Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Foto diri / Gambaran Diri

ForumCampur-campur

26 – 50 dari 65    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  Selanjutnya Kirim tanggapan

  • 8 Januari

    @Juljul112 : salam kenal.

    Cuma mau kasih masukan berdasarkan realita keadaan yg pernah saya liat.

    Sangat paham dg masalah yg anda hadapi, krn saya jga bbrp kali terhubung dg psikolog anak, untuk kasus yg lain. Tp untuk masalah yg setidaknya mirip dg anda ada, tmn anak saya memiliki gejala self hatred , yaitu saat depresi memuncak (ada bbrp gejala gangguan kejiwaan dimana manusia gk bisa manage emosinya spt bipolar ataupun disorder borderline) dia jadi sangat membenci dirinya sendiri sampai mau bunuh diri, terkadang menyilet lengannya sendiri mengiris nadi dan bbrp kali ketauan guru akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan mengikuti homeschooling.Hal ini terjadi krn dia punya masalah keluarga sehingga pembentukan mental dia terganggu. Sangat wajar pula manusia menilai orang lain dari bentuk fisik terutama wajah, karena memang realitanya wajah yg good looking itu mempermudah kesuksesan orang dlm karir maupun pergaulan. Bagi anda, saya sarankan cari circle pergaulan yg tepat, perbanyak ibadah & konsultasikan ke psikolog. Maaf bukan menggurui , tp sekedar memberikan saran. thanks.

  • 8 Januari

    Waah... jd possesif dooong... xixxiii... no defense hloo... hahahahaa...

    JULJUL112 tulis:

    wah klo ini justru kebalik, ideal nya kan begitu, Coba tanya dah ma orang2 yg tertolak, jika mencintai bisa sampai ke tulang2 melebihi ke diri nya sendiri pastinya, secara dia membenci dirinya sendiri, hehe, no offense y, peace 😁

  • 8 Januari

    LOVE = RESPECT

    LOVE IS ACCEPTANCE

    💖💖

  • TILLIE769

    8 Januari

    JULJUL112 tulis:

    Terima kasih kak tuk advice nya, sangat membantu tuk support nya.

    🙏

  • VIRA624

    8 Januari

    Sekedar mau meluruskan saja. Saya bukan psikolog/psikiater:

    1. Bipolar adalah gangguan mood/suasana hati....bipolar ada fase mania...ada fase depresi. Bipolar ada bbrp jenis: a. Bipolar 1 cenderung ke fase mania; b. Bipolar 2 cenderung ke fase depresi, c. Cyclothymia fase siklus mania depresi mania depresi.

    Fase mania ditandai: bicara yang meracau kadang oot, insomnia, shopping berlebihan, semangat tinggi, banyak ide bermunculan, melakukan kekerasan, dll.

    Fase depresi ditandai: sedih, nangis,ingin tidur terus, tidak bergairah melakukan apapun, ingin bunuh diri, mudah tersinggung, dll.

    2. Borderline personality disorder adalah gangguan kepribadian ambang/borderline. Ciri khas paling utama dari orang BPD adalah gangguan pola pikir terutama citra akan diri sendiri..biasanya mereka bisa sangat membenci dan melukai diri mereka sendiri, perasaan takut ditinggalkan/fear of Abonnement, sulit membangun hubungan relasi yang stabil, impulsif, nekat melakukan hal2 destruktiv yang ekstrim. Borderline pun sering diikuti dengan gangguan mood/mood swing.

    Maaf sebelumnya jika saya mau cerita panjang  Saya merupakan mental health survivor kak. Saya dulu didiagnosa major depressive. Saya bukan bermaksud sombong, dulu sebelum saya mengalami depresi, saya punya karier yang baik sbg télécommunication engineer, saya kuliah dr universitas terbaik di Indonesia, Saya Punya bakat ini, bakat itu. Ternyata banyak orang memproyeksikan rasa tidak suka ke saya...maybe I look intimidating bt mereka....Dan akhirnya Saya mengalami depresi. Ingin bunuh diri ya...Saya pernah dibawa ke emergency RSK Duren Sawit...karena ingin bunuh diri Dan histeria..saat depresi...rasanya ingin tidur terus tidak semangat melakukan apapun...bahkan hal2 kegiatan basic susah dilakukan...seperti mandi. Bahkan hubungan saya pun memburuk termasuk dengan keluarga, karena saat depresi saya sangat mudah tersinggung, irritated, dan marah2.

    Saya mengalami 3 tahun depresi..Sama sekali tidak bisa kerja sampai akhirnya kakak saya bawa ke psikiater. Setelah rajin ke psikiater saya mulai baikan. Saya bisa curhat tanpa dihakimi dan saya dikasih pengobatan untuk menstabilkan mood saya. Bahkan sekarang Saya sudah pilih dan tidak pergi ke psikiater.

    Selama saya pergi ke psikiater, sangat disayangkan ternyata masih banyak pasien/orang yang denial akan gangguan mentalnya. Karena saat menunggu antrian di psikiater, sering saya melihat yang berkunjung ke dokter caregiver/keluarga pasien. Karena pasien menolak untuk pergi ke psikiater. Karena takut stigma dicap orang Gila. Jadi dokter meresepkan obat berdasarkan diagnosa dari caregiver/keluarga pasien. Obat yang diberikan biasanya bentuk droplet yang dicampurkan ke makanan/minuman pasien. Karena pasien menolak obat2an medis dari psikiater.

    Zaman sudah berubah, menurut Saya tidak perlu malu meminta bantuan profesional, jika sudah mengganggu Aktivitas sehari-hari. Tidak perlu malu...jika merasa ada gangguan mental, malah jika cerita seperti catharsis bagi diri sendiri, ada perasaan lega. Tapi bercerita jangan ke sembarang orang, seperti Saya nyampah di forum karena mikirnya ah ga kenal in....hihihi.

