Dating site Kristen pertama dan terbesar di Indonesia

Daftar sekarang secara gratis

Pernikahan tanpa keturunan

ForumPersahabatan dan hubungan

26 – 50 dari 57    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  Selanjutnya Kirim tanggapan

  • 16 Desember

    Cukup menarik topik2 yg bro Edwin ajukan:up:
    Berarti bukan Childfree  .... kan sdh punya anak, karena disamping punya keturunan kan kita juga berkewajiban untuk mendidik anak.

    Tinggal komitmen bro Edwin dg pasangan bgmn....yah utk lebih clear tanyakan aj wkt persiapan pernikahan:-)
    GBU

    EDWIN244 tulis:

    Terima kasih untuk pencerahannya bro sergy

    Apa ini jg berlaku untuk pasangan yg salah satunya sudah mempunyai anak dr pasangannya yg sudah meninggal dunia?

    Jujur, karena bagi janda / duda yg sudah kehilangan pasangan hidup masing2 dan sudah punya keturunan (misal 1 punya 2 anak, 1 lg punya 1 anak), menurut bro sergy gimana?

    Apa mrk akan berdosa kalau menikah, hanya untuk yg cowo supaya anak ada yg ngasuh, dan yg cewe supaya anaknya ada yg nafkahin? Atau mending mrk nga usah jadian saja

  • 17 Desember

    Ada temen ku juga yg menganut childfree, awalnya agak kurang setuju dgn prinsip mereka, saat mereka menikah masih dalam usia produktif, dan memiliki keturunan mgkn bukan hal sulit kalo di lihat dari gaya hidupnya dan usia, namun mereka memiliki kesepakatan untuk childfree sebelum mereka menikah.

    Begitu dia jelasin panjang lebar ttg alasannya memilih childfree, saya menjadi lebih bisa menghargai keputusan mereka.

    Memiliki anak berarti memiliki kewajiban untuk membesarkan,mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini membutuhkan effort yg luar biasa,  lebih baik tak memiliki anak daripada memiliki anak tapi gak di urus dan di didik (di sia -sia in) nah begitu kira -kira penjelasan mereka.

    Di samping itu, salah satu alasan lain nya, karena mereka berdua org yg hobby traveling, backpacker an, merasa ribet dan gak punya waktu untuk ngurusin anak, mereka jadi gak bebas utk bepergian..😁

    Yawdalah ya, kita hargai keputusan org yg menganut childfree, dan bagi yang pengen punya keturunan silahkan.., toh kalo itu dosa di pertanggung jawabkan masing-masing.

    Bagaimana berhubungan supaya tidak hamil?

    Jaman sekarang sudah canggih,ada banyak kontrasepsi yang bisa dipilih sesuai kenyamanan diri sendiri.

    Kalo dari aku pribadi,di usia ku yg sekarang, kalo misalnya menemukan jodoh dan menikah, kalo Tuhan masih memberikan kesempatan untuk memiliki anak saya tidak akan membatasi,saya malah akan senang dan merasa bahagia karena Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menerima anugerah terindah memiliki keturunan.Karena pada dasarnya saya pengen punya anak dari darah daging saya sendiri.

    Walo mungkin secara medis, di usia ku skrg rentang dgn berbagai kemungkinan resiko, tapi aku percaya jika Tuhan yang berkendak dan mempercayakan mu anugerah anak,maka semuanya akan baik-baik saja.

    17 Desember diubah oleh ROSE184

  • 17 Desember

    I ve been reading interesting topics in these forum.

    Dang rarely give comment. Yet, I wanted to bring this topic up. Being childfree.

    Tapi kalau forumnya agamis gini, langsung diputuskan berdosa aja gitu buat people like me who have reasons and logics why oh why I prefer to be childfree.

    Mau punya anak, its good if you want to. Kenapa people are not good knowing some other people dont want kids ya.

    Semangat. You do you. You be you. Asal ga nyusahin orang lain. Saling support gengs.

    After all, mas nya. Saya mampir cuma ma say thanks udah angkat topik ini. Im one of those people who love kids but dont wanna have ma own. My nieces and nephews are enough for me 💜

  • 17 Desember

    Dalam perkembangannya program bayi tabung dapat dilakukan dengan menggunakan ibu pengganti atau dikenal dengan istilah Surrogate mother.


