Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Apa sih yang paling sering ditanyakan saat kenalan?

ForumPersahabatan dan hubungan

676 – 700 dari 777    Ke halaman:  Sebelumnya  1 ... 27  28  29 ... 32  Selanjutnya Kirim tanggapan

  • 10 Maret

    Pake adat Sunda krn mmhnya (kk iparku) org Sunda 😁😁

    SAURIA580 tulis:

    Jadinya pakai adat apa lagi ponakannya sis?

  • 10 Maret

    Udah funya facar belum kalo belum hayu mari facaran 😁

  • 10 Maret

    Klu aku mau pake adat mn aja g soal asal calonya ada...canda😁✋👋

    AVE856 tulis:

    Pake adat Sunda krn mmhnya (kk iparku) org Sunda 😁😁

    SAURIA580 tulis:

    Jadinya pakai adat apa lagi ponakannya sis?

  • 10 Maret

    SINTANAULI838 tulis:

    Soal biaya itu hal yg lain lagi cece.. thn 2018 yll, keponakanku dipinang dg mahar dan pesta 15jt loh sepaket, pesta jalan juga dan mereka diadati. Kurasapun, semua tradisi suku-suku di Indonesia, klu sudah bicara adat itu pasti berbiaya mahal. Pesta nikah adat Nias, atau Toraja, dll, biaya pesta (apalagi pake adat) mahal-tidaknya, tergantung status sosialnya.

    Tapi yg menjadi poin mahapenting dlm tradisi batak, itu ttg falsafah 3H yg bernilai sakral:

    1. Hamoraon = memiliki kekayaan dan banyak harta
    2. Hasangapon = memiliki kehormatan dan kemuliaan
    3. Hagabeon = memiliki keturunan/beranak cucu (keturunan disini adl anak lelaki utk menurunkan marga atw silsilah yg pernah sy jelasin sebelumnya)

    Ketiga hal inilah yg jd dasar, value dan prinsip hidup yg ingin dicapai dlm komunitas suku batak. Ketiga hal tsb mesti diaplikasikan dlm "dalihan natolu" yg adl sistem kerangka hubungan kekerabatan yg mengikat antar individu dlm suku Batak. Aku jelasin gpp ya eda.. hehe

    Yg dianggap penting utk memenuhi syarat no 1 (hamoraon/kekayaan) ini menantu laki atau perempuan? atau dua2nya?

    10 Maret diubah oleh ANITA089

  • 11 Maret

    Well itu bukan syarat kak, tapi falsafah hidup dan ketiganya 1 paket. Kayak Pancasila utk org Indonesia, kelima sila gbs berdiri sendiri. Utk mencapainya gbs hanya menantu lelaki atau hanya menantu perempuan, dan sejatinya siy mesti mendapat dukungan dari elemen ketiga kaki tungku itu.

    ANITA089 tulis:

    Yg dianggap penting utk memenuhi syarat no 1 (hamoraon/kekayaan) ini menantu laki atau perempuan? atau dua2nya?

    11 Maret diubah oleh SINTANAULI838

  • 11 Maret

    Aku rasa, klu memandang secara saklek dan harafiah 3H dlm tradisi suku Batak, pasti tada keluarga Batak yg bertahan. Spt ortuku, intervensi mertua sangat besar, mereka sempat terancam perceraian ketika anak keduanya lahir masih berkelamin perempuan.

    Abangku, lelaki pertama di keluarga, adl anak ke-4. Bisa kebayang kan, brp tahun mamaku mencoba bertahan menanggung penderitaan?! Blm lg tekanan psikis krn was was menyambut kelahiran anak keempatnya itu.

    Padahal yg menentukan jenis kelamin anak kan sperma lelaki toh, perempuan cuma punya sel telur. Cmiiw.. 😆

    Lalu dlm hal kekayaan juga, klu dipandang hanya melulu dlm konteks material, azab lah. Pasti berantem terus. Jadi, the last but not least dari falsafah 3H itu, yg bisa diandalkan sekalipun sekiranya miskin dan tanpa anak lelaki, adl kehormatan dg menjaga keutuhan rumah tangga, with all its cost and whatever the pain, itulah yg mjd keputusan mamaku wkt itu.

    Aku anak kelima dan anak kesayangan bapak, hahaha.. ☺

    11 Maret diubah oleh SINTANAULI838

  • 11 Maret

    Udah posting disini.... #colek SAURIA580

    SINTANAULI838 tulis:

    Masama 🙏🏼

    Salam kenal..

    panggilannya Etti? Boru apa?

