Anak Tidak Minta Dilahirkan
-
1 Maret 2024
Mengapa punya anak? Manusia adalah makhluk sosial yang sulit untuk hidup sendiri karena itu ia mendambakan seorang penolong yang dapat membantunya disaat ia lemah tidak berdaya. Namun ironisnya tidak semua orang bisa dimintakan pertolongan, hanya orang2 dekat saja yang diharapkan bisa menolongnya & yang paling terdekat adalah keluarganya. Karena itu orang tua mendambakan hadirnya seorang anak dengan harapan di masa tuanya ada penolong yang merawat mereka di saat lemah, sakit & tidak berdaya.
Tentu saja yang orang tua dambakan adalah memiliki anak yang patuh & berbakti. Dalam membesarkan anak orang tua mendidik & memberikan pemahaman agama untuk anak2nya agar tahu tata krama, etika, sopan-santun & mengenal siapa Tuhan yang harus disembah; walau pun orang tuanya tidak benar-benar beriman / tidak berpendidikan tinggi tapi mereka tetap berharap yang terbaik untuk anak-anaknya. Orang tua ingin kelak pribadi anaknya menjadi orang yang berguna lebih dari anak-anak lainnya di keluarga & masyarakat. Bagaimana pun susahnya kehidupan, orang tua selalu mengalah & mendahulukan kebahagiaan anak2nya diatas kebahagiaan diri mereka sendiri dengan berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan kemampuan yang bisa mereka peroleh.
Orang tua lebih mengetahui lika-liku kehidupan sehingga dalam mendidik anak mereka akan berpedoman berdasarkan pengalaman hidupnya dengan memilah apa yang terbaik & tidak baik bagi anaknya. Dalam prosesnya orang tua yang baik akan memberikan dukungan moril & materiil, namun bukan berarti apa yang anak inginkan akan selalu dituruti. Orang tua akan melihat lebih dulu kebutuhan mana yang lebih penting untuk diutamakan. Tentu saja semua kebutuhan harus disesuaikan dengan kemampuan & jangan sampai anak menjadi egois memaksakan kehendaknya sendiri diluar batas kesanggupan orang tuanya. Selama definisi gambaran kebutuhan (kebahagiaan) anak masih berada di jalur yang benar setiap orang tua yang baik tentu akan mendukungnya.
Orang tua menyadari sejak awal bahwa punya anak adalah konsekuensi dari sebuah pilihan untuk hidup senang & susah bersama anaknya, dengan penuh keyakinan kelak nanti anaknya bisa berbakti menjadi tumpuan harapan di masa tuanya. Tapi pada kenyataannya seiring berjalannya waktu ada orang tua yang punya anak malah justru menderita karenanya. Dengan klaim pernyataan dari anak yang tidak pernah minta dilahirkan seolah-olah membenarkan tindakan anak yang tidak mau diatur. Anak merasa segala aturan, nasihat, pendidikan & tanggung-jawab yang diberikan orang tuanya membuat mereka merasa terkekang, terbeban & tidak bebas. Dengan dalih tidak bahagia anak menuntut haknya tanpa memikirkan apa yang menjadi kewajibannya kepada orang tuanya & sering kali anak juga tidak berempati / tidak hormat dengan mengabaikan, melawan atau tidak peduli dengan keberadaan orang tuanya.
Punya anak itu tidak selalu membahagiakan, sepanjang proses merawat & mendidik anak ada begitu banyak pengorbanan yang harus diperjuangkan baik waktu, uang & tenaga. Membesarkan anak adalah saat-saat yang paling melelahkan dalam hidup; Ada begitu banyak momen tidak bahagia yang menyakitkan yang bisa membuat depresi menghadapi berbagai tingkah prilaku anak yang tidak sesuai dengan harapan orang tuanya. Pengorbanan yang jika dibandingkan dengan membahagiakan diri mereka sendiri jauh lebih besar pengorbanan untuk kebahagiaan anak. Semestinya betapa pun baik / buruknya orang tua tetaplah orang tua, jangan sampai ada keretakan dalam ikatan hubungan darah di antara keduanya & anak selalu diharapkan untuk patuh & berbakti. Harapan dimana momen2 merasa bahagia memiliki anak sama sekali belum bisa dirasakan oleh orang tua apabila di saat2 tuanya belum merasakan bakti anak yang merawatnya.