    Ada dua jenis surrogate mother, yaitu
    1. Gestational surrogacy
       merupakan proses pembuahan antara sel sperma dan sel telur dari pasangan yang ingin                  memperoleh anak dengan menggunakan proses pembuahan secara in vitro dan kemudian                ditanam dalam rahim perempuan yang disewa.
       Hal ini berarti wanita yang disewa hanya menjalankan fungsi kehamilan saja.

    2. Genetic surrogacy
       proses pembuahan antara sel sperma dari suami pasangan yang menginginkan anak dan sel            telur dari perempuan yang disewa.

    Secara Ilmu kedokteran Praktik Surrogacy bisa dilakuan, namun sesuatu yang bisa dilakukan bukan berarti boleh secara etika, hukum dan aturan agama.

    Meskipun ada juga beberapa negara yang membolehkan praktik ini seperti India, Thailand, Inggris, Amerika dan Australia.
    Praktik Surrogacy dalam Peraturan Hukum Indonesia dilarang , dan praktik Surrogacy juga dilarang secara tegas oleh berbagai ajaran agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha.

    Sepengetahuan saya begitu:-)

    EDINA743 tulis:

    Wih makasih penjelasannya pak dok🙏👍, sangat menarik sekali pembahasan ini😄

    kalo misal pasutri memutuskan punya anak nih tapi pakai calon ibu pengganti atau surrogate mother (kondisinya bisa bermacam alasan, bisa karna si istri g mau badannya melar / juga emang karna kesulitan utk hamil / selalu keguguran. yg sebenarnya bisa menghasilkan keturunan sendiri namun karna keguguran terus akhirnya menggunakan ibu pengganti,  seperti yg banyak dilakukan aktris Hollywood.

    Apakah tindakan ini termasuk tindakan tidak menjalani kodrat perkawinan ?

  • 17 Desember

    Root cause-nya forum ini, childfree, adalah ML sepertinya.

    Nikah biar ML-nya legal, ga kena new KUHP, dan terhindar dari pelanggaran Taurat ke 7.

    Kalo mau childfree, jangan ML donk, hahahahha...

    4000 tahun sejak turunnya Taurat di gn. Sinai, manusia selalu mencari cara mengatasinya.

    __ML pd saat masa tidak ovulasi, hadehhh, banyak puasanya donk

    or 'tembak luar', aarrghh,, ga 'nikmat' donk,, masi bisa bablas juga, hahahahaa

    Teknologi berkembang, diciptakan tools proteksi anti hamil,,, jadi bebas kapan aja mau ML tanpa takut bablas 😍😍😍

    Fungsi ML utk produksi keturunan ATAU memuaskan nafsu birahi daging? Jika hanya boleh memilih salah satu, tak bisa dua2nya, 🤣🤣🤣🤣

    Keinginan Roh Kudus vs keinginan daging duniawi.

    Another thought, kenapa surat Rasul Paulus yang paling banyak di Alkitab dibanding rasul yg lain??

  • 17 Desember

    You are free to choose, but you are not free from the consequence of your choice.

    The lure of a “culture of wellbeing” that can come when a couple does not have children and has the money and freedom to take nice holidays and buy a second home in the countryside.

    It might be better, more comfortable,
    Is this true or is this not?
    Then, in the end, this marriage comes to old age in solitude, with the bitterness of loneliness

    Do you understand? Children are a gift
    "A child is a child: a life created by us but destined for him.
    Not having children is selfish

  • 17 Desember

    Absolutly AGREE 100%, Pak SERGY895.

    SERGY895 tulis:

    You are free to choose, but you are not free from the consequence of your choice.

    The lure of a “culture of wellbeing” that can come when a couple does not have children and has the money and freedom to take nice holidays and buy a second home in the countryside.

    It might be better, more comfortable,

    Is this true or is this not?

    Then, in the end, this marriage comes to old age in solitude, with the bitterness of loneliness

    Do you understand? Children are a gift

    "A child is a child: a life created by us but destined for him.

    Not having children is selfish

    17 Desember diubah oleh KAKNONA645

  • 17 Desember

    Yes and No.

    Ada kisah temen. Yang ortu-nya punya quality time sendiri setiap malam, dan tidak mau diganggu anak2. Sementara dari pagi sampai sore, ortu-nya kerja. Si anak (dan saudara2nya) jadi tumbuh dengan sikap yang resentful ke ortu hingga kini.