    Aku boru Tambunan Pagaraji

  • 11 Maret

    Kita patut bersyukur masuknya Injil ke tanah Batak menjadikan filosofi 3 H itu bisa diminimalisir. Bagi org batak totok yg sgt konservatif dg 3 H ini, ya case seperti ortu sist ini sering terjadi. Aplg, tuntutan hrs pya anak laki2.

    Di kampungku ada lho... dia sdh pya anak perempuan 3 apa 4 lupa, lalu hamil lg. Pas lahiran di tanya laki-laki atau perempuan. Pas dikasih tau perempuan langsung mati.

    Kasihan bayi perempuan tsb akhirnya dirawat/diasuh oleh kk perempuannya yg sdh menikah tapi ga pya anak.

    Untungnya di keluargaku tdk memberlakukan hal seperti itu secara ketat. Usaha seh silahkan utk bisa kaya/hamoraon, utk bisa pya anak laki-laki AKAN tetapi jika Tidak punya anak laki-laki tdk langsung disuruh bercerai. Atau kl ga kaya2 udh usaha ya sdh diterima dan disyukuri aja.

    Di kel ku seh, semua pya anak laki-laki. Puji Tuhan, ga ada masalah. Tapi, aku pya ponakan udh nikah hampir 5 thn (kbtln dia cucu panggoaran Bapakku)  sampe hari ini blm pya anak. Tapi kami ga pernah nyuruh2 dia biar cepat punya anak aplg suruh ceraikan istrinya. Jauh2 dech. Itu dosa besar. Sedikasih Tuhan aja. Yg ptg jd orang yg baik. RTnya rukun dan harmonis. Takut akn Tuhan. Jgn sombong, bisa membaur dg kel besar. Bagi kami itu sdh cukup.

    Anak itu rejeki dari Tuhan. Kl dikasih bersyukur kl ga RT terus berjalan. Ingat janji dihadapan Tuhan pas nikah sehidup semati.

    Di kel sepupu byk yg ga pya anak laki tapi mereka tetap hidup rukun dan bahagia. Ga ada tekanan utk terus diusahakan hamil agar punya anak laki.

    Sampai ada yg buat lelucon kl ada yg suka usil nanyain. Menantuku dari anak perempuanku nantinya laki kok.  Nah, menantuku itu khan anakku jg..

    Org yg usil tsb lgsg diam. Aplg, org yg dia usilin itu seorang Profesor.

    SINTANAULI838 tulis:

    Aku rasa, klu memandang secara saklek dan harafiah 3H dlm tradisi suku Batak, pasti tada keluarga Batak yg bertahan. Spt ortuku, intervensi mertua sangat besar, mereka sempat terancam perceraian ketika anak keduanya lahir masih berkelamin perempuan.

    Abangku, lelaki pertama di keluarga, adl anak ke-4. Bisa kebayang kan, brp tahun mamaku mencoba bertahan menanggung penderitaan?! Blm lg tekanan psikis krn was was menyambut kelahiran anak keempatnya itu.

    Padahal yg menentukan jenis kelamin anak kan sperma lelaki toh, perempuan cuma punya sel telur. Cmiiw.. 😆

    Lalu dlm hal kekayaan juga, klu dipandang hanya melulu dlm konteks material, azab lah. Pasti berantem terus. Satu2nya yg bisa diandalkan sekalipun sekiranya miskin dan tanpa anak lelaki, adl kehormatan dg menjaga keutuhan rumah tangga, with all its cost and whatever the pain, itulah yg mjd keputusan mamaku wkt itu.

    Aku anak kelima dan anak kesayangan bapak, hahaha.. ☺

  • 11 Maret

    Karena orang tua zaman dulu mana taulah mereka kalau kromosom wanita XX dan pria XY dan yang berperan ngasi kromosom Y adalah pria. keekekeke....

    Puji Tuhan di keluarga bapak dan mamak nga saklek nuntut harus anak laki-laki. Apalagi sampai nyuruh cerai. Haram hukumnya. Hehehe...

    Meski harusnya aku adalah pembawa nama opung (bapak si sulung), tp karena aku wanita sementara anak uda ku (adek laki-laki dari bapak) punya anak sulung pria, tp tetap panggilan dari namaku dibawa. So opungku itu digelari Op si YY Napitupulu / XX Napitupulu. YY adalah nama abang sepupu dan XX nama aku. YY aku panggil abang karena sesuai usia dia lebih tua.  

    SINTANAULI838 tulis:

    Aku rasa, klu memandang secara saklek dan harafiah 3H dlm tradisi suku Batak, pasti tada keluarga Batak yg bertahan. Spt ortuku, intervensi mertua sangat besar, mereka sempat terancam perceraian ketika anak keduanya lahir masih berkelamin perempuan.

