudi ini orang yg bertanggungjawab.

    Saya ada rekan kerja orang jepang. Ya, di sana pertumbuhan penduduknya sudah sangat lambat. Bukan karena para pasangan sibuk bekerja, tetapi karena rasa tanggungjawab "Kalau saya bikin anak, apakah bisa membesarkannya dengan baik? Ntah itu perhatian yg cukup,  pendidikan yg layak, warisan yg bisa menjadi modalnya nanti, dsb" Untuk rasa tanggungjwab itulah mereka mengorbankan keegoisan mereka...

    Kita tahu, jepang itu negara maju. Persaingan sangat ketat. Yang tidak bisa bersaing, sering gagal paham, malas belajar hal baru, sudah pasti tersortir. Masih untung kalau punya paras cantik, bisa jadi bintang film jav. Kalau status jomblo sudah pasti tidak masuk ruang antri.

    Benar, anak itu bukan assets, bukan liabilities, dan juga bukan investasi. Anak itu titipan Tuhan.  Kalau kita ngaku takut Tuhan, maka besarkanlah anak itu dengan sebaik2nya. Sama seperti Bapa Yusuf dan Bunda Maria yg membesarkan Yesus TANPA mengharap Yesus bakal bayar balik jasa penitipan anak.

    Jasa penitipan anak, misalnya mengharap anak memelihara hari tua mereka, anak bisa jadi tenaga kerja bantu2 ortu, mengharap anak meneruskan keturunan lagi,  anak bikin mereka bangga, dst.

    Beberapa tahun ke depan, persaingan kehidupan akan sangat sengit. Hari ini orang yang bisa dapat makan tanpa pengetahuan apa pun, benar2 wajib bersyukur! Itu memang benar2 mukzizat! Bagaimana mungkin, misalnya buruh yg gaji UMR bisa hidupi keluarganya PLUS orang tuanya? Mau kasih makan omong kosong? Saya bisa bilang, UMR itu hanya cukup untuk hidup satu orang single tanpa tanggungan, dan ngga usah mimpi bisa beli rumah. Jangan coba2 sakit yg agak parah deh.

    So, menurut saya,

    Berkeluarga itu kerja sama 2 orang. Jadi bukan keinginan bro Yudi saja. Silakan diskusikan dengan pasanganya. Btw saya heran, sudah punya pacar kok masih di JK ya? Apa mau cari cwe yg sepaham? Boleh, pasti ada.

    Saya ada teman yg sudah agak berumur. Mereka baru saja menikah. Tentu sudah sangat beresiko membuat anak. Mereka bilang yg penting bisa bersama2 sambil menanti hari tua. Bukankah punya anak pun, satu hari mereka akan pergi berkeluarga, dan tinggal kami berdua lagi? O ya mereka juga punya paham anak tidak bertanggungjawab akan mengurus hari tua orang tua.

    Kalau bro sudah diskusi baik2 dgn.pasangan dan tidak ada titik temu, ya salah satu harus ngalah. Itulah JAWABAN YANG BRO CARI. Kalau ngga sepakat berarti bubaaarrr...

    Saya pribadi akan berusaha bikin anak. Dapat atau ngga, itu titipan Tuhan. Jadilah yg baik menurut Tuhan, saya akan jalani sebaik mungkin.

    Ya tentu saya akan berdoa, semoga anak saya menjadi anak yg berbakti, berguna buat sesama, elok, bisa bersaing dalam segala hal, mujur, jangan ketemu orang2 sucks, dsb yg bagus2.

    Sementara itu, drpd mikirin anak yg belum tentu punya, saya lebih mikirin di mana cari maminya. Aneh, di dunia nyata hampir selalu saya temukan istri orang, pacar org, dsb. Mudah2an yg di sini beneran jomblo semua dan bukan cwe jadi-jadian.

    Ini dia, impressive. Bukan punya pacar, tapi mantan bro, saya sudah bubar baik2. No hurt feeling dengan mantan pacar. Hehehe.

    Salah 1 alasan saya karena tanggung jawab, terhadap pekerjaan, terhadap karyawan karyawati, calon istri nanti, orang tua. Dan itu saya sadar diri kapasitas diri saya, makanya saya tidak egois untuk memiliki anak dan mengorbankan aspek lain yang sudah berjalan. (Kan belum ada anak ya).

    Mengapa justru orang seperti saya mengatakan orang yang punya anak egois, jika model mikirnya kumaha engkeh, dipikir karo mlaku, semua sesuai kehendak yang di atas. Hati2 loh pola pikir seperti ini sangat2 menyesatkan. Kenapa? Sesuai ayat alkitab kan berharap dan berdoa. Lalu? Ya bekerja, usaha dong. Makanya ada istilah do the best and let god do the rests.