Semboyan bahwa banyak anak banyak rejeki merupakan pemikiran yang salah kaprah, malah sebaliknya banyak anak bisa menimbulkan banyak masalah. Banyak anak hanya akan menambah beban biaya hidup sehingga kualitas hidup menjadi menurun. Dengan tidak terpenuhinya kebutuhan anak untuk mendapatkan pendidikan & hidup yang layak pada akhirnya membuat ketidak-mampuan anak untuk bertahan hidup, sehingga kondisi ini akan membuat anak yang tidak berbakti semakin menyalahkan orang tuanya. Orang tua yang memiliki banyak anak tidak menjamin kelak anak2nya akan merawat orang tuanya malah hanya akan melahirkan kesenjangan sosial baru. Jika demikian halnya apakah ada gunanya melahirkan banyak anak dimana setelah jompo anak2 yang tidak berbakti tidak bisa / mau merawat orang tuanya.
Setiap agama mengajarkan agar anak2 patuh kepada orang tuanya, patuh pada orang tua adalah keharusan selama itu ada di jalan yang benar. Anak yang berbakti otomatis akan menghormati & menghargai orang tuanya dengan begitu orang tuanya juga akan mencintai anaknya. Walaupun anak tidak minta dilahirkan tapi orang tua juga tidak berdoa pada Tuhan minta dilahirkan anak yang tidak berbakti. Kebahagian anak haruslah juga kebahagiaan orang tuanya, janganlah anak bahagia tapi orang tuanya hidup menderita & sebaliknya. Dalam hal ini sebagai orang tua & anak haruslah saling mengerti, memahami & tidak hidup hanya berdasarkan ego masing2.
Walapun anak tidak minta dilahirkan tapi ingatlah juga bahwa orang tua tidak minta pada Tuhan dilahirkan anak yang durhaka. Setiap orang tua selalu berharap menginginkan nanti di masa-masa tuanya yang jompo akan ada bakti anak yang akan merawatnya. Orang tua tidak meminta lebih, hanya sekedar balasan untuk merawat mereka menghadapi akhir hidupnya di saat ajal menjelang datang menjemput.
(Dilema manusia yang adalah makhluk sosial namun tidak ada yang menolong dirinya sendiri).
-
28 Maret
baca kitab Kejadian untuk memahami peran manusia dalam penciptaan ALLAH BAPA .... dan penggenapan oleh TUHAN YESUS KRISTUS ....
-
24 November
Mau nanya, bgmn skg tentang trend childfree ? Krna sy liat lagi marak skg ( kebetulan sy liat di tread) , thankyou
-
Hari Sabtu pukul 21:51
Alkitab tidak secara spesifik mengakomodasi gaya hidup childfree (pilihan sadar untuk tidak memiliki anak demi kenyamanan atau kebebasan pribadi), sebaliknya memandang anak sebagai berkat utama dan tujuan alami dari pernikahan.
Berikut adalah poin-poin utama terhadap masalah ini:
1. Tujuan Pernikahan dan Prokreasi
Anak sebagai Berkat: anak-anak sebagai "milik pusaka dari Tuhan" (Mazmur 127:3) dan buah dari kasih persatuan "satu daging" antara suami dan istri.
Mandat Alkitab: Perintah untuk "beranakcuculah dan bertambah banyak" (Kejadian 1:28) dipahami sebagai bagian dari berkat Allah yang memungkinkan manusia berpartisipasi dalam karya penciptaan-Nya.
Keterbukaan terhadap Kehidupan: Meskipun prokreasi bukan satu-satunya tujuan pernikahan (aspek persatuan mistis juga sangat penting), pasangan yang menikah secara sakramental diharapkan untuk terbuka terhadap kelahiran anak.
2. Penolakan terhadap Childfree demi Kepentingan Diri
Kritik terhadap Motivasi: cenderung menolak pilihan untuk tidak memiliki anak jika didasari oleh alasan egois, seperti keinginan untuk kemewahan, kebebasan tanpa tanggung jawab, atau kenyamanan pribadi. Hal ini dianggap tidak selaras dengan ajaran moral dan sakramental gereja.
Bukan Sekadar Pilihan: Keputusan untuk tidak memiliki anak secara sengaja tanpa alasan mendesak (seperti kesehatan) dipandang sebagai pengabaian terhadap tujuan spiritual pernikahan.