    Abangku, lelaki pertama di keluarga, adl anak ke-4. Bisa kebayang kan, brp tahun mamaku mencoba bertahan menanggung penderitaan?! Blm lg tekanan psikis krn was was menyambut kelahiran anak keempatnya itu.

    Padahal yg menentukan jenis kelamin anak kan sperma lelaki toh, perempuan cuma punya sel telur. Cmiiw.. 😆

    Lalu dlm hal kekayaan juga, klu dipandang hanya melulu dlm konteks material, azab lah. Pasti berantem terus. Jadi, the last but not least dari falsafah 3H itu, yg bisa diandalkan sekalipun sekiranya miskin dan tanpa anak lelaki, adl kehormatan dg menjaga keutuhan rumah tangga, with all its cost and whatever the pain, itulah yg mjd keputusan mamaku wkt itu.

    Aku anak kelima dan anak kesayangan bapak, hahaha.. ☺

  • 11 Maret

    Oh ia bisa Ria?

    Aku baru tau. Setauku panggilan oppungmu de lgsg pake nama itomu yg dari anak amang udamu itu.

    Btw, oppung ria msh ada atau sdh meninggal?

    aku pengen tau di nisan nya di tulis gimana? atau kl lg adat pesta adat apa sebutannya tetap 2 kyk yg ria sebutkan?

    Seru jg ya pembahasan kita ini? Aku jg sambil belajar. Maklum aku batak tembak langsung, jd krg paham adat batak.

    Bikin lah Ria, treat ttg ini. Biar kita ga OOT

    SAURIA580 tulis:

    Karena orang tua zaman dulu mana taulah mereka kalau kromosom wanita XX dan pria XY dan yang berperan ngasi kromosom Y adalah pria. keekekeke....

    Puji Tuhan di keluarga bapak dan mamak nga saklek nuntut harus anak laki-laki. Apalagi sampai nyuruh cerai. Haram hukumnya. Hehehe...

    Meski harusnya aku adalah pembawa nama opung (bapak si sulung), tp karena aku wanita sementara anak uda ku (adek laki-laki dari bapak) punya anak sulung pria, tp tetap panggilan dari namaku dibawa. So opungku itu digelari Op si YY Napitupulu / XX Napitupulu. YY adalah nama abang sepupu dan XX nama aku. YY aku panggil abang karena sesuai usia dia lebih tua.  

  • 11 Maret

    Sudah meninggal semua opung doli (laki), opung boru (perempuan) baik dari bapak dan mamak.

    Nisan kuburan Op. YY / XX seperti yang sudah saya sebutkan di atas sebelumnya. Dan juga tugu di kampung kami.

    Waktu opung boru dari bapak (inong nya bapak) masih hidup ya dua2 nama itu disebutkan.

    Waduh jangan saya lah. Udah beberapa kali bikin thread saya. Dan masih kurang mumpunin untuk bahas paradaton (adat), seharusnya yang bikin itu kakak dan kak @Sintanauli. Secara kalian kutengok udah master dari paradaton. Kalau awak masih tahapan marsiajar (belajar). ;-):-)

    ECHY268 tulis:

    Btw, oppung ria msh ada atau sdh meninggal?

    aku pengen tau di nisan nya di tulis gimana? atau kl lg adat pesta adat apa sebutannya tetap 2 kyk yg ria sebutkan?

    Bikin lah Ria, treat ttg ini. Biar kita ga OOT

  • 11 Maret

    Temanku jg ada sis orang batak dia prnh bilang gini "untung mertua gw udh meninggal 2-2nya, kalo ngga mah laki gw disuruh kawin lg krn anak gw 2-2nya cewek".

    Bersyukurlah keluarga sis adalah batak modern bkn tradisional. Kdng saya jg pnya kekuatiran loh andai berjodoh dgn pria batak. Takutnya perkara anak jd masalah besar.

    Tapi mama saya yg bkn batak jg lebih suka anak lelaki tuh. Untungnya dari pihak papa (entah genetik atau bukan) kebanyakan lelakinya drpd perempuannya. Saya pribadi malah lebih suka anak perempuan😁  

    ECHY268 tulis:

    Kita patut bersyukur masuknya Injil ke tanah Batak menjadikan filosofi 3 H itu bisa diminimalisir. Bagi org batak totok yg sgt konservatif dg 3 H ini, ya case seperti ortu sist ini sering terjadi. Aplg, tuntutan hrs pya anak laki2.