    Mohon maaf kalo panjang banget dan nyampah disini. Dan maaf bahasa Saya, punctuation Saya acakadut. Tks bt yg baca

    UCI245 tulis:

    @Juljul112 : salam kenal.

    Cuma mau kasih masukan berdasarkan realita keadaan yg pernah saya liat.

    Sangat paham dg masalah yg anda hadapi, krn saya jga bbrp kali terhubung dg psikolog anak, untuk kasus yg lain. Tp untuk masalah yg setidaknya mirip dg anda ada, tmn anak saya memiliki gejala self hatred , yaitu saat depresi memuncak (ada bbrp gejala gangguan kejiwaan dimana manusia gk bisa manage emosinya spt bipolar ataupun disorder borderline) dia jadi sangat membenci dirinya sendiri sampai mau bunuh diri, terkadang menyilet lengannya sendiri mengiris nadi dan bbrp kali ketauan guru akhirnya dikeluarkan dari sekolah dan mengikuti homeschooling.Hal ini terjadi krn dia punya masalah keluarga sehingga pembentukan mental dia terganggu. Sangat wajar pula manusia menilai orang lain dari bentuk fisik terutama wajah, karena memang realitanya wajah yg good looking itu mempermudah kesuksesan orang dlm karir maupun pergaulan. Bagi anda, saya sarankan cari circle pergaulan yg tepat, perbanyak ibadah & konsultasikan ke psikolog. Maaf bukan menggurui , tp sekedar memberikan saran. thanks.

  • 8 Januari

    Hi Vira. Salken. Saya baca ceritamu jadi ingat ttg keponakanku umur 18th yg juga bolak balik duren sawit utk terapi dg psikolognya krn mengalami depresi semenjak pandemi.jd dianya yg aktif ga bs menerima hrs dirumah saja dan ga bisa beraktivitas sperti biasa dlm wkt cukup lama.Worry too much ttg masa depan dia yg kala itu masuk klas 3 sma. Saya agak mengerti mslh dia krn pernah punya teman kantor dg masalah yg sama. Keponakan saya mesti ditreatment dg alat dikepalanya shg dia mrs lebih tenang tidak overthinking dan bisa tidur.di rs ktnya dipantau penggunaan hp oleh perawat shg dia benar2 bisa istirahat dr bpikir terus menerus.kami keluarganya mdukungnya dg dengerin curhat2nya dan menjadi tempat utk dia selalu bisa dtg dan merasa diterima meski ketika dia sdg moody.

    VIRA624 tulis:

    Sekedar mau meluruskan saja. Saya bukan psikolog/psikiater:

    1. Bipolar adalah gangguan mood/suasana hati....bipolar ada fase mania...ada fase depresi. Bipolar ada bbrp jenis: a. Bipolar 1 cenderung ke fase mania; b. Bipolar 2 cenderung ke fase depresi, c. Cyclothymia fase siklus mania depresi mania depresi.

    Fase mania ditandai: bicara yang meracau kadang oot, insomnia, shopping berlebihan, semangat tinggi, banyak ide bermunculan, melakukan kekerasan, dll.

    Fase depresi ditandai: sedih, nangis,ingin tidur terus, tidak bergairah melakukan apapun, ingin bunuh diri, mudah tersinggung, dll.

    2. Borderline personality disorder adalah gangguan kepribadian ambang/borderline. Ciri khas paling utama dari orang BPD adalah gangguan pola pikir terutama citra akan diri sendiri..biasanya mereka bisa sangat membenci dan melukai diri mereka sendiri, perasaan takut ditinggalkan/fear of Abonnement, sulit membangun hubungan relasi yang stabil, impulsif, nekat melakukan hal2 destruktiv yang ekstrim. Borderline pun sering diikuti dengan gangguan mood/mood swing.

    Maaf sebelumnya jika saya mau cerita panjang  Saya merupakan mental health survivor kak. Saya dulu didiagnosa major depressive. Saya bukan bermaksud sombong, dulu sebelum saya mengalami depresi, saya punya karier yang baik sbg télécommunication engineer, saya kuliah dr universitas terbaik di Indonesia, Saya Punya bakat ini, bakat itu. Ternyata banyak orang memproyeksikan rasa tidak suka ke saya...maybe I look intimidating bt mereka....Dan akhirnya Saya mengalami depresi. Ingin bunuh diri ya...Saya pernah dibawa ke emergency RSK Duren Sawit...karena ingin bunuh diri Dan histeria..saat depresi...rasanya ingin tidur terus tidak semangat melakukan apapun...bahkan hal2 kegiatan basic susah dilakukan...seperti mandi. Bahkan hubungan saya pun memburuk termasuk dengan keluarga, karena saat depresi saya sangat mudah tersinggung, irritated, dan marah2.

    Saya mengalami 3 tahun depresi..Sama sekali tidak bisa kerja sampai akhirnya kakak saya bawa ke psikiater. Setelah rajin ke psikiater saya mulai baikan. Saya bisa curhat tanpa dihakimi dan saya dikasih pengobatan untuk menstabilkan mood saya. Bahkan sekarang Saya sudah pilih dan tidak pergi ke psikiater.

    Selama saya pergi ke psikiater, sangat disayangkan ternyata masih banyak pasien/orang yang denial akan gangguan mentalnya. Karena saat menunggu antrian di psikiater, sering saya melihat yang berkunjung ke dokter caregiver/keluarga pasien. Karena pasien menolak untuk pergi ke psikiater. Karena takut stigma dicap orang Gila. Jadi dokter meresepkan obat berdasarkan diagnosa dari caregiver/keluarga pasien. Obat yang diberikan biasanya bentuk droplet yang dicampurkan ke makanan/minuman pasien. Karena pasien menolak obat2an medis dari psikiater.