    Nah jangan lupa kita hidup di dunia nyata, namanya gaji, penghasilan, dan masalah finansial itu semua sumbernya dari SDM dan kinerja anda, ada yang bilang kerja harus keras, ada yang bilang kerja harus cerdas. Intinya sama, bekerja dan berusaha tentunya sambil berdoa. Jangan berpangku tangan menyerahkan apa2 ke Tuhan, itu maaf saya katakan agak kasar, pola pikir orang malas, atau menyerah dalam menghadapi kehidupan. Anda tidak akan ke mana2 dan tidak akan menciptakan sesuatu apapun jika seperti itu mindsetnya.

    Benar memang sangat naif jika anak dianggap sebagai investasi hari tua.

    Saya sudah berpikir sangat jauh ke depan, dan sampai pada kesimpulan childfree bagi saya is a must, suatu keharusan.

    2 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • 2 Mei 2016

    Tadinya saya sudah selesai dgn pembahasan ini tpi,ketika anda membahas mengenai ketidak adilan bagi yg childless karena mandul,saya ga mau pernyataan itu buat org lain jadi tersinggung.topik bahasan kita disini

    "childless dgn alasan versi Yudi139" bukan  versi mandul.(tdk begitu suka dgn jawaban2 bernuansa ngelessss).....

    Jika Tuhan menentukan seseorang tidak memiliki anak,Tuhan sudah punya rancangan masa depan untuk masa tuanya nanti.tapi jika kamu yg merancangkan untuk tidak punya anak,kamulah yg merancangkan masa depanmu.

    Ga usah di bls komen saya dgn membuat cabang baru dari topik.jalur kereta api aja biar cepat sampe di stasion..........

  • YUDI139

    3 Mei 2016

    LINDA299 tulis:

    Tadinya saya sudah selesai dgn pembahasan ini tpi,ketika anda membahas mengenai ketidak adilan bagi yg childless karena mandul,saya ga mau pernyataan itu buat org lain jadi tersinggung.topik bahasan kita disini

    "childless dgn alasan versi Yudi139" bukan  versi mandul.(tdk begitu suka dgn jawaban2 bernuansa ngelessss).....

    Jika Tuhan menentukan seseorang tidak memiliki anak,Tuhan sudah punya rancangan masa depan untuk masa tuanya nanti.tapi jika kamu yg merancangkan untuk tidak punya anak,kamulah yg merancangkan masa depanmu.

    Ga usah di bls komen saya dgn membuat cabang baru dari topik.jalur kereta api aja biar cepat sampe di stasion..........

    Hmmm, ngeles di mana? Andalah yang salah mengerti arti childless dan arti childfree.

    2 kata itu berbeda arti. Silahkan anda cari tahu dulu. Tuhan merancang masa depan, lalu kita manusia tetap jangan lupakan usaha. Saya tidak buat cabang baru dan keluar topik mbak Linda.

    Punya anak atau tidak itu pilihan, Kenyataan kan manusia punya akal budi untuk memilih, dan setiap orang merasa benar menurut pandangan mereka masing2. Hingga suatu saat kelogisan menyadarkan mereka, ya sebuah logika, pikiran logis bagaimana alam semesta berjalan.

    Anda lihat realita dahulu dari kehidupan kita masing2 saja, marilah introspeksi, mengapa hidup setiap orang berbeda? Ya karena mereka bebas memilih, sesuai wisdom n knowledges masing2.

    Pahit manis hidup itu sekarang itu kan karena pilihan kita di masa lalu dan perbuatan kita di masa lalu.

    Nah yang bisa dijalani hanya masa depan (belum terjadi), dan kita hidup di masa sekarang. Maka pilihlah dengan penuh pertimbangan karena pilihan sekarang dalam segala aspek itulah masa depan kita nanti. Walau kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi setidaknya kita kan bisa berusaha di masa sekarang.

    Anda 3x prejudice saya loh dalam setiap posting anda :

    1. Orang aneh, hidup langsung dewasa.

    2. Saya sok merancang masa depan saya, jadi Tuhan tidak bakal buat rencana dan rancanganNya kepada hidup saya.

    3. Ngeles. Dan anda menganggap saya kepahitan.

    Cobalah perluas pola pikir dahulu. Saya rasa sudah sangat jelas, hidup kita masing2, planninglah dengan wisdom n knowledges masing2. Seperti malam ini anda membuat menu makanan untuk besok, tentu anda rencanakan sendiri kan menunya, bukan terus wah karena saya rencanakan sendiri nanti Tuhan tidak mau rencanakan makanan yang akan saya makan besok.