    Ada juga yang lain, yang ortu-nya sibuk bisnis, si anak kurang perhatian, jadi cari validasi di luar keluarga. Terus jatuhnya ke seks bebas.

    Saya pikir jika memutuskan untuk memiliki anak pun, nantinya akan ada pertanggungan jawabannya kelak di hadapan Tuhan.

    SERGY895 tulis:

    Not having children is selfish

  • 17 Desember

    You are free to choose, but you are not free from the consequence of your choice.:-)
    GBU Bro LUKA

    LUKAS244 tulis:

    Yes and No.

  • 18 Desember

    Children are gifts indeed.

    But they also are responsibilities. Huge ones. Big enough.

    Raising them, meaning educate them well enough. Every action of us is shaping the destiny (the basic of characters of them).

    Too many of us punya anak karena tuntutan. Buat apa nikah kalau ndak punya anak. Apa kata orang. Dosa karena Alkitab bilang beranakcuculah.

    its all or nothing for me.

    Kalau teman2 siap bertanggung jawab membesarkan anak dengan baik. Siap mental, finansial, dan waktu dan ga asal punya anak karena itulah garid hidup (Gosh I have so many friends who are great parents)...have children, please. You got to. You should.

    Tapi, kalau teman2 punya pertimbangan why you prefer not to..its okay too.

    No. Am not being selfish. Judge me if you must.

    Yes we live with consequences. We gotta deal with them.

    Begitu bang Sergy 🤞🏼🙏🏼

  • 18 Desember

    💜💜💜💜

    ROSE184 tulis:

    Ada temen ku juga yg menganut childfree, awalnya agak kurang setuju dgn prinsip mereka, saat mereka menikah masih dalam usia produktif, dan memiliki keturunan mgkn bukan hal sulit kalo di lihat dari gaya hidupnya dan usia, namun mereka memiliki kesepakatan untuk childfree sebelum mereka menikah.

    Begitu dia jelasin panjang lebar ttg alasannya memilih childfree, saya menjadi lebih bisa menghargai keputusan mereka.

    Memiliki anak berarti memiliki kewajiban untuk membesarkan,mendidik dan menyekolahkan anaknya. Ini membutuhkan effort yg luar biasa,  lebih baik tak memiliki anak daripada memiliki anak tapi gak di urus dan di didik (di sia -sia in) nah begitu kira -kira penjelasan mereka.

    Di samping itu, salah satu alasan lain nya, karena mereka berdua org yg hobby traveling, backpacker an, merasa ribet dan gak punya waktu untuk ngurusin anak, mereka jadi gak bebas utk bepergian..😁

    Yawdalah ya, kita hargai keputusan org yg menganut childfree, dan bagi yang pengen punya keturunan silahkan.., toh kalo itu dosa di pertanggung jawabkan masing-masing.

  • 18 Desember

    Hidup tanpa anak bukanlah dosa. Hidup dlm pikiran jahat, ketidaksetiaan pada pasangan, dengki, penyimpangan perilaku sex, menginginkan sesuatu milik org lain adalah dosa.

  • 18 Desember

    Saat membaca isi topik ini saya baru menyadari ternyata saya tak pernah membuat penilaian bagaimana orang memilih menjalani hidup perkawinan mereka, mau bagaimana toh itu pilihan masing2 pasangan, mereka memiliki pertimbangan sendiri2. Sejauh keduanya sebagai pasangan sudah bersepakat.  Dan kalau mereka menikah secara agama pastinya jg tahu pandangan agama ttg hal tsb. Bagi saya itu hak mereka. Semoga saja selamanya seperti itu (keduanya). Harus diakui manusia bisa berubah, jangan tiba2 suami ingin punya anak kandung saat istri sudah 45 thn atau tiba2 ingin memiliki anak saat istri sudah menopause.

    18 Desember diubah oleh KATHARINA781

  • 18 Desember

    Sharing tambahan

    Ada satu guru SMA yang saya tau, dia lmyn sukses dalam wirausaha, bikin tempat les yg byk cabang2 buat melatih calon mahasiswa tes ke univ luar negeri

    Dia ngambil keputusan nga nikah (meski kl nikah pun jg kyknya mau childless mustinya), karena mamanya dan cicinya secara finansial maupun kesehatan bergantung sama dia. Jadi sebelum nikah pun sudah ada 2 tanggungan, plus harus tinggal di rumah ortu...

