Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Pacaran seumur hidup, mungkinkah?

ForumPersahabatan dan hubungan

51 – 75 dari 159    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  4 ... 7  Selanjutnya Kirim tanggapan

  • HENDRA877

    13 Mei

    Inimah uda kelainan namanya, klo di indonesia sepertinya mengundang kontroversi baik secara budaya maupun sosialnya. Kalau konteks aseksual seperti homo, itu pasti ada yg namanya keg seksnya. Klo lesbi jg sama, hanya saja mereka memakai alat bantu. Kalau non aseksual, mau sebagai manapun pasti ada keg seks. Karena saya pernah tinggal 1 atap dengan org macam ini, kumpul kebo. Jujur saja, menurutku prianya emang brengsek dan wanitanya emang super tolol karena mau dijadikan pelampiasan seks si pria tanpa ada ikatan yg jelas. Jika anda berkata romantisme tanpa seks, its bullshit menurut gw. Dan menurutku ini adalah gaya hidup ala ajaran setan yg di populerkan oleh bangsa barat yg memang sosialnya rendah, dan paling goblok bila ditiru orang indo yg kepengen kebarat baratan. Karena bangsa kita ini bangsa yg beradab

    [Dari admin: Shalom. Seperti email personal yang pernah kami kirimkan, kami kembali mengundang anda untuk memposting dengan kata atau kalimat yang santun. Jujur dan to the point boleh saja, akan tetapi bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik dan ramah. Demikian pengingat terakhir dari kami. Terima kasih.]

    YUDISAJA095 tulis:

    Bagi sesama aseksual sih tidak masalah, justru itu bagus, karena tidak ada hubungan seksual, ketertarikan orang aseksual pada hubungan romantis, bukan seks.

    13 Mei diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 13 Mei

    Ada beberapa hal yang perlu anda pelajari

    Mending dicari dulu aseksual itu apa, jangan langsung memberikan kesimpulan menurut diri sendiri.

    Juga lihat dulu apa pertanyaan itu sudah ditanyakan orang lain belum, biar gak perlu diulang-ulang

    Aseksual itu bukan seperti homo, aseksual juga bukan seperti lesbi, tapi memang tidak tertarik dengan seksual.

    Sebagai tambahan suatu pengalaman sendiri tidak bisa digeneralisir untuk menyimpulkan suatu istilah, istilah harus didefinisikan sesuai definisinya atau setidaknya bisa dibahasakan dengan bahasa awam tanpa keluar dari definisinya.

    Sebagai tambahan juga menurut halodoc menyebutnya bukan kelainan

    Buktinya?

    "Jadi pada dasarnya, penyebab aseksual bukanlah penyakit dan bukan kelainan. Ini adalah kondisi yang terjadi saat seseorang tidak memiliki gairah untuk melakukan hubungan intim atau menjalin hubungan dengan orang lain."

    Oh ya sebagai tambahan

    "kaum aseksual yang romantic tidak memiliki ketertarikan seksual, tetapi mereka mengalami ketertarikan romantis."

    Itu bukan bullshit tapi dari halodoc, orang-orang yang punya kompetensi yang bicara.

    Sumber : www.halodoc.com/artikel/kenapa ... i-penjelasannya

    HENDRA877 tulis:

    Inimah uda kelainan namanya, klo di indonesia sepertinya mengundang kontroversi baik secara budaya maupun sosialnya. Kalau konteks aseksual seperti homo, itu pasti ada yg namanya keg seksnya. Klo lesbi jg sama, hanya saja mereka memakai alat bantu. Kalau non aseksual, mau sebagai manapun pasti ada keg seks. Karena saya pernah tinggal 1 atap dengan org macam ini, kumpul kebo. Jujur saja, menurutku prianya emang brengsek dan wanitanya emang super tolol karena mau dijadikan pelampiasan seks si pria tanpa ada ikatan yg jelas. Jika anda berkata romantisme tanpa seks, its bullshit menurut gw. Dan menurutku ini adalah gaya hidup ala ajaran setan yg di populerkan oleh bangsa barat yg memang sosialnya rendah, dan paling goblok bila ditiru orang indo yg kepengen kebarat baratan. Karena bangsa kita ini bangsa yg beradab

    [Dari admin: Shalom. Seperti email personal yang pernah kami kirimkan, kami kembali mengundang anda untuk memposting dengan kata atau kalimat yang santun. Jujur dan to the point boleh saja, akan tetapi bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik dan ramah. Demikian pengingat terakhir dari kami. Terima kasih.]