    End di sini ya hehehe, terima kasih untuk pendapatnya.

    3 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • MARIAYAA772

    3 Mei 2016

    merinding baca nya..

    saya jadi ngebanyangin kalo postingan bro yudi ini keluar dr mulut mama papa saya, bisa nangis kejer mgkn.

    saya malah pengen banget punya anak ... memang nanti bisa jadi gendut, kurang tidur atau miskin ... saya ga tau ... tapi saya mau ada dalam proses itu ..

    tp memang benar sih, semua itu pilihan ... saya jadi inget salah satu serial tv kesukaan saya dulu "sex and the city" dimana dua karakter yang berbeda aliran bgt,, yaap samantha dan charlotte, yg 1 keras bgt pengen pny anak banyak krn mnrt dia menyenangkan dan berharga bgt sebuah keluarga ... yg 1 lg hidup independent dan mencintai  kehidupan yg sudah dimiliki tanpa harus menikah dan menambah anak ...

    semua org bebas menentukan jalan kebahagiaan nya sih... saya malah penasaran sm bro yudi ini... waktu nulis, apa ya yg ada dipikirannya?

    emg ada negara yg ada filosofi child free ya?

    nambah ilmu jg ini yaah ...

  • 3 Mei 2016

    Tadi waktu mau makan malam, saya mengalami hal yg saya anggap inspiratif dan mungkin analog dengan case ini.

    Si penjual makanan, begitu peduli dengan selera saya. Pertanyaannya cukup banyak sambil memasak "Pedes ngga? Pake bawang? Pake vetsin gga? Mau jeroan? Dagingnya campur saja yaa..."

    Saya tidak sebel. Cuma saya mau ambil SATU jawaban yg bisa dipakai lain kali, supaya dia tidak perlu cape menanyakan selera saya.

    Dan sekarang saya sudah dapatkan jawabannya, yaitu "Saya tidak bermasalah dengan apapun yang mau (Tuhan) kasih ke saya... Makin banyak makin baik. Saya hanya khawatir kalau (Tuhan) berikan kurang!

    So, sebagai masukan saja bro, tidak perlu dipikirin, hanya perlu dijalanin: Janganlah buru2 divasektomi (dikurangi) padahal Tuhan sudah memberikannya... Jangan2 sakti lagi... Jangan2 Tuhan memberi kelebihan: sekali kena setetes bisa bengkak 9 bulan ya...

    Dan.... kalau bener mau vasektomi, gga usah ngomong2 ke cwe nya... hahaaaa... Silakan bisa banyak cwe yg ribut nih...hahaaaa....

  • DONY531

    3 Mei 2016

    YUDI139 tulis:

    Bukan tidak jelas, anda mengartikan tulisan implisit secara harfiah. Itulah sebabnya anda merasa ada missed di sini.

    Justru karna pemikiran anda ini unik (dan nyeleneh/antimainstream) di forum ini, jadinya gak jelas. Coba aj anda pilah2 komen org2 kebanyakan disini, lbh bnyk yg pro atau kontra dgn anda? Klo memang bnyk yg kontra, belum tentu juga paradigma anda salah, kan ini hanya diskusi ttg "pilihan" jalan yg akan anda tempuh bro, bukan untuk menghakimi siapapun.

  • YUDI139

    3 Mei 2016

    MARIAYAA772 tulis:

    merinding baca nya..

    saya jadi ngebanyangin kalo postingan bro yudi ini keluar dr mulut mama papa saya, bisa nangis kejer mgkn.

    saya malah pengen banget punya anak ... memang nanti bisa jadi gendut, kurang tidur atau miskin ... saya ga tau ... tapi saya mau ada dalam proses itu ..

    tp memang benar sih, semua itu pilihan ... saya jadi inget salah satu serial tv kesukaan saya dulu "sex and the city" dimana dua karakter yang berbeda aliran bgt,, yaap samantha dan charlotte, yg 1 keras bgt pengen pny anak banyak krn mnrt dia menyenangkan dan berharga bgt sebuah keluarga ... yg 1 lg hidup independent dan mencintai  kehidupan yg sudah dimiliki tanpa harus menikah dan menambah anak ...

    semua org bebas menentukan jalan kebahagiaan nya sih... saya malah penasaran sm bro yudi ini... waktu nulis, apa ya yg ada dipikirannya?

    emg ada negara yg ada filosofi child free ya?

    nambah ilmu jg ini yaah ...