    Zaman sudah berubah, menurut Saya tidak perlu malu meminta bantuan profesional, jika sudah mengganggu Aktivitas sehari-hari. Tidak perlu malu...jika merasa ada gangguan mental, malah jika cerita seperti catharsis bagi diri sendiri, ada perasaan lega. Tapi bercerita jangan ke sembarang orang, seperti Saya nyampah di forum karena mikirnya ah ga kenal in....hihihi.

    Mohon maaf kalo panjang banget dan nyampah disini. Dan maaf bahasa Saya, punctuation Saya acakadut. Tks bt yg baca

  • 8 Januari

    Saya berasal dari suku Chinese tapi memiliki kulit gelap dan mata besar. Jujur ini menyebalkan, saya sudah beberapa kali mencoba kosmetik yg katanya memutihkan tapi tidak berhasil. Akhirnya saya cuek saja, yg penting bukan fisik tapi hati , tetap semangat ya, jika kita memiliki kekurangan dari fisik ( dan sudah tidak bisa dirubah seperti saya 😂 )sebaiknya kita berusaha memiliki kelebihan dari sisi lain . Btw saya sangat terkesan dengan tanggapan2 di forum ini, banyak ilmu yg saya dapatkan di sini.

  • ECHY268

    8 Januari

    Selama kita hidup di dunia yg sdh didominasi hal2 sekuler pasti kita akn mengalami mood yg ups and down.

    Disitulah gunanya kita hrs disiplin mendekatkan diri kita kpd Tuhan. Berusaha melakukan kehendak Tuhan dlm perilaku kita sehari-hari. Artinya teori dan praktek hrs berjalan beriringan.

    Syukuri setiap hal yg ada dlm hidupmu. Mulai dari hal2 sederhana saja. Bersyukur saat ini masih ada dan sehat. Di luar sana byk org yg berjuang utk hidup sampai mengeluarkan biaya yg besar agar tetap hidup.

    Lha, kok kita berkutat pd hal2 yg remeh temeh.

    Belajar utk selalu 'self love' tiap hari. Dengan cara tiap pagi saat bercermin tersenyumlah pd diri sendiri. Katakan pd dirimu : Aku cantik/ganteng, karna aku ciptaan Tuhan Yang Maha Besar.

    Tidak kebetulan Tuhan memberikan 'wujud' ini kpd dirimu. Itulah hadiah terbaik Tuhan utkmu. Rawat dirimu sebaik-baiknya. Jadikan tubuhmu persembahan yg kudus kpd Tuhan. Kelak, cantik, jelek, ganteng mnrt ukuran dunia ini akn sama dihadapan Pengadilan Tuhan. Manusia akn dihakimi berdasarkan tindakan dan perilakunya selama hidup di dunia, bukan dari penampilan.

    Nah, jika fokus kita sdh 'disana' maka apapun kata orang, seperti apapun penampilan org lain sdh tidak berpengaruh lagi pd dirimu.

    Berlatihlah tiap hari....💪💪

  • 8 Januari

    Kakak kan sering wara wiri di forum, kalo aku liat dari foto profilnya ku kira kakak orang jawa loh ✌

    GABBY983 tulis:

    Saya berasal dari suku Chinese tapi memiliki kulit gelap dan mata besar. Jujur ini menyebalkan, saya sudah beberapa kali mencoba kosmetik yg katanya memutihkan tapi tidak berhasil. Akhirnya saya cuek saja, yg penting bukan fisik tapi hati , tetap semangat ya, jika kita memiliki kekurangan dari fisik ( dan sudah tidak bisa dirubah seperti saya 😂 )sebaiknya kita berusaha memiliki kelebihan dari sisi lain . Btw saya sangat terkesan dengan tanggapan2 di forum ini, banyak ilmu yg saya dapatkan di sini.

  • 8 Januari

    Nah kan 🤭

    LINA843 tulis:

    Kakak kan sering wara wiri di forum, kalo aku liat dari foto profilnya ku kira kakak orang jawa loh ✌

  • ECHY268

    8 Januari

    Salah satu daya tarik JK, sehingga msh dimari ya forum ini sis..

    Kita bisa cerita apa saja sepanjang tidak melanggar norma2 di JK.

    Iya, bercerita itu seperti catharsis....

    Makanya, sa cerito tetanggaku tak bikin dimari, ya drpd dipendam jd bisul😅😅. Sing penting orgnya tidak ada dimari. Wah, kl dia tau bahaya😁

    Mgkn bagi mereka yg kurang paham, pasti pernah berpikir...ini org tulisannya panjang bener...😅 ga capek apa ngetiknya..rajin amat.

    Pdhl, kita lg ngeluarin isi kepala.

    Dan itu bagus utk kesehatan jiwa. Jgn apa2 dipendam. Pelit utk bicara. Saya pernah dengar psikolog bilang, isi pikiran kita itu perlu dikeluarkan. Mknya nangis, sedih, marah dan tertawa itu semuanya bermanfaat. Mk jgn sungkan utk marah, sedih, nangis dan tertawa. Emosi itu semua ada gunanya, dengan catatan jgn berlebihan. Marah khan ga selamanya negatif asal bisa dikontrol dgn baik.

    Nah, utk cerita ttg hidup kita ini yg sulit. Salah2 cerita aib kita jadi bocor kmana-mana...😅

    Psikolog nyaranin kl tdk punya teman cerita yg bisa dipercaya, maka bisa lewat tulisan/jurnal.