    13 Mei diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 13 Mei

    Iya... aku jg jd googling akhirnya dan baca jg sekilas di halodoc ttg aseksual ini.

    Jika dikatakan mgkn ga pacaran seumur hidup bg sesama aseksual romantic. Jika ini ditanyakan kpd mereka, pasti mgkn. Tp kl ditanyakan kpd org normal pd umumnya kayaknya itu ga mgkn. Sama saja seperti LGBT. Kendati ditentang di negara kita, tetap aja ada  LGBT.

    Tapi secara norma agama itu ga mungkin. Agama Kristen hanya meyakini, hidup yg benar itu pria menyukai wanita dan sebaliknya. Jika saling mencintai maka disuruh menikah agar tidak melakukan zinah..

    Andaikan ada yg tdk menikah mgkn karna ga ktemu sso yg klik dihatinya. Atau karna jd pastor atau biarawati.

    Di luar dari itu pasti dianggap salah.

    Di zaman yg sdh makin merosot tajam moral manusia, begitu byk bermunculan orientasi seksual manusia yg dlm pandangan agama merupakan dosa. Jd kembali berpulang kpd masing2 orang sesuai pemahaman dia ttg agamanya saja.

    YUDISAJA095 tulis:

    Sebagai tambahan juga menurut halodoc menyebutnya bukan kelainan

    Buktinya?

    "Jadi pada dasarnya, penyebab aseksual bukanlah penyakit dan bukan kelainan. Ini adalah kondisi yang terjadi saat seseorang tidak memiliki gairah untuk melakukan hubungan intim atau menjalin hubungan dengan orang lain."

    Sumber : www.halodoc.com/artikel/kenapa ... i-penjelasannya

  • HENDRA877

    13 Mei

    Yg anda bicarakan ini pria letoy atau pria impoten atau makhluk jadi jadian, dan pertanyaannya apakah ada di indonesia.

  • HENDRA877

    13 Mei

    Setelah saya baca artikelnya, saya menarik garis besar bahwa pria atau wanitanya kebanyakan baca komik atau nonton drakor. Dan juga penelitiannya bukan di indonesia melainkan di dunia lain, jadi menurut saya org yg menulis artikel itu harus di musnahkan atau di singkirkan karena membuat org menjadi lebih gila lagi pola pikirnya.

    [Dari admin: Shalom. Seperti email personal yang pernah kami kirimkan, kami kembali mengundang anda untuk memposting dengan kata atau kalimat yang santun. Jujur dan to the point boleh saja, akan tetapi bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik dan ramah. Demikian pengingat terakhir dari kami. Terima kasih.]

    13 Mei diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 13 Mei

    Orang bebas berpendapat kursi itu meja, lampu itu tissue, kertas itu batu, suka-suka andalah, seperti anda menuliskan pria atau wanitanya kebanyakan baca komik atau nonton drakor.

    Tapi sayangnya jurnal ilmiahnya ada.

    Jurnal
    onlinelibrary.wiley.com/doi/fu ... 1111/japp.12472


    Jurnal
    www.researchgate.net/profile/A ... -It-Matters.pdf

    :-)

    HENDRA877 tulis:

    Setelah saya baca artikelnya, saya menarik garis besar bahwa pria atau wanitanya kebanyakan baca komik atau nonton drakor. Dan juga penelitiannya bukan di indonesia melainkan di dunia lain, jadi menurut saya org yg menulis artikel itu harus di musnahkan atau di singkirkan karena membuat org menjadi lebih gila lagi pola pikirnya.

    [Dari admin: Shalom. Seperti email personal yang pernah kami kirimkan, kami kembali mengundang anda untuk memposting dengan kata atau kalimat yang santun. Jujur dan to the point boleh saja, akan tetapi bisa menggunakan kata-kata yang lebih baik dan ramah. Demikian pengingat terakhir dari kami. Terima kasih.]

    13 Mei diubah oleh JODOHKRISTEN

  • 13 Mei

    Waduh

  • 13 Mei

    Mungkin saja, selama kedua pihak sepakat..dan banyak kok prakteknya di luar negeri terutama di negara maju.

    Klo di Indonesia sepettinya masih tidak umum dan biasanya mendapat pertentangan sosial.

  • HENDRA877

    13 Mei

    Mungkin saya cukup sampai dsn saja berpendapat, karena ini diluar akal sehat topiknya. Terima kasih atas ilmunya, walaupun menurutku tidak terlalu berguna.