  • 11 Maret

    Whats up gals... emangnya mw bikin thread opo siiiiy iki? 😊🧐🧐🧐

    SAURIA580 tulis:

    Sudah meninggal semua opung doli (laki), opung boru (perempuan) baik dari bapak dan mamak.

    Nisan kuburan Op. YY / XX seperti yang sudah saya sebutkan di atas sebelumnya. Dan juga tugu di kampung kami.

    Waktu opung boru dari bapak (inong nya bapak) masih hidup ya dua2 nama itu disebutkan.

    Waduh jangan saya lah. Udah beberapa kali bikin thread saya. Dan masih kurang mumpunin untuk bahas paradaton (adat), seharusnya yang bikin itu kakak dan kak @Sintanauli. Secara kalian kutengok udah master dari paradaton. Kalau awak masih tahapan marsiajar (belajar). ;-):-)

  • 11 Maret

    CHRISTIAN701 tulis:

    namanya juga kenalan kalau ga mau terlihat pribadi dan sebagainya ya tidak usah kenalan. coba cari tahu definisi kenalan itu apa.

    iyap wkk

  • 11 Maret

    biasanya sih aku tanya sosial medianya, kehidupan sosial media bisa menjadi sedikit gambaran kehidupan dia sehari². terus tanya aktivitasnya, hobi, coba buka obrolan tentang buku atau film, disitu bisa terlihat pengetahuan dia sampe mana wkk.. nyambung engga gitu, hehe

  • 11 Maret

    Bagi ethnic yang masih memegang sistem patriarkis, mereka itu memiliki kecendrungan agar memiliki anak laki-laki karena akan meneruskan keturunan / marga / fam di keluarganya.  

    Nah masalahnya ada yang masih kudu dan wajib punya anak laki-laki sehingga ada kemungkinan bercerai jika tidak memilikinya, cari istri yang bisa kasi anak laki-laki. Nah yang ini tidak mengetahui tentang kromosom tadi. Tp kalau sudah tidak memegang prinsip kewajiban tadi, ya masa harus bercerai atau buka cabang lagi demi mendapatkan anak laki-laki. Yasudah sekasinya Tuhan saja.

    YANAH637 tulis:

    Temanku jg ada sis orang batak dia prnh bilang gini "untung mertua gw udh meninggal 2-2nya, kalo ngga mah laki gw disuruh kawin lg krn anak gw 2-2nya cewek".

    Bersyukurlah keluarga sis adalah batak modern bkn tradisional. Kdng saya jg pnya kekuatiran loh andai berjodoh dgn pria batak. Takutnya perkara anak jd masalah besar.

    Tapi mama saya yg bkn batak jg lebih suka anak lelaki tuh. Untungnya dari pihak papa (entah genetik atau bukan) kebanyakan lelakinya drpd perempuannya. Saya pribadi malah lebih suka anak perempuan😁  

    ECHY268 tulis:

    Kita patut bersyukur masuknya Injil ke tanah Batak menjadikan filosofi 3 H itu bisa diminimalisir. Bagi org batak totok yg sgt konservatif dg 3 H ini, ya case seperti ortu sist ini sering terjadi. Aplg, tuntutan hrs pya anak laki2.

  • 11 Maret

    Tuh si kak Echy maunya bahas topik ini di thread terpisah, spy tidak OOT. Tp nyuruh² orang. Ngga mau dianya yg bikin. Wkwkwkk😀😁😂

    SINTANAULI838 tulis:

    Whats up gals... emangnya mw bikin thread opo siiiiy iki? 😊🧐🧐🧐

  • 11 Maret

    aku ud nemu nih threadnya di THREAD Batak Dream: Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon di folder campur campur. there was talked all about the bataknese origin... :-D

    Tuh si kak Echy maunya bahas topik ini di thread terpisah, spy tidak OOT. Tp nyuruh² orang. Ngga mau dianya yg bikin. Wkwkwkk😀😁😂

    11 Maret diubah oleh SINTANAULI838

  • 11 Maret

    Aku minta Sist Sauria yg bikin treat karna aku lihat kamu lbh paham ttg adat istiadat Batak dariku. Aku justru ingin belajar or mari kita sama2 belajar. Ya, kl ga mau buat ya sdh..

    😁😁

    SAURIA580 tulis:

    Tuh si kak Echy maunya bahas topik ini di thread terpisah, spy tidak OOT. Tp nyuruh² orang. Ngga mau dianya yg bikin. Wkwkwkk😀😁😂

  • 11 Maret

    SAURIA580 tulis:

    Bagi ethnic yang masih memegang sistem patriarkis, mereka itu memiliki kecendrungan agar memiliki anak laki-laki karena akan meneruskan keturunan / marga / fam di keluarganya.  