    VIRA624 tulis:

    Tidak perlu malu...jika merasa ada gangguan mental, malah jika cerita seperti catharsis bagi diri sendiri, ada perasaan lega. Tapi bercerita jangan ke sembarang orang, seperti Saya nyampah di forum karena mikirnya ah ga kenal in....hihihi.

    Mohon maaf kalo panjang banget dan nyampah disini. Dan maaf bahasa Saya, punctuation Saya acakadut. Tks bt yg baca

  • 8 Januari

    Tapi banyak kok wajah ga sesuai dgn etnisnya kak 😁

    GABBY983 tulis:

    Nah kan 🤭

  • VIRA624

    8 Januari

    Hai Ka Marina, salam kenal juga ya.

    Terima kasih kak, udah jadi auntie yang baik buat keponakannya. Pastinya dia senang punya mental support system dari keluarga sendiri, karena banyak penderita ODGJ tidak mendapat support dr keluarga, bahkan mereka hrs mengalami pengabaian, penelantaran, dan byk ditemukan di bbrp daerah mereka dipasung. Semoga dengan bantuan profesional dan support system dari keluarga, keponakan kakak lekas pulih.

    Sebenarnya kalo lebih cepat terdeteksi lebih baik kak. Jadi lebih cepat tertangani. Karena dari gangguan mental ini bisa muncul penyakit-penyakit lainnya. Karena emosi yang tak terkontrol dapat menyebabkan penyakit darah tinggi. Darah tinggi yang tidak terkontrol bisa merambah ke jantung dan ginjal. Begitu juga emosi tak terkontrol di beberapa orang bisa menyebabkan emotional overeating yang dapat menimbulkan penyakit spt diabetes. Diabetes tak terkontrol dapat merambah ke Jantung, ginjal, saraf, mata, dll.

    Untuk menjadi support system/caregiver dari para penderita, ada bbrp yg hrs ditekankan. Saya tdk bermksd menggurui tapi sharing pengalaman:

    1. Jangan pernah menghakimi jika mereka bercerita. Jangan pernah bilang "Saya tau yang kamu rasakan"....percayalah tidak ada yang pernah tau apa yg dirasakan penderita, apalagi dikatakan orang yang bukan penderita ODGJ. Cukup dengarkan apa yang mereka ingin ceritakan.

    2. Jangan pernah bilang kamu kurang dekat dengan Tuhan, kamu kurang bersyukur. BIG NO, akibatnya bisa fatal...mungkin dia jadi makin benci dengan Tuhan, mungkin makin malas berdoa & beribadah, menyalahkan Tuhan, dan paling fatal mengambil nyawanya sendiri. Jika ingin mengajak ibadah/berdoa, dan mereka menolak, jangan dipaksa dan dinasehati "kamu harus ibadah. Bla...bla"....Saya yakin Tuhan Maha membolak balikan hati orang. Tetap rutin ajak berdoa/ibadah apapun responnya, suatu saat mereka pasti ada kerinduan untuk berdoa/ibadah.

    3. Jangan membandingkan dengan saudara/orang lain. Hidup bukan perlombaan, semua orang unik. Saat di RSK, setau saya emang tidak boleh pakai HP. Saat saya depresi, saya tidak menggunakan sosmed sama sekali. Karena saya jadi melihat yang tidak perlu dan membandingkan hidup saya dengan orang lain.

    4. Menjadi support system/caregiver dari penderita ODGJ ternyata sangat melelahkan, bahkan drain out all of emotions. Jangan lupa nurture untuk diri sendiri. Karena takutnya malah support system/caregiver yang malah mengalami gangguan mental

    5. Ajak mereka ikut komunitas mental health, biar mereka punya teman saling support dan menguatkan. Dulu saya ikut komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI), Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS)...sekarang udah banyak komunitas mental health. Biasanya mereka memiliki agenda edukasi psikososial baik ke penderita ODGJ maupun ke support system/caregivernya

    6. Extra Sabar

    Segitu kak sharing dari saya, semoga keponakannya lekas pulih

    MARINA562 tulis:

    Hi Vira. Salken. Saya baca ceritamu jadi ingat ttg keponakanku umur 18th yg juga bolak balik duren sawit utk terapi dg psikolognya krn mengalami depresi semenjak pandemi.jd dianya yg aktif ga bs menerima hrs dirumah saja dan ga bisa beraktivitas sperti biasa dlm wkt cukup lama.Worry too much ttg masa depan dia yg kala itu masuk klas 3 sma. Saya agak mengerti mslh dia krn pernah punya teman kantor dg masalah yg sama. Keponakan saya mesti ditreatment dg alat dikepalanya shg dia mrs lebih tenang tidak overthinking dan bisa tidur.di rs ktnya dipantau penggunaan hp oleh perawat shg dia benar2 bisa istirahat dr bpikir terus menerus.kami keluarganya mdukungnya dg dengerin curhat2nya dan menjadi tempat utk dia selalu bisa dtg dan merasa diterima meski ketika dia sdg moody.

  • SAURIA580

    8 Januari

    Bener sis.

    Tidak perlu malu untuk curhat dan counselling session ke expert nya bisa psikolog atau psikiater jika sudah berada di titik ambang batas.

    Dulu saya jg berpikiran ngapain ke psikolog atau psikiater macam orang gila pun.

    Dan dulu saya berpikiran orang orang yang punya masalah "Ah baru segitunya masalah mu, itu aja cemen, masalah mu cuma secuil, seupai belom seperti masalah ku".