3. Pengecualian dan Ekonomi Gereja
Alasan Medis dan Keadaan Darurat: Gereja memahami jika pasangan tidak memiliki anak karena kondisi medis (kemandulan) atau jika kehamilan membahayakan nyawa ibu. Dalam kasus ini, cinta yang sempurna tetap dapat ada, dan pasangan didorong untuk melayani sesama dalam bentuk lain, seperti adopsi.
Bimbingan Pastoral: Masalah kontrol kelahiran atau penundaan memiliki anak dianggap sebagai masalah yang sangat sensitif dan harus didiskusikan dengan bapa spiritual (pastor). Keputusan tersebut tidak boleh diambil dengan ringan tanpa doa dan bimbingan.
4. Perbedaan dengan Selibat
Bahwa tidak semua orang dipanggil untuk menikah dan memiliki anak. Mereka yang memilih jalur selibat (seperti biarawan/biarawati) melakukannya demi "kerajaan sorga" (Matius 19:12), yang merupakan panggilan spiritual khusus, bukan sekadar gaya hidup tanpa anak untuk tujuan duniawi.
Kesimpulan Sementara :
pernikahan adalah jalan menuju pengudusan yang secara alami melibatkan pengasuhan anak sebagai wujud kasih. Memilih childfree murni karena keinginan pribadi dianggap bertentangan dengan semangat pengorbanan diri yang diajarkan Alkitab dan tradisi gereja. -
Hari Sabtu pukul 22:06
Kejadian 38:6-10
(6) Sesudah itu Yehuda mengambil bagi Er, anak sulungnya, seorang isteri, yang bernama Tamar.
(7) Tetapi Er, anak sulung Yehuda itu, adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia.
(8) Lalu berkatalah Yehuda kepada Onan: "Hampirilah isteri kakakmu itu, kawinlah dengan dia sebagai ganti kakakmu dan bangkitkanlah keturunan bagi kakakmu."
(9) Tetapi Onan tahu, bahwa bukan ia yang empunya keturunannya nanti, sebab itu setiap kali ia menghampiri isteri kakaknya itu, ia membiarkan maninya terbuang, supaya ia jangan memberi keturunan kepada kakaknya.
(10) Tetapi yang dilakukannya itu adalah jahat di mata TUHAN, maka TUHAN membunuh dia juga.Dalam tradisi Yahudi di luar teks literal Taurat—khususnya dalam Midrash dan komentar para Rabi—terdapat penjelasan spesifik mengenai dosa Er yang menyebabkan ia dihukum mati oleh Tuhan.
Berikut adalah rincian dari sumber-sumber tersebut:
Motivasi Keindahan: Menurut beberapa rabi dalam Midrash Bereshit Rabbah (85:4) dan catatan dalam Talmud (Yevamot 34b), Er sengaja melakukan hubungan seksual yang tidak wajar (sering disebut sebagai onanisme dalam konteks modern) agar Tamar tidak hamil. Alasan utamanya adalah ia takut kehamilan akan merusak kecantikan fisik Tamar.
Dosa yang Sama dengan Onan: Meskipun Taurat hanya menyebutkan Er "jahat di mata Tuhan" tanpa rincian (Kejadian 38:7), para penafsir Yahudi seperti Rashi dan Rabbeinu Bechaye berpendapat bahwa Er melakukan dosa yang sama dengan adiknya, Onan, yaitu "membuang benih".
Tujuan Kenikmatan Semata: Er dipandang hanya menginginkan Tamar untuk kepuasan fisik semata dan menolak kewajiban spiritual untuk menghasilkan keturunan (prokreasi). Hal inilah yang dianggap sebagai kejahatan besar di mata Tuhan sehingga ia dihukum mati.
Perbedaan Fokus: Sementara Onan menolak menghamili Tamar karena alasan warisan (anak tersebut tidak akan dianggap sebagai keturunannya), Er melakukannya murni karena alasan estetika atau menjaga penampilan istrinya.
Kesimpulan Sementara :
Dalam pandangan ini, kematian Er bukan sekadar karena "nasib buruk," melainkan hukuman langsung atas tindakan egois yang menghalangi kelanjutan garis keturunan keluarga yang nantinya akan menjadi silsilah Raja Daud.