    YUDISAJA095 tulis:

    Orang bebas berpendapat kursi itu meja, lampu itu tissue, kertas itu batu, suka-suka andalah, seperti anda menuliskan pria atau wanitanya kebanyakan baca komik atau nonton drakor.

    Tapi sayangnya jurnal ilmiahnya ada.

    Jurnal

    onlinelibrary.wiley.com/doi/fu ... 1111/japp.12472

    Jurnal

    www.researchgate.net/profile/A ... -It-Matters.pdf

    :-)

  • 13 Mei

    Jika sudah masuk jurnal ilmiah ya sudah di akal sehatlah, sudah direview, hahahahah, ada-ada saja.

    HENDRA877 tulis:

    Mungkin saya cukup sampai dsn saja berpendapat, karena ini diluar akal sehat topiknya. Terima kasih atas ilmunya, walaupun menurutku tidak terlalu berguna.

  • 13 Mei

    Mgkn sy yg akn mdaftar jd member echy268 dg ksepakatan diskon😁, tp tdk skarang soalnya sy msh butuh psgn mk nya ada di JK, mgkn lain wkt,,🤭

    ECHY268 tulis:

    Owhh... I see... I see...

    Jika di pikir2 betul jg ya..

    Kita ndak perlu susah2 hrs menikah dg segala pertetekbengean pernikahan 😁  kita ga perlu khawatir di hari tua kesepian atau terlantar karna ada 'pacar' yg akn menemani dan merawat ketika sakit.

    Klau aku lbh kpd jangan pake istilah pacar tetapi lbh kpd mendirikan suatu badan hukum sosial,

    mgkn yayasan yg bergerak dibidang pelayanan sosial utk mereka yg memilih selibat seumur hidup. Jd tdk perlu khawatir ttg hari tua. Bagi mereka yg ingin selibat saat msh muda dan msh bekerja membayar semacam iuran gitu kpd yayasan tsb. Uang tsb dikelola secara profesional. Nanti, saat para anggota sdh tua, atau sakit sdh ada lembaga tsb yg mengurusinya jd ga perlu tergantung keluarga yg blm tentu mw merawat..

    Andaikan ku buat yayasan tsb, ada yg daftar ga ya?

    😁🤭

  • 13 Mei

    YUDISAJA095 tulis:

    Pacaran seumur hidup

    Tidak ada tuntutan, tidak ada tanggung jawab, karena semua digerakkan oleh cinta

    Hubungan isinya saling memberi yang terbaik, tidak ada saling menuntut

    Hubungan isinya saling mendukung

    Hubungan isinya saling ingin membahagiakan

    Mungkinkah?

    klo mnrt sy sih bisa saja asal jngn tinggal bersama , krn ini indonesia, klo dluar negri, mngkin g pa2 tinggal bersama...

    saat ktmuan dluar rmh orng akn mnyangka klo itu psngn romntis..  Atau orng mengira psngn yg tdak direstui jd g menikah2... Atau orng akan mngira klo merka dua sahabat sejati...

    Mskipun demikian  merka akn ttap diprhadapkn dngan gunjingn2 negatif dlingkungn merka sndiri...

  • 13 Mei

    ini case illegal atau legal suatu hubungan sebagai warga Negara.

    ini juga case zinah dan kekudusan hubungan dihadapan Tuhan.

    saya kira semua yg dewasa mengerti arahnya kemana ..

  • 14 Mei

    Semua pilihan bisa berkasus, baik itu yang sudah menikah ataupun yang melajang, termasuk juga yang pacaran.

    Melihat suatu kasus juga bisa hanya hitam dan putih saja, bisa juga tidak semata hitam dan putih saja, karena bisa saja satu jari menunjuk ke diri ke orang lain, tapi banyak jari sebenarnya menunjukkan ke dirinya.
       

    LUCKY368 tulis:

    ini case illegal atau legal suatu hubungan sebagai warga Negara.

    ini juga case zinah dan kekudusan hubungan dihadapan Tuhan.

    saya kira semua yg dewasa mengerti arahnya kemana ..

  • 14 Mei

    "juga bisa = bisa , bisa juga tidak = tidak bisa "

    ?

    bisa saja seluruh jari mengarah ke dirinya , ", bisa saja seluruh jari terkepal, bisa saja seluruh jari mengarah keorang lain .

    "bisa", right ?