    Dan saya mengakui salah dengan bersikap seperti itu. Di kantor saya ada tim / unit staff welfare yg anggotanya bisa dari negara² manapun dan kita cukup sering mendapatkan sesi training menghadapi stress management terutama di masa pandemic / WFH. Dan salah satu yg dibilang adalah jangan pernah malu untuk curhat atau konseling ke expertnya, dan jangan juga menganggap enteng masalah orang lain dan menyudutkan mereka. Pun dengan staff local psikolog jg pun mengatakan demikian. Di forthnight meeting dengan rekan rekan dr mission countries lainnya kita saling menguatkan terutama saat stress, capek di masa pandemic dan WFH yg menguras otak, tenaga dll. Dan justru disitu saya merasakan nih orang orang berasal dari etnic, bangsa berbeda dengan aku bahkan diantara mereka beda keyakinan dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa Atheist / Agnostic tp kasih yg kurasakan lebih dalam daripada sesama ethnic/bangsa bahkan orang orang Kristen lainnya yg malah justru menyudutkan, menghina, tidak ada rasa kasih.

    Btw, I just share dr pengalaman dan training yg saya peroleh. Bukan menggurui, bukan menyudutkan dan sejenisnya.

    Salam sehat buat kita semua, sehat jasmani, mental dan rohani.

    VIRA624 tulis:

    Selama saya pergi ke psikiater, sangat disayangkan ternyata masih banyak pasien/orang yang denial akan gangguan mentalnya. Karena saat menunggu antrian di psikiater, sering saya melihat yang berkunjung ke dokter caregiver/keluarga pasien. Karena pasien menolak untuk pergi ke psikiater. Karena takut stigma dicap orang Gila. Jadi dokter meresepkan obat berdasarkan diagnosa dari caregiver/keluarga pasien. Obat yang diberikan biasanya bentuk droplet yang dicampurkan ke makanan/minuman pasien. Karena pasien menolak obat2an medis dari psikiater.

    Zaman sudah berubah, menurut Saya tidak perlu malu meminta bantuan profesional, jika sudah mengganggu Aktivitas sehari-hari. Tidak perlu malu...jika merasa ada gangguan mental, malah jika cerita seperti catharsis bagi diri sendiri, ada perasaan lega. Tapi bercerita jangan ke sembarang orang, seperti Saya nyampah di forum karena mikirnya ah ga kenal in....hihihi.

  • 8 Januari

    hi kak vira, salam kenal

    terima kasih sharing pengalaman dan ilmunya.

    setuju bgt kk, ketika kita mengalami gejala, jangan malah menolak utk ke psikiater, jangan self-diagnose merasa karna kurang dekat sama Tuhan makanya depresi, bukan gt konsepnya. smua org beda2 dalam mengatasi stressnya dan bs saja faktor genetik, produksi hormon, dll.

    jadi jangan sampai stress malah bikin kita menghakimi diri "oh ini palingan karna tidak dekat ama Tuhan nih"

    ga jg sih sbnrnya.

    org depresipun punya beda2 stressor nya, ga bakal sama. malah ga cuma 1 saja. udh paling tepat ke ahlinya saja, dari psikolog dulu, dari sana ntar ketahuan mesti lanjut ke psikiater atau cukup ke psikolog saja. bgitu kira2.

    jd utk org2 yg lagi berjuang dengan mental health nya. semangat ya 🙏🏿🙏🏿

    kamu hebat 👍🏾

    VIRA624 tulis:

    Sekedar mau meluruskan saja. Saya bukan psikolog/psikiater:

    1. Bipolar adalah gangguan mood/suasana hati....bipolar ada fase mania...ada fase depresi. Bipolar ada bbrp jenis: a. Bipolar 1 cenderung ke fase mania; b. Bipolar 2 cenderung ke fase depresi, c. Cyclothymia fase siklus mania depresi mania depresi.

    Fase mania ditandai: bicara yang meracau kadang oot, insomnia, shopping berlebihan, semangat tinggi, banyak ide bermunculan, melakukan kekerasan, dll.

    Fase depresi ditandai: sedih, nangis,ingin tidur terus, tidak bergairah melakukan apapun, ingin bunuh diri, mudah tersinggung, dll.

    2. Borderline personality disorder adalah gangguan kepribadian ambang/borderline. Ciri khas paling utama dari orang BPD adalah gangguan pola pikir terutama citra akan diri sendiri..biasanya mereka bisa sangat membenci dan melukai diri mereka sendiri, perasaan takut ditinggalkan/fear of Abonnement, sulit membangun hubungan relasi yang stabil, impulsif, nekat melakukan hal2 destruktiv yang ekstrim. Borderline pun sering diikuti dengan gangguan mood/mood swing.

    Maaf sebelumnya jika saya mau cerita panjang  Saya merupakan mental health survivor kak. Saya dulu didiagnosa major depressive. Saya bukan bermaksud sombong, dulu sebelum saya mengalami depresi, saya punya karier yang baik sbg télécommunication engineer, saya kuliah dr universitas terbaik di Indonesia, Saya Punya bakat ini, bakat itu. Ternyata banyak orang memproyeksikan rasa tidak suka ke saya...maybe I look intimidating bt mereka....Dan akhirnya Saya mengalami depresi. Ingin bunuh diri ya...Saya pernah dibawa ke emergency RSK Duren Sawit...karena ingin bunuh diri Dan histeria..saat depresi...rasanya ingin tidur terus tidak semangat melakukan apapun...bahkan hal2 kegiatan basic susah dilakukan...seperti mandi. Bahkan hubungan saya pun memburuk termasuk dengan keluarga, karena saat depresi saya sangat mudah tersinggung, irritated, dan marah2.

    Saya mengalami 3 tahun depresi..Sama sekali tidak bisa kerja sampai akhirnya kakak saya bawa ke psikiater. Setelah rajin ke psikiater saya mulai baikan. Saya bisa curhat tanpa dihakimi dan saya dikasih pengobatan untuk menstabilkan mood saya. Bahkan sekarang Saya sudah pilih dan tidak pergi ke psikiater.