    Terkadang hidup seperti itu, meski sukses di luar ada saja keterbatasan seperti ini. Pdhl orgnya ganteng dan pintar. Tp mnrt pendapat saya sih begini sbnrnya bisa adopsi anak dan sewa ART dgn pengawasan keluarga kalau mau.... Tp memang ribet sih kl cuma sendiri saja...

    Tp kl tidak punya dengan alasan seperti bisa mau sering jalan2 berdua bareng atau bisa invest banyak mnrt saya alasan yg cukup egois (secara bermasyarakat). Masih mending alasan sudah tua atau supaya bisa terlibat dlm pelayanan gereja...

    Salah satu cewe yang pernah saya pdkt seperti itu, dia ortunya majelis dan dia jd harus pelayanan byk bidang. Lalu kerjanya urusin toko kue ortu jg yg dmn hrs buka sabtu minggu. Waktu sudah habis buat dua hal itu, hal yang tidak realistis ngarepin cowonya pindah ke grj dia, cari kerjaan layak di kota dia dan bantu invest usaha ortunya supaya bisa dia free waktunya buat jalan brg...

    18 Desember diubah oleh EDWIN244

  • 18 Desember

    Saya pikir harus dibedakan antara pandangan kristen, dan pandangan sendiri. Untuk thread ini TS menanyakan pandangan kristen.

    Saya pribadi bisa mengerti/memaklumi orang yang memutuskan untuk childfree, merokok, bercerai, kumpul-kebo, hubungan sejenis, aborsi (jika kasusnya karena diperkosa), dll.

    Sebagai contoh, apa saya misuhin orang yang LGBT? Nope. Tapi kalau ditanya apa itu sesuai dengan nilai kristen, dari sepengetahuan saya tidak sesuai.

    KATHARINA781 tulis:

    Saat membaca isi topik ini saya baru menyadari ternyata saya tak pernah membuat penilaian bagaimana orang memilih menjalani hidup perkawinan mereka, mau bagaimana toh itu pilihan masing2 pasangan, mereka memiliki pertimbangan sendiri2. Sejauh keduanya sebagai pasangan sudah bersepakat.  Dan kalau mereka menikah secara agama pastinya jg tahu pandangan agama ttg hal tsb. Bagi saya itu hak mereka. Semoga saja selamanya seperti itu (keduanya). Harus diakui manusia bisa berubah, jangan tiba2 suami ingin punya anak kandung saat istri sudah 45 thn atau tiba2 ingin memiliki anak saat istri sudah menopause.

  • 18 Desember

    :up::-)
    GBU sis ELVIRA

    ELVIRA185 tulis:

    No. Am not being selfish. Judge me if you must.

    Yes we live with consequences. We gotta deal with them.

    Begitu bang Sergy 🤞🏼🙏🏼

  • 18 Desember

    Se7 Se x Bro Luka
    Karena forum JK...ya sesuai ajaran Kristiani, yg qt diskusikan
    Perkara mau pilih yg mana.... terserah yg menjalani

    LUKAS244 tulis:

    Saya pikir harus dibedakan antara pandangan kristen, dan pandangan sendiri. Untuk thread ini TS menanyakan pandangan kristen.

    Saya pribadi bisa mengerti/memaklumi orang yang memutuskan untuk childfree, merokok, bercerai, kumpul-kebo, hubungan sejenis, aborsi (jika kasusnya karena diperkosa), dll.

    Sebagai contoh, apa saya misuhin orang yang LGBT? Nope. Tapi kalau ditanya apa itu sesuai dengan nilai kristen, dari sepengetahuan saya tidak sesuai.

  • 18 Desember

    Hidup tanpa anak bukanlah dosa. Saya setuju dengan ini.

    Pertimbangan memilihnya  atau karena kondisi tertentu  ini menjadi pilihan balik ke masing2 pasangan. Walaupun harus diakui ada juga yg berubah dikemudian hari dan malah ada yg kemudian menjadi konflik dalam pernikahan.

    BARNABAS668 tulis:

    Hidup tanpa anak bukanlah dosa. Hidup dlm pikiran jahat, ketidaksetiaan pada pasangan, dengki, penyimpangan perilaku sex, menginginkan sesuatu milik org lain adalah dosa.