    YUDISAJA095 tulis:

    Semua pilihan bisa berkasus, baik itu yang sudah menikah ataupun yang melajang, termasuk juga yang pacaran.

    Melihat suatu kasus juga bisa hanya hitam dan putih saja, bisa juga tidak semata hitam dan putih saja, karena bisa saja satu jari menunjuk ke diri ke orang lain, tapi banyak jari sebenarnya menunjukkan ke dirinya.

  • 14 Mei

    Hmm, emangnya mas bro ingin pakai konsep ini jugakah?

    YUDISAJA095 tulis:

    Pacaran seumur hidup

    Tidak ada tuntutan, tidak ada tanggung jawab, karena semua digerakkan oleh cinta

    Hubungan isinya saling memberi yang terbaik, tidak ada saling menuntut

    Hubungan isinya saling mendukung

    Hubungan isinya saling ingin membahagiakan

    Mungkinkah?

  • 14 Mei

    Mending minum es kepal milo saja pak, daripada jari dikepal-kepal gak jelas :-D.

    LUCKY368 tulis:

    "juga bisa = bisa , bisa juga tidak = tidak bisa "

    ?

    bisa saja seluruh jari mengarah ke dirinya , ", bisa saja seluruh jari terkepal, bisa saja seluruh jari mengarah keorang lain .

    "bisa", right ?

  • 14 Mei

    Orang bisa bahagia dengan melajang, orang juga bisa bahagia dengan mempunyai hubungan dengan lawan jenis yang dicintainya.

    Jika bicara konsep dalam hubungan dengan wanita yang tentu aku cintai, aku ingin yang terbaik untuknya, jika dia akhirnya pergi bersama orang lain dan dia bahagia, aku juga ikut bahagia, bukankah itu esensi cinta, ingin yang terbaik untuk yang dicintainya.

    Jika memang dia mau pacaran seumur hidup juga tidak masalah, selama dia bahagia, jika mau menikah juga tidak masalah, selama dia bahagia.

    Aku mencintai wanita, tanpa ingin berharap kembali, cinta itu tentang ketulusan, bukan tentang transaksi.

    Bagaimana dengan tanggung jawab ?

    Saat aku mencintai wanita, apa yang disebut tanggung jawab, tidak dirasakan seperti tanggung jawab, tapi sebagai wujud cinta.

    VINA735 tulis:

    Hmm, emangnya mas bro ingin pakai konsep ini jugakah?

    14 Mei diubah oleh YUDISAJA095

  • 14 Mei

    YUDISAJA095 tulis:

    Pacaran seumur hidup

    Tidak ada tuntutan, tidak ada tanggung jawab, karena semua digerakkan oleh cinta

    Hubungan isinya saling memberi yang terbaik, tidak ada saling menuntut

    Hubungan isinya saling mendukung

    Hubungan isinya saling ingin membahagiakan

    Mungkinkah?

    Dalam situasi yg sulit, misalnya seperti yg sdr ku alami (dia janda cerai jg dng 1 anak wanita yg sdh dewasa dan si janda ini punya kakak laki2 yg cacat otaknya / tdk bs apa2 kecuali makan dan tidur) apa boleh buat. Kakak laki2 ini jg harus minum obat penenang. Selama kakak laki2nya ini masih hidup, sdr ku barangkali hanya bs pacaran seumur hidupnya (kebetulan ada sih pria yg sedang dekat) krn kakaknya yg cacat ini harus ada yg urus (masakkin dan ngasih obat). Apalagi mrk sdh yatim piatu pula jadi sdr ku ga bs ngandelin siapa2 tuk mengurus kakaknya ini. Dia jg tak punya biaya tuk menaruh kakaknya ini di panti. Jadi bgmn mau nikah? Masa suaminya kelak numpang di rmh sdr ku spya sdr ku bs sambil rawat kk nya? Kodrat laki kan justru menyediakan tmpt tinggal bagi istrInya.  Sedangkan jika sdr ku pindah ke rmh suaminya, masa kk nya ikut? Itu akan mengganggu suaminya kcuali jika ada guest house khusus tuk kk nya. Lgpl sdr ku butuh waktu berduaan dng pasangan, tanpa terganggu anggota klg yg lain.

    Konsekuensinya memang agak bahaya sih, yaitu pacaran tipe ini bisa menjurus pd pergaulan bebas. Aku ngomong gini tanpa bermaksd blg mrk melakukan gaya pacaran bebas loh. Aku sndiri tdk tau. Tapi ya apapun yg terjadi, sdr ku tdk bs nikah selama kk nya masih hidup.