    Selama saya pergi ke psikiater, sangat disayangkan ternyata masih banyak pasien/orang yang denial akan gangguan mentalnya. Karena saat menunggu antrian di psikiater, sering saya melihat yang berkunjung ke dokter caregiver/keluarga pasien. Karena pasien menolak untuk pergi ke psikiater. Karena takut stigma dicap orang Gila. Jadi dokter meresepkan obat berdasarkan diagnosa dari caregiver/keluarga pasien. Obat yang diberikan biasanya bentuk droplet yang dicampurkan ke makanan/minuman pasien. Karena pasien menolak obat2an medis dari psikiater.

    Zaman sudah berubah, menurut Saya tidak perlu malu meminta bantuan profesional, jika sudah mengganggu Aktivitas sehari-hari. Tidak perlu malu...jika merasa ada gangguan mental, malah jika cerita seperti catharsis bagi diri sendiri, ada perasaan lega. Tapi bercerita jangan ke sembarang orang, seperti Saya nyampah di forum karena mikirnya ah ga kenal in....hihihi.

    Mohon maaf kalo panjang banget dan nyampah disini. Dan maaf bahasa Saya, punctuation Saya acakadut. Tks bt yg baca

  • 8 Januari

    noted kak 🙏🏿

    terima kasih

    💙💙

    VIRA624 tulis:

    Untuk menjadi support system/caregiver dari para penderita, ada bbrp yg hrs ditekankan. Saya tdk bermksd menggurui tapi sharing pengalaman:

    1. Jangan pernah menghakimi jika mereka bercerita. Jangan pernah bilang "Saya tau yang kamu rasakan"....percayalah tidak ada yang pernah tau apa yg dirasakan penderita, apalagi dikatakan orang yang bukan penderita ODGJ. Cukup dengarkan apa yang mereka ingin ceritakan.

    2. Jangan pernah bilang kamu kurang dekat dengan Tuhan, kamu kurang bersyukur. BIG NO, akibatnya bisa fatal...mungkin dia jadi makin benci dengan Tuhan, mungkin makin malas berdoa & beribadah, menyalahkan Tuhan, dan paling fatal mengambil nyawanya sendiri. Jika ingin mengajak ibadah/berdoa, dan mereka menolak, jangan dipaksa dan dinasehati "kamu harus ibadah. Bla...bla"....Saya yakin Tuhan Maha membolak balikan hati orang. Tetap rutin ajak berdoa/ibadah apapun responnya, suatu saat mereka pasti ada kerinduan untuk berdoa/ibadah.

    3. Jangan membandingkan dengan saudara/orang lain. Hidup bukan perlombaan, semua orang unik. Saat di RSK, setau saya emang tidak boleh pakai HP. Saat saya depresi, saya tidak menggunakan sosmed sama sekali. Karena saya jadi melihat yang tidak perlu dan membandingkan hidup saya dengan orang lain.

    4. Menjadi support system/caregiver dari penderita ODGJ ternyata sangat melelahkan, bahkan drain out all of emotions. Jangan lupa nurture untuk diri sendiri. Karena takutnya malah support system/caregiver yang malah mengalami gangguan mental

    5. Ajak mereka ikut komunitas mental health, biar mereka punya teman saling support dan menguatkan. Dulu saya ikut komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI), Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS)...sekarang udah banyak komunitas mental health. Biasanya mereka memiliki agenda edukasi psikososial baik ke penderita ODGJ maupun ke support system/caregivernya

    6. Extra Sabar

    Segitu kak sharing dari saya, semoga keponakannya lekas pulih

  • 8 Januari

    Wah ngk nyangka, banyak juga yg merasa demikian. Thanks yg d berbgai cerita dan berjuang ngetik panjang2 tuk memberi kesaksian, share, support dll. Sy akan mencoba dan berusaha me reply semaksimal nya ketika sengang, Terima kasih all ;-)

  • VIRA624

    8 Januari

    Iyah kak echy, Klo mw curhat tulis disini gpp. Saya senang hati membacanya. Catharsis bs menulis, bs juga dengan art therapy spt menyanyi, menggambar, mewarnai, dll

    ECHY268 tulis:

    Salah satu daya tarik JK, sehingga msh dimari ya forum ini sis..

    Kita bisa cerita apa saja sepanjang tidak melanggar norma2 di JK.

    Iya, bercerita itu seperti catharsis....

    Makanya, sa cerito tetanggaku tak bikin dimari, ya drpd dipendam jd bisul😅😅. Sing penting orgnya tidak ada dimari. Wah, kl dia tau bahaya😁

    Mgkn bagi mereka yg kurang paham, pasti pernah berpikir...ini org tulisannya panjang bener...😅 ga capek apa ngetiknya..rajin amat.

    Pdhl, kita lg ngeluarin isi kepala.

    Dan itu bagus utk kesehatan jiwa. Jgn apa2 dipendam. Pelit utk bicara. Saya pernah dengar psikolog bilang, isi pikiran kita itu perlu dikeluarkan. Mknya nangis, sedih, marah dan tertawa itu semuanya bermanfaat. Mk jgn sungkan utk marah, sedih, nangis dan tertawa. Emosi itu semua ada gunanya, dengan catatan jgn berlebihan. Marah khan ga selamanya negatif asal bisa dikontrol dgn baik.

    Nah, utk cerita ttg hidup kita ini yg sulit. Salah2 cerita aib kita jadi bocor kmana-mana...😅

    Psikolog nyaranin kl tdk punya teman cerita yg bisa dipercaya, maka bisa lewat tulisan/jurnal.

  • VIRA624

    8 Januari

    Kak, kalo ada tombol like, aq bakal ngelike tulisanmu berkali-kali..yes bangett..like this 👍👍👍

    SAURIA580 tulis:

    Bener sis.