    Pola pikir seperti ini wajar sekali, anda coba google saja untuk tambah wawasan. Jika anda suka anak, dan mau memilikinya ya silahkan, berdoa supaya anak sehat, baik, lengkap jasmani saat hadir ke dunia melalui rahim anda, Lalu didiklah dengan baik sesuai harapan anda.

    Di sini anda memilih ada dalam proses itu, maka berbahagialah dengan anakmu kelak. Hehehe.

    3 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • YUDI139

    3 Mei 2016

    MUWARDY036 tulis:

    Tadi waktu mau makan malam, saya mengalami hal yg saya anggap inspiratif dan mungkin analog dengan case ini.

    Si penjual makanan, begitu peduli dengan selera saya. Pertanyaannya cukup banyak sambil memasak "Pedes ngga? Pake bawang? Pake vetsin gga? Mau jeroan? Dagingnya campur saja yaa..."

    Saya tidak sebel. Cuma saya mau ambil SATU jawaban yg bisa dipakai lain kali, supaya dia tidak perlu cape menanyakan selera saya.

    Dan sekarang saya sudah dapatkan jawabannya, yaitu "Saya tidak bermasalah dengan apapun yang mau (Tuhan) kasih ke saya... Makin banyak makin baik. Saya hanya khawatir kalau (Tuhan) berikan kurang!

    So, sebagai masukan saja bro, tidak perlu dipikirin, hanya perlu dijalanin: Janganlah buru2 divasektomi (dikurangi) padahal Tuhan sudah memberikannya... Jangan2 sakti lagi... Jangan2 Tuhan memberi kelebihan: sekali kena setetes bisa bengkak 9 bulan ya...

    Dan.... kalau bener mau vasektomi, gga usah ngomong2 ke cwe nya... hahaaaa... Silakan bisa banyak cwe yg ribut nih...hahaaaa....

    Terima kasih atas masukan dan sarannya. Saya memang diskusikan dengan calon pasangan supaya jelas di depan, seperti ini loh kehidupan yang aku mau, lalu apa kamu sevisi? Jika ya, mari menikah, berbahagia, bertanggung jawab dunia dan akhirat. Hehehe.

  • MARIAYAA772

    3 Mei 2016

    sebelum baca ini, saya bahkan ga kepikiran untuk nanti nya nanya calon pasangan saya, apa arti "anak" buat dia?

    bisakah nnti pny anak dan ikhlas membesarkan nya?

    huuff huuff huuff ...

    nanti kalo ada, saya tanyain deh ...

  • YUDI139

    3 Mei 2016

    MARIAYAA772 tulis:

    sebelum baca ini, saya bahkan ga kepikiran untuk nanti nya nanya calon pasangan saya, apa arti "anak" buat dia?

    bisakah nnti pny anak dan ikhlas membesarkan nya?

    huuff huuff huuff ...

    nanti kalo ada, saya tanyain deh ...

    Tidak semua orang bisa menjabarkan secara spesifik tapi anda bisa bertanya lebih detail untuk mengenal dirinya dan menyelami pola pikirnya. Mungkin yang keluar adalah jawaban klise, loh gitu aja kok tanya, nikah ya jelas untuk punya anak dong, meneruskan keturunan.

    Keturunan yang seperti apa? Apa yang mau diturunkan? Coba tanya lebih spesifik lagi.

    Tapi ini menarik untuk anda tanyakan, jika berkenan nanti share ya apa jawaban calon pasangan anda. Hehehe.

  • 3 Mei 2016

    ANDAIKAN AKU MENJADI....

    Andaikan aku menjadi bro Yudi... dan Maria ya ya ya jadi calonku...

    Maria: Yang, saya mau punya anak yg banyak... pokoknya kayak kelinci deh, tiap tahun nambah 1 ya....

    Yudi: Boleh Beb... kita bikin ultahnya sama semua ya... Jadi gga repot mesti rencanain ultah satu per satu tiap bbrp minggu...

    Maria: Lho bagaimana caranya?

    Yudi: Sini saya ajarin.. deket sini doong Beb... hamil kan 9 bulan 10 hari kira2... apalg jaman sekarang bisa sesar, jd kita bisa nentuin tanggal lahir sendiri.. nah, istirahat 2 bulan 20 hari, kan genap setahun tuh.. nah, saat itu kita cetak lagi....

    Maria: Ohhh Ayang pinter deh.. asyik boleh boleh.... Tapi Ayang gga berencana vasektomi lagi kan?

    Yudi: Iya lah Beb... Ayang gga akan vasektomi lagi (soalnya sudah)

    hahaaaa.... pisss....