    14 Mei diubah oleh ANITA089

  • 14 Mei

    Jd motivasi mas bro buat thread ini apa yh klo boleh tau? (Maap bnyak nanya)... ✌😅

  • 14 Mei

    Anda bukan orang pertama di thread ini bertanya hal yang sudah dijawab dan saya harus mengulang jawabannya lagi.

    Baiklah, gpp.

    Jawabannya :

    "Ada yang memutuskan untuk menikah (Tentu untuk seumur hidup, walau ada yang cerai juga)

    Ada yang memutuskan untuk melajang seumur hidup (Ada juga)

    Nah yang belum ada bahasan di tengah-tengah antara melajang dan pernikahan yaitu pacaran seumur hidup hehehe"

    VINA735 tulis:

    Jd motivasi mas bro buat thread ini apa yh klo boleh tau? (Maap bnyak nanya)... ✌😅

  • 14 Mei

    Saudara @YUDISAJA095

    Jika menilik judul besarnya SAJA

    Maka jawabku : Sangat mungkin dan itu WAJIB HUKUMnya, karena pasangan pasca menikahpun dianjurkan untuk mengenang dan mengulang kembali kegiatan di masa indah pacaran seumur hidup agar hubungan tetap langgeng

    Namun jika menelisik lebih jauh pada deskripsinya sebagai berikut :

    Tidak ada tuntutan, tidak ada tanggung jawab, karena semua digerakkan oleh cinta

    Sangat tidak mungkin, bilang di mulut cinta tapi tidak menuntut apa apa di dalam hatinya, apalagi tidak bertanggungjawab alias lepas tangan

    Hubungan isinya saling memberi yang terbaik, tidak ada saling menuntut

    Saling beri yang terbaik sangat visioner dan memang begitulah seharusnya, visioner dalam hal ini sekarang saat satu orang saja sudah relatif cukup baik, namun setelah bersatu jadi makin baik menuju kondisi terbaik masing masing

    Maaf saya harus katakan ini, kata tidak(saling) menuntut untuk ke2 kalinya di lontarkan lagi, itu menggarisbawahi pada pikiranku, bahwa tuntutan diajukan kelak itu sebagai peringatan dini dari sebuah potensi BEBAN BERAT di kemudian hari yang akan dipikulnya sendirian( oleh pihak yang bakal dituntut tentu saja )

    Padahal esensi cinta itu berbagi bukan di panggul pada punggung sendiri, ini seperti kerja tim, bedanya tim kerja yang ideal pasti terdiri dari lebih dari 2 orang, toh ?

    Hubungan isinya saling mendukung, Hubungan isinya saling ingin membahagiakan

    Menjadi kontradiksi, menurut pola pikirku yang primordialisme atau bahkan primitif di jaman serba digital ini bahwa kata saling yang tertera, namun maksudnya adalah ke2 individu yang mencinta masih punya ego ingin berdiri sendiri sendiri, masih ingin independen / merdeka masing masing dan masih ingin tidak terikat dalam sebuah ikatan yang ada tanggungjawab serta tuntutan( saya lebih pilih kata dorongan / encouraging didalam komitmen menuju kondisi ke2nya lebih baik lagi, mendekati status terbaik ) usai kata cinta terucap.

    14 Mei diubah oleh VEKA741

  • 14 Mei

    Menurutku Bang Veka udah jelasin dengan sangat gamblang.

    Tapi ada satu aspek yang sepertinya perlu diulas.

    Yaitu > "Kenapa memilih begitu?"

    Karena pada dasarnya, menggunakan logika cara apapun, jawabannya cuma 1. Penyebab dari memilih hal seperti itu adalah "Mental Block"

    Contoh beberapa kemungkinan yang muncul kalau kita melogikakan penyebabnya:

    1. Kekecewaan akan suatu objek / subjek / kondisi

    2. Anomali sebagai manusia, contoh: aseksual, biseksual, homoseksual, dsb

    3. Kelemahan spiritual, dari sisi pemahaman keimanan Kristen

    Kenapa contoh - contoh di atas adalah mental block? Karena imbasnya selalu mengarah ke satu hal > rejection, penolakan akan suatu objek / subjek / kondisi, dsb.