    Tidak perlu malu untuk curhat dan counselling session ke expert nya bisa psikolog atau psikiater jika sudah berada di titik ambang batas.

    Dulu saya jg berpikiran ngapain ke psikolog atau psikiater macam orang gila pun.

    Dan dulu saya berpikiran orang orang yang punya masalah "Ah baru segitunya masalah mu, itu aja cemen, masalah mu cuma secuil, seupai belom seperti masalah ku".

    Dan saya mengakui salah dengan bersikap seperti itu. Di kantor saya ada tim / unit staff welfare yg anggotanya bisa dari negara² manapun dan kita cukup sering mendapatkan sesi training menghadapi stress management terutama di masa pandemic / WFH. Dan salah satu yg dibilang adalah jangan pernah malu untuk curhat atau konseling ke expertnya, dan jangan juga menganggap enteng masalah orang lain dan menyudutkan mereka. Pun dengan staff local psikolog jg pun mengatakan demikian. Di forthnight meeting dengan rekan rekan dr mission countries lainnya kita saling menguatkan terutama saat stress, capek di masa pandemic dan WFH yg menguras otak, tenaga dll. Dan justru disitu saya merasakan nih orang orang berasal dari etnic, bangsa berbeda dengan aku bahkan diantara mereka beda keyakinan dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa Atheist / Agnostic tp kasih yg kurasakan lebih dalam daripada sesama ethnic/bangsa bahkan orang orang Kristen lainnya yg malah justru menyudutkan, menghina, tidak ada rasa kasih.

    Btw, I just share dr pengalaman dan training yg saya peroleh. Bukan menggurui, bukan menyudutkan dan sejenisnya.

    Salam sehat buat kita semua, sehat jasmani, mental dan rohani.

  • VIRA624

    8 Januari

    Hai kak Junita, salam kenal jugal. Terima kasih buat kata2 support-nya 🙏🙏🙏

    JUNITA694 tulis:

    hi kak vira, salam kenal

    terima kasih sharing pengalaman dan ilmunya.

    setuju bgt kk, ketika kita mengalami gejala, jangan malah menolak utk ke psikiater, jangan self-diagnose merasa karna kurang dekat sama Tuhan makanya depresi, bukan gt konsepnya. smua org beda2 dalam mengatasi stressnya dan bs saja faktor genetik, produksi hormon, dll.

    jadi jangan sampai stress malah bikin kita menghakimi diri "oh ini palingan karna tidak dekat ama Tuhan nih"

    ga jg sih sbnrnya.

    org depresipun punya beda2 stressor nya, ga bakal sama. malah ga cuma 1 saja. udh paling tepat ke ahlinya saja, dari psikolog dulu, dari sana ntar ketahuan mesti lanjut ke psikiater atau cukup ke psikolog saja. bgitu kira2.

    jd utk org2 yg lagi berjuang dengan mental health nya. semangat ya 🙏🏿🙏🏿

    kamu hebat 👍🏾

    8 Januari diubah oleh VIRA624

  • SAURIA580

    8 Januari

    Kembali kasih sis.

    Thank you jg buat sharing pengalaman, advicesnya yg sekaligus reminder jg bagi saya sendiri. 🙏🏽

    VIRA624 tulis:

    Kak, kalo ada tombol like, aq bakal ngelike tulisanmu berkali-kali..yes bangett..like this 👍👍👍

  • 8 Januari

    Thanks sharing dan terutama masukannya yg sgt bharga Vira. Yg begini enak didengarkan, memang berdasar pengalaman pribadi sbg survivor. Bukan asal ngomong menceramahi bilang ga deket dg Tuhan sih, ga bawa dlm doa sih dlsb. Malah banyak yg mikirnya gangguan sperti ini dg hal yg negatif dan dicap gila trus dibully atau dijauhi. Pdhl orgnya msh bisa kuliah, nyambung diajak ngomong dan punya karakter baik. Kmrin ktika mau plg ke Medan, ponakanku sdg dirawat di rs duren sawit.trus aq blg ke dia, ayo abang istirahat dan treatment ya supaya bisa temani bi tengah naik pswt sama2. Dia tau aq phobia naik pswt. Salah satu cara supaya dia teralihkan dr bipolarnya adlh dg memberikan dia suatu tgjwb shg dia mrasa keberadaannya dibutuhkan dan supaya dia menyadari jika disatu sisi dia ada kekurangan,demikian pula org lain punya kekurangan juga.

    VIRA624 tulis:

    Hai Ka Marina, salam kenal juga ya.

    Terima kasih kak, udah jadi auntie yang baik buat keponakannya. Pastinya dia senang punya mental support system dari keluarga sendiri, karena banyak penderita ODGJ tidak mendapat support dr keluarga, bahkan mereka hrs mengalami pengabaian, penelantaran, dan byk ditemukan di bbrp daerah mereka dipasung. Semoga dengan bantuan profesional dan support system dari keluarga, keponakan kakak lekas pulih.

    Sebenarnya kalo lebih cepat terdeteksi lebih baik kak. Jadi lebih cepat tertangani. Karena dari gangguan mental ini bisa muncul penyakit-penyakit lainnya. Karena emosi yang tak terkontrol dapat menyebabkan penyakit darah tinggi. Darah tinggi yang tidak terkontrol bisa merambah ke jantung dan ginjal. Begitu juga emosi tak terkontrol di beberapa orang bisa menyebabkan emotional overeating yang dapat menimbulkan penyakit spt diabetes. Diabetes tak terkontrol dapat merambah ke Jantung, ginjal, saraf, mata, dll.