    Iya Chinese juga scr tradisi spt itu sbnrnya.

    Makanya di mainland ( RRC sono), krn jaman Deng Xiao Ping ada kebijakan" satu anak saja", sering terjadi bayi perempuan diaborsi demi mendapatkan anak cowo sbg anak satu 2nya and konon akhirnya berujung di ketimpangan populasi cowo - cewe di era skrg ( stlh bayi2 ini dewasa)

    Kalau chinese di indo, apalagi yg dr generasi X yah, kyknya udh gak terlalu mengutamakan hal ini lagi sih CMIIW

    SAURIA580 tulis:

    Nah masalahnya ada yang masih kudu dan wajib punya anak laki-laki sehingga ada kemungkinan bercerai jika tidak memilikinya, cari istri yang bisa kasi anak laki-laki. Nah yang ini tidak mengetahui tentang kromosom tadi. Tp kalau sudah tidak memegang prinsip kewajiban tadi, ya masa harus bercerai atau buka cabang lagi demi mendapatkan anak laki-laki. Yasudah sekasinya Tuhan saja.

    Tp gimana tuh dng orang tua keluarga Batak modern skrg ( yg orang tua nya lahir di era thn 60 an and 70an), apa masih memegang tradisi spt ini?

    Mereka kan rata2 harusnya udh belajar biologi di sekolahan dulu ,soal XY dan XX dan penentu jenis kelamin itu siapa?

  • 11 Maret

    warbiyasak forum ini, ikut bahas tarombo 😂

  • 11 Maret

    Amagoi amang. Udah awak bilang tempo hari masih banyak awak belajar dari kalian para master dan suhu paradaton (peradatan).😀😁😂😁😀

    ECHY268 tulis:

    Aku minta Sist Sauria yg bikin treat karna aku lihat kamu lbh paham ttg adat istiadat Batak dariku. Aku justru ingin belajar or mari kita sama2 belajar. Ya, kl ga mau buat ya sdh..

    😁😁

    11 Maret diubah oleh SAURIA580

  • 11 Maret

    Ini dari kacamata pribadi aku ya bro. Btw ngetik ini sih lg lepas kacamata. Hehehe...

    Masih ada mmng orang tua dari angkatan 60 an dan 70 an yang masih pengen anaknya itu ada yang laki-laki, untuk penerus marga / fam keturunannya. Tp udah ngga wajib / kudu / harus. Misal anak pertama, kedua perempuan maka mereka akan 'ngulek' lagi biar dapat anak laki². Contoh kakak sepupu aku. Jadi kalau sama sekali udah ngga bisa, ya berarti memang rejekinya di anak perempuan. Ndak perlu sampai diceraikan atau buka cabang dimana-mana.😀😁😂

    Tp dari keluarga bokap sih yt dari saudara sedarah beliau (berarti anaknya opung semua) hingga turunannya (cucu²), populasi jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari perempuannya. Mgkn ada ngaruh dari gen kali ya dari atas²nya.

    VINCENT012 tulis:

    Tp gimana tuh dng orang tua keluarga Batak modern skrg ( yg orang tua nya lahir di era thn 60 an and 70an), apa masih memegang tradisi spt ini?

    Mereka kan rata2 harusnya udh belajar biologi di sekolahan dulu ,soal XY dan XX dan penentu jenis kelamin itu siapa?

  • 11 Maret

    Iya niiy, maap yak. Berawal dari percakapan soalan pertanyaan saat kenalan jadi berkembang ke masalah tradisi suku.

    Sebenarnya ada thread soal bataknese, tapi JUDUL TOPIK threadnya primordial bingit: "Batak Dream: Hamoraon, Hagabeon, Hasangapon" di folder campur campur.

    Teman-teman member JK yg dari lintas budaya mungkin jadi enggan join ya. Padahal klo belajar dari diskusi di thread ini, ada juga yg tertarik bahas isu2 relationship en intrik rumahtangga dari sudut pandang tradisi bataknese.

    Sayang sekali ya... andai Admin JK bisa bantu menjembataninya.  (>.<) *sigh*

    JUNITA694 tulis:

    warbiyasak forum ini, ikut bahas tarombo 😂

    11 Maret diubah oleh SINTANAULI838

  • 11 Maret

    @koko alun alias saudara VINCENT012

    Mohon terima lah, hamba sebagai muridmu #alaAla(y)duniaPersilatan

676 – 700 dari 777    Ke halaman:  Sebelumnya  1 ... 27  28  29 ... 32  Selanjutnya Kirim tanggapan