  • YUDI139

    3 Mei 2016

    MEY072 tulis:

    Ya klo sekedar cari tambahan wawasan ttg alkitab dan Tuhan Yesus scr pribadi itu bagus jg mas, cm khn bersekutu dalam kelompok gereja itu khn beda ya.. Example jika bergereja setdknya kita bs sharing dan terlibat dalam perselutuan.. Saling menguatkan satu sama laen scr real ya..

    Klo streaming kdg pemahaman akan kotbah yg kita dengarkan sebatas dr pemikiran kita yg bs dpt tp jika bersekutu scr kelompok khn lbh variatif..

    Khn kita makhluk sosial, ga selamanya kita ngendon di dumay saja sometimes kita butuh realnya jg, bnr khn mas..

    Trus utk pengalaman hdp memang bnr kita bs dpt sharingan dr org laen tanpa perlu kita ngalamin.. Cm kdgkala kita tanpa sengaja ngalamin kejadian ato problem yg sama dialamin org laen tp ketika kita ngalamin pasti refleks tiap org dlm nyelesaikan problem pasti beda2 mas..itulah namanya kita diproses..

    Kita khn diksh budipekerti sama Tuhan bt befikir, bertahan hdp dan berevolusi dlm pemikiran kita,  masa sdh tau api, sy coba jg..bahasa kasarnya sy sdh pernah jatuh disitu ko mau msk ke lubang yg sama..tp jgn slh kdg kita ngalamin hal yg berulang gitu jg khn..bkn ga preventive cm kdg kita cari yg gampang tdk mo diproses..bnr khn??

    Banyak ilmu diotak lom tentu semua org bs menuangkan dan mengaplikasikannya dlm hdp..mengalami sendiri bs terekam dlm otak dan kdg lbh mengena

    Naahh itu mas pemahaman org beda2 dlm mendapatkan pengalaman hdp..

    Btw mas Yudi tau childfree philosophy ini atas pemikiran sendiri atokah dpt inspirasi dari org terdekat ato dr mn?? Ya itu pilihan mas, sy harap tdk ada penyesalan aja apalagi vasektomi apa itu ga nyalahin kehendak Tuhan..

    Makasi mas sdh ikut sharing:)

    Gbu

    Betul sekali, tetapi lebih baik lagi jika kita sudah dapat bocoran pengalaman orang lain, kita kan jadi tahu duluan apa langkah terbaik yang harus dilakukan.

    Saya berdasarkan pemikiran sendiri.

    Untuk streaming, orang datang ke gereja, duduk diam dengar khotbah, pulang ke rumah masing2. Kalau pendeta favoritmu orang luar negeri, masa iya kita harus hadir ke gereja di negara tersebut? Hehehe. Itulah gunanya internet.

    Betul banyak ilmu belum tentu bisa mengaplikasikan, karena itu saya tidak mau waktu hidup saya yang saya fokuskan untuk self improvements ini digunakan untuk mengasuh anak. Seperti yang saya jabarkan di awal page 2, banyak hal yang belum pernah saya coba, tempat yang belum pernah saya kunjungi, ilmu pengetahuan yang belum saya ketahui, dll.

    Dunia ini luas, sedangkan waktu hidup manusia singkat, janganlah dihabiskan waktunya untuk suatu hal yang aneh seperti merawat dan mendidik anak selama 18 tahunan bahkan lebih hingga anak itu mandiri.

    Anda juga berhak dong untuk menjadi anak2 juga, ambil contoh nih ya waktu saya jalan2 ke disneyland, wuih asyik sekali, seru. Sedangkan sepupu saya yang punya anak, cuma standing di booth ice cream, dan area permainan anak under 12 years old. Itu namanya having fun? Enjoying the life? Bahkan sampe harus breast feeding adeknya yang masih balita. Ini mau ke disneyland having fun tapi esensinya jadi melenceng hehehe.

    That's not a good life in my opinion. Anggaplah itu terakhir kalinya anda bisa ke disneyland dan tidak ada kali ke 2. Wah pasti nyesel bukan main.

    3 Mei 2016 diubah oleh YUDI139

  • MARIAYAA772

    3 Mei 2016

    ahahaha ... jitakin aja nih bro muwardi ????

    complicated bgt yaak... jd keluarga matematis penuh perhitungan... wkwkw

    iya bro yudi,,, nnti kalo ud dpertemukan yaah ... kalo masih ada d web ini... kmgknan blm goal...

    hahaha

51 – 75 dari 339    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  4 ... 14  Selanjutnya Kirim tanggapan