    Untuk menjadi support system/caregiver dari para penderita, ada bbrp yg hrs ditekankan. Saya tdk bermksd menggurui tapi sharing pengalaman:

    1. Jangan pernah menghakimi jika mereka bercerita. Jangan pernah bilang "Saya tau yang kamu rasakan"....percayalah tidak ada yang pernah tau apa yg dirasakan penderita, apalagi dikatakan orang yang bukan penderita ODGJ. Cukup dengarkan apa yang mereka ingin ceritakan.

    2. Jangan pernah bilang kamu kurang dekat dengan Tuhan, kamu kurang bersyukur. BIG NO, akibatnya bisa fatal...mungkin dia jadi makin benci dengan Tuhan, mungkin makin malas berdoa & beribadah, menyalahkan Tuhan, dan paling fatal mengambil nyawanya sendiri. Jika ingin mengajak ibadah/berdoa, dan mereka menolak, jangan dipaksa dan dinasehati "kamu harus ibadah. Bla...bla"....Saya yakin Tuhan Maha membolak balikan hati orang. Tetap rutin ajak berdoa/ibadah apapun responnya, suatu saat mereka pasti ada kerinduan untuk berdoa/ibadah.

    3. Jangan membandingkan dengan saudara/orang lain. Hidup bukan perlombaan, semua orang unik. Saat di RSK, setau saya emang tidak boleh pakai HP. Saat saya depresi, saya tidak menggunakan sosmed sama sekali. Karena saya jadi melihat yang tidak perlu dan membandingkan hidup saya dengan orang lain.

    4. Menjadi support system/caregiver dari penderita ODGJ ternyata sangat melelahkan, bahkan drain out all of emotions. Jangan lupa nurture untuk diri sendiri. Karena takutnya malah support system/caregiver yang malah mengalami gangguan mental

    5. Ajak mereka ikut komunitas mental health, biar mereka punya teman saling support dan menguatkan. Dulu saya ikut komunitas Bipolar Care Indonesia (BCI), Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS)...sekarang udah banyak komunitas mental health. Biasanya mereka memiliki agenda edukasi psikososial baik ke penderita ODGJ maupun ke support system/caregivernya

    6. Extra Sabar

    Segitu kak sharing dari saya, semoga keponakannya lekas pulih

  • 8 Januari

    Katanya tema 2022 itu cenderung ke sunny gitu.. #lohhh kok ngomongin make up 🤣

    JUNITA694 tulis:

    yodahlah,  2022 tahunnya glow up ko.

  • TILLIE769

    8 Januari

    SAURIA580 tulis:

    Bener sis.

    Tidak perlu malu untuk curhat dan counselling session ke expert nya bisa psikolog atau psikiater jika sudah berada di titik ambang batas.

    Dulu saya jg berpikiran ngapain ke psikolog atau psikiater macam orang gila pun.

    Dan dulu saya berpikiran orang orang yang punya masalah "Ah baru segitunya masalah mu, itu aja cemen, masalah mu cuma secuil, seupai belom seperti masalah ku".

    Dan saya mengakui salah dengan bersikap seperti itu. Di kantor saya ada tim / unit staff welfare yg anggotanya bisa dari negara² manapun dan kita cukup sering mendapatkan sesi training menghadapi stress management terutama di masa pandemic / WFH. Dan salah satu yg dibilang adalah jangan pernah malu untuk curhat atau konseling ke expertnya, dan jangan juga menganggap enteng masalah orang lain dan menyudutkan mereka. Pun dengan staff local psikolog jg pun mengatakan demikian. Di forthnight meeting dengan rekan rekan dr mission countries lainnya kita saling menguatkan terutama saat stress, capek di masa pandemic dan WFH yg menguras otak, tenaga dll. Dan justru disitu saya merasakan nih orang orang berasal dari etnic, bangsa berbeda dengan aku bahkan diantara mereka beda keyakinan dan tidak menutup kemungkinan mereka bisa Atheist / Agnostic tp kasih yg kurasakan lebih dalam daripada sesama ethnic/bangsa bahkan orang orang Kristen lainnya yg malah justru menyudutkan, menghina, tidak ada rasa kasih.

    Btw, I just share dr pengalaman dan training yg saya peroleh. Bukan menggurui, bukan menyudutkan dan sejenisnya.

    Salam sehat buat kita semua, sehat jasmani, mental dan rohani.

    Enak bgt ada tim konseling gini di office sis.

    Bbrp tmn sy stress krn domisili/ kantor di Jkt/ Sing tapi laporan dan meeting juga ke negara Swiss dan US. Bos2 US udah kayak pengusaha lokal, pada curigaan wfh kerja apa saja. Jadi tmn2 saya kerja 24 jam waktu Asia. 🤦‍♀️ Sudah di target bos Asia kerja sampai jam 6 pm saja. Tp ada facetime meeting jam 1 pm US = jam 1 pagi Jkt/ Sing.

    Akhirnya ga kuat pada resign krn 2 tahun kerja 24 jam.

  • SAURIA580

    8 Januari

    Ada lagi sis, dulu di 1 tahun awal WFH ada online kelas via zoom seperti dancing, yoga, karate dan aktifitas lainnya untuk mengurangi stress.😊

    TILLIE769 tulis:

    Enak bgt ada tim konseling gini di office sis.

    Bbrp tmn sy stress krn domisili/ kantor di Jkt/ Sing tapi laporan dan meeting juga ke negara Swiss dan US. Bos2 US udah kayak pengusaha lokal, pada curigaan wfh kerja apa saja. Jadi tmn2 saya kerja 24 jam waktu Asia. 🤦‍♀️ Sudah di target bos Asia kerja sampai jam 6 pm saja. Tp ada facetime meeting jam 1 pm US = jam 1 pagi Jkt/ Sing.

    Akhirnya ga kuat pada resign krn 2 tahun kerja 24 jam.

26 – 50 dari 65    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  Selanjutnya Kirim tanggapan