  • 18 Desember

    VARIANI828 tulis:

    Lelakinya vasektomi sih. Tapi ngga 100% juga ngga bisa hamil.

    yg bagus vasak bumi😁😁

  • 18 Desember

    Up 🍻🤣

    SERGY895 tulis:

    Kejatuhan manusia ke dalam dosa berhubungan dengan otonomi moral yang ditawarkan oleh Iblis (manusia menjadi seperti Allah yang membedakan apa yang baik dari apa yang jahat). Sejak saat itu manusia merasa menjadi penentu moralitas.

    Bagi orang-orang Kristen, standar moralitas adalah firman Allah. Firman Allah adalah kebenaran (Yoh. 17:17).

    Dalam Kitab Hukum Gereja (yang dseibut juga Kitab Hukum Kanonik), KELAHIRAN ANAK merupakan salah satu dari 3 tujuan perkawinan menurut Katolik. Sebagai tujuan perkawinan, kelahiran anak merupakan SIFAT KHAS KODRAT PERKAWINAN.

    Dengan kata lain, jika ada pasangan suami-istri (pasutri) menolak memiliki anak dengan sadar (childfree), berarti mereka juga menolak SIFAT KHAS KODRAT perkawinan itu sendiri.

    Karena tujuan perkawinan merupakan UNSUR HAKIKI PERKAWINAN. Jika unsur hakiki itu hilang atau ditiadakan, maka perkawinan itu juga sebenarnya tidak ada atau tidak sah.

    Oleh karena itu, berdasarkan KHK Kanon 1101 §2, jika salah satu atau kedua pasangan menolak memiliki anak dengan kemauan yang sadar, ia (mereka) melangsungkan perkawinan tidak sah.

  • 19 Desember

    🤣ini diskusi mengenai ajaran ...bukan pilihan qt

    Kanon 1057, KHK 1983, menyatakan ada tiga syarat dasar supaya sebuah perkawinan sah kanonik.
    Tiga syarat itu adalah:
    1. adanya saling kesepakatan tanpa cacat mendasar untuk perkawinan
    2. dilaksanakan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mempunyai kemampuan legitim untuk melaksanakan perkawinan itu, yakni tidak terhalang oleh halangan yang menggagalkan dari hukum ilahi atau hukum positif (gerejawi dan sipil)
    3. secara publik dilaksanakan dengan tata peneguhan yang diwajibkan hukum, yakni sebagaimana dituntut oleh hukum gereja atau negara.
    Secara umum Gereja Katolik selalu memandang perkawinan sebagai perkawinan yang sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya.

    Secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 3 hal yang dapat membatalkan perkawinan:
    A. Kasus karena halangan yang menggagalkan
    B. Kasus karena cacat dalam kesepakatan perkawinan
    C. Kasus karena cacat atau ketiadaan tata peneguhan kanonik.

    A. Kasus karena halangan yang menggagalkan ini bisa terjadi karena antara kedua belah pihak terdapat cacat atau terdapat salah satu dari 12 halangan nikah yang menggagalkan sebagaimana dicantumkan dalam Kanon 1083-1094, Kitab Hukum Kanonik.

    B. Kasus karena cacat dalam kesepakatan perkawinan {Kitab Hukum Kanonik kanon1095-1107)
    Salah satunya ... Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan

    C. Kasus karena cacat atau ketiadaan tata peneguhan kanonik (Kitab Hukum Kanonik kanon 1108-1123)

    Kalau detil setiap kanon bisa dicari sendiri aj....pada diskusi ini kan pandangan Gereja ttg Childfree
    Bukan pilihan qt:-)

    EDINA743 tulis:

    Up 🍻🤣

  • 19 Desember

    Di Gereja Katolik ada yg namanya NFP (Natural Family Planning), yaitu menurut tanggal/jadwal datang bulan sang istri. Jadi kalo mau menghindar punya anak lagi, yah pake cara NFP (nunda hubungan suami-istri pake cara tanggal NFP  tsb) sebab kontrasepsi memang dilarang dalam ajaran Katolik. Tapi kalo walopun sudah pakai NFP tetap tidak terhindar, harus terima anak/karunia tsb, tidak boleh diaborsi. Sebab tujuan pernikahan sah secara Katolik ada 2-fold: 1) Pro-Fidelitas (Kesetiaan spt Kristus yg selalu setia, tidak pernah gagal mencintai Gereja/UmatNya), 2) Pro-Creation (beranak-cucu). Itu semua ada di Hukum Kanonik dan CCC (Catholic Church Catechism) tapi mesti ngubek2 dan gak ada wkt -- jadi yg penting intinya saja saya rangkumkan. (*)

    -Tapi beranak-cucu itu tidak bisa dipaksakan (ada cowok yg impoten, ada cewek yg mandul ato sakit endometriasism, ada yg nikah di usia lanjut, ada yg tidak dikaruniakan anak oleh Tuhan, dst) karena anak itu adalah karunia/anugrah Tuhan. Jadi gak boleh maksa pakai cara bayi tabung segala, atau aborsi, atau segala macam alat2 kontrasepsi, itu semua dianggap immoral karena bertentangan dengan Pro-Creation.