    Contoh imbasnya:

    1. Menolak tanggung jawab

    2. Menolak berharap

    3. Menolak ikatan

    Mungkin? Mungkin, kok. Baik? Tergantung. Kecuali alasan anda untuk Bapa / dari Bapa, anda lemah secara spiritual.

    Last words,

    "Intelligence without wisdom brings destruction."

  • 14 Mei

    Sama saya juga belum dapat pointnya yg ingin diharapkan atau dicapai itu apa, apakah pemikiran atau pandangan seperti itu sejalan dengan ajaran atau pola kehidupan Kekristenan

    VINA735 tulis:

    Jd motivasi mas bro buat thread ini apa yh klo boleh tau? (Maap bnyak nanya)... ✌😅

  • 14 Mei

    Sangat tidak mungkin bagi dirinya, belum tentu bagi orang lain

    Karena saat orang menuntut umumnya dari ego yang tidak ingin kehilangan, terlepas dari tuntutan agama ya

    Cinta tentang memberi, tentang ketulusan, memberi tanpa berharap kembali

    Apa yang mau dituntut dan dipertanggungjawabkan pada pasangan jika keduanya saling ingin memberikan yang terbaik tanpa berharap kembali?

    Jika memang ada tuntutan maka sebenarnya istilah dituntut bisa tidak ada bagi dirinya, karena dia tidak merasakan itu tuntutan, tapi sudah wujud cinta dia bagi yang dicintainya

    Ego memang ada, semuanya tinggal kembali pada dirinya, apakah kebahagiaan pasangannya, berada di atas kepentingan dirinya?

    Seperti misal dalam kasus saat dia tidak mau menikah dan ingin putus, ya apa masalahnya, bukankah yang penting dia bahagia meskipun dia tidak bersama kita?

    Sakit hati?

    TIdak terima?

    Bukankah itu akibat ego kita yang mengatasnamakan cinta, kita telah memberikan waktu, tenaga, pikiran dengan berharap ada yang kembali.

    ALIAS TIDAK MAU RUGI!

    Beda kasus jika sudah menikah ya, mau cinta kek, mau gak kek, mau tersiksa kek ya harus dipertahankan, itu resiko dari pernikahan, meskipun jika terjadi kekerasan rumah tangga tentu yang jadi korban harus diselamatkan dulu, misal tinggal di rumah ortunya.

    VEKA741 tulis:

    Saudara @YUDISAJA095

    Jika menilik judul besarnya SAJA

    Maka jawabku : Sangat mungkin dan itu WAJIB HUKUMnya, karena pasangan pasca menikahpun dianjurkan untuk mengenang dan mengulang kembali kegiatan di masa indah pacaran seumur hidup agar hubungan tetap langgeng

    Namun jika menelisik lebih jauh pada deskripsinya sebagai berikut :

    Sangat tidak mungkin, bilang di mulut cinta tapi tidak menuntut apa apa di dalam hatinya, apalagi tidak bertanggungjawab alias lepas tangan

    Saling beri yang terbaik sangat visioner dan memang begitulah seharusnya, visioner dalam hal ini sekarang saat satu orang saja sudah relatif cukup baik, namun setelah bersatu jadi makin baik menuju kondisi terbaik masing masing

    Maaf saya harus katakan ini, kata tidak(saling) menuntut untuk ke2 kalinya di lontarkan lagi, itu menggarisbawahi pada pikiranku, bahwa tuntutan diajukan kelak itu sebagai peringatan dini dari sebuah potensi BEBAN BERAT di kemudian hari yang akan dipikulnya sendirian( oleh pihak yang bakal dituntut tentu saja )

    Padahal esensi cinta itu berbagi bukan di panggul pada punggung sendiri, ini seperti kerja tim, bedanya tim kerja yang ideal pasti terdiri dari lebih dari 2 orang, toh ?

    Menjadi kontradiksi, menurut pola pikirku yang primordialisme atau bahkan primitif di jaman serba digital ini bahwa kata saling yang tertera, namun maksudnya adalah ke2 individu yang mencinta masih punya ego ingin berdiri sendiri sendiri, masih ingin independen / merdeka masing masing dan masih ingin tidak terikat dalam sebuah ikatan yang ada tanggungjawab serta tuntutan( saya lebih pilih kata dorongan / encouraging didalam komitmen menuju kondisi ke2nya lebih baik lagi, mendekati status terbaik ) usai kata cinta terucap.

    14 Mei diubah oleh YUDISAJA095

51 – 75 dari 159    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  4 ... 7  Selanjutnya Kirim tanggapan