    -Beranak-cucu yg gimana? tentunya yg "Godly Offspring" (yg bisa bguna bagi masyarakat). Bukan yg jadi sampah masyarakat atau Ungodly/Wicked Offspring kayak anak setan (Contoh: seperti Sodom dan Gomorah yg akhirnya Tuhan punahkan; atau spt jaman Nabi Nuh yg akhirnya Tuhan punahkan jg).

    -(*) Begitulah kebenarannya (The TRUTH). Oleh sebab itulah dalam kitab Psalms tertulis (to pursue the Truth at any cost; meditate on God's Words/Truth day and night; and live the Truth!) Tuhan Yesus sendiri bilang, "Seek the Truth and the Truth will set you FREE" -- tentunya 'FREE FROM' Sin, bukan 'FREE TO' Sin (Bebas DARI dosa, bukannya Bebas Untuk berbuat dosa -- jelas2 beda lho!)

    -Dan kebenaran (the TRUTH)  itu karakteristiknya harusnya UNIVERSAL (konsisten, sama, di seluruh dunia) -- bukan hanya LOKAL (di Jawa doank, di Indonesia doank, tapi di negara lain tidak konsisten), ndak gitu lah ya...

    19 Desember diubah oleh MAE309

  • 19 Desember

    2-fold answer:

    Oleh sebab itu, ada yg namanya Annulment dalam gereja Katolik. Itu bukan "perceraian di dalam gereja" tetapi ditelusuri apakah dari pertama pernikahan tsb "sah" (dalam definisi Gereja Katolik -- dengan kata lain, apakah pnikahan tsb dari awal 'was [truly] joined by God' ? itu ada kriteria2 nya which is beyond the scope of this forum).

    Jadi bukan sembarangan "perceraian di catatan sipil" diperbolehkan nikah lagi, seenaknya. Else, bisa jadi tidak sah dan zinah.

  • 19 Desember

    Se7 sekali dg pendapat sis Mae:-)
    Yg menjadi masalah dlm gereja Katolik adalah org2 yg mampu tuk mempunyai anak tetapi tdk mau.
    Kalau memang tdk mampu/ memungkinkan utk punya anak tdk menjadi masalah.
    Seperti yg saya kemukakan diatas:Contra bonum polis: dengan maksud dari awal untuk tidak mau mempunyai keturunan.

    Kalau impotensi dr awal pernikahan....bisa menggagalkan sahnya suatu perkawinan secara Katolik bila pasangannya mengajukan pembatalan pernikahan. Krn termasuk salah satu dari 12 halangan nikah yang menggagalkan sebagaimana dicantumkan dalam Kanon 1083-1094, Kitab Hukum Kanonik.
    Dan aturan tersebut untuk Gereja Katolik berlaku Universal

    MAE309 tulis:

    -Tapi beranak-cucu itu tidak bisa dipaksakan (ada cowok yg impoten, ada cewek yg mandul ato sakit endometriasism, ada yg nikah di usia lanjut, ada yg tidak dikaruniakan anak oleh Tuhan, dst) karena anak itu adalah karunia/anugrah Tuhan.

    -Dan kebenaran (the TRUTH)  itu karakteristiknya harusnya UNIVERSAL (konsisten, sama, di seluruh dunia) -- bukan hanya LOKAL (di Jawa doank, di Indonesia doank, tapi di negara lain tidak konsisten), ndak gitu lah ya...

  • 19 Desember

    Oooo... I see...itulah sebabnya saat era Pak Soeharto mengkampanyekan program KB, gereja Katolik "menentang" nya.

    Namun Pak Sergy, dimanakah saya bisa membaca Kitab Hukum Kanon Katolik?

    terima kasih

26 – 50 dari 57    Ke halaman:  Sebelumnya  1  2  3  Selanjutnya Kirim tanggapan