menikah kembali atau kembali rujuk??
-
13 Desember
aku dapat ayat dari seorang teman di JK dan ini luar biasa.
Markus 10: 11-12
"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah"
jika kita melakukan cerai hidup, apakah sebaiknya kita rujuk atau menikah kembali?saya yakin diantara kita memiliki status cerai hidup, ini menjadi dilema tersendiri sebab jika kita lanjut untuk rujuk dengan pasangan yang sudah kita ceraikan, sudah tidak ada rasa atau bahkan mungkin si dia sudah menikah kembali. tapi jika kita menikah kembali saat si dia masih hidup, kita dikatakan berzinah terhadap mantan istri kita?
barangkali ada yang bisa bantu??
-
14 Desember
Dari sebelum memutuskan berpisah aku sdh tahu dan mengerti ayat ini sehingga ketika pengadilan ketok palu aku jg hrs konsekuen dg keputusanku.
Jadi, aku tidak akan rujuk ataupun akan menikah lg.
14 Desember diubah oleh TYAS229
-
14 Desember
Tiap orang yg cerai itu pasti ada masalah kan, bercerai itu sudah bisa di simpulkan klo mereka sdh tdk dapat bersama lagi.. Walaupun ajaran agama berkata jika cerai lalu menikah lagi itu zinah. Namun klo situasi dan kondisi sdh tdk mendukung utk kembali rujuk lalu gmn? Ya kesimpulannya klo nggak mau di blng zinah ya nggak usah menikah lagi.. Dan kayaknya jg jarang sekali orang yg sdh bercerai kemudian suatu hari rujuk kembali. Krn yg namanya orang cerai itu sdh tdk bs lagi bertahan...
-
14 Desember
1) ayat tsb kan cuman bilang "yg menceraikan" tetapi tidak bahas "yg diceraikan".
2) itulah sebabnya "Sola Scriptura" tidak cukup untuk menjawab pertanyaan anda. Kalo di agama Katolik aturannya sangat jelas dan tertulis, tidak hanya i) Sacred Scriptura (Kitab Suci), tetapi ada juga ii) Sacred Tradition, dan iii) otorisasi interpretasi tertulis dari Magisterium Gereja Katolik yg terdiri dari Paus dan Uskup2 Agung sedunia. Jadi gak bisa sembarangan orang awam seenaknya menginterpretasikan ayat2 yg sulit dipahami kayak gini.
Bayangkan setiap denominasi beda2 interpretasinya. Setiap orang awam juga beda2 interpetasinya. Akhirnya seenak diri sendiri. Tetapi yg mengadili di akhirat tetap Tuhan Yesus. Resiko tanggung sendiri....wkwkwk
ARISTEA175 tulis:
aku dapat ayat dari seorang teman di JK dan ini luar biasa.
Markus 10: 11-12
"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah"
jika kita melakukan cerai hidup, apakah sebaiknya kita rujuk atau menikah kembali?saya yakin diantara kita memiliki status cerai hidup, ini menjadi dilema tersendiri sebab jika kita lanjut untuk rujuk dengan pasangan yang sudah kita ceraikan, sudah tidak ada rasa atau bahkan mungkin si dia sudah menikah kembali. tapi jika kita menikah kembali saat si dia masih hidup, kita dikatakan berzinah terhadap mantan istri kita?
barangkali ada yang bisa bantu??
-
20 Desember
Trus kalo cerai sebelum ikut kristus, apakah boleh menikah lagi dalam kristen?, karena saya baru login ikut kristus 🙏
-
20 Desember
Alkitab mencatat bahwa Allah membenci perceraian. Banyak perbuatan dosa lainnya yg dibenci Allah. Lantas apakah semua perbuatan dosa itu adalah poinnya? Lebih besar dari itu adalah DIA Maha Pengasih, Pengampun.
Menikah kembali dan hidup di dalam Kristus apakah kemudian menjadi dosa abadi?
Miris banget dengan penghakiman2 manusia yg seakan-akan suci. Dan seakan2 Alkitabiah.
Netizen2 ini unik juga.. Belum pernah menikah sama sekali pun tapi SIBUK mengurusi topik duda/ janda cerai hidup yg mau menikah lagi.
Koreksi diri sendiri dulu. Koreksi status diri sendiri dulu.
-
20 Desember
Sbnrnya ini pertanyaan bagus & sering dibahas di forum ini. Gk salah kalau saudara mencari bermacam pendapat ttg persoalan ini baik di grup jk ini, di podcast2, atau buku2 rohani sbg rujukan. Tapi singkat saja sbagai seseorang yg pernah mengalami persoalan ini, sebaiknya kita yg menggumuli persoalan ini & ingin hidup baru yg berkenan dgn kehendak Tuhan. Silahkan konsultasikan kpd gereja dimana kita tercatat. Krn dari situlah arahan bahkan keputusan kuat. Walaupun bukan mutlak. Krn permasalahan kita dikaji scr mendalam, mediasi kedua belah pihak yg berperkara. Intens saling mendoakan. Sampai pada ujungnya dirilislah keputusan atau sikap dari gereja kita (yg bersumber hasil mediasi, dalil Firman Tuhan, Tata Tertib/ Tata laksana peraturan gereja setempat.
ARISTEA175 tulis:
aku dapat ayat dari seorang teman di JK dan ini luar biasa.
Markus 10: 11-12
"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah"
jika kita melakukan cerai hidup, apakah sebaiknya kita rujuk atau menikah kembali?saya yakin diantara kita memiliki status cerai hidup, ini menjadi dilema tersendiri sebab jika kita lanjut untuk rujuk dengan pasangan yang sudah kita ceraikan, sudah tidak ada rasa atau bahkan mungkin si dia sudah menikah kembali. tapi jika kita menikah kembali saat si dia masih hidup, kita dikatakan berzinah terhadap mantan istri kita?
barangkali ada yang bisa bantu??
20 Desember diubah oleh MANIAR098
-
23 Maret
MAE309 tulis:
1) ayat tsb kan cuman bilang "yg menceraikan" tetapi tidak bahas "yg diceraikan".
Anda benar tetapi Anda tentu tidak lupa bahwa ayat tersebut memiliki pararel dalam Mat 5:32 :
Matius 5:32
Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan isterinya kecuali karena zinah, ia menjadikan isterinya berzinah; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berbuat zinah.
Yang mana diulangi lagi oleh Yesus Kristus di Mat 19:9 :
Matius 19:9
Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah."Frasa "kecuali karena zinah" dalam Mat 5:32 dan Mat 19:9 tersebut tentu saja dibahaskan atau ditujukan kepada pihak yang diceraikan. Dan jika alasan perceraian bukan karena zinah maka pihak yang diceraikan akan berada dalam "status hukum/spritual zinah" karena perceraian itu dianggap tidak sah oleh Tuhan (jika bukan karena zinah) maka ketika pihak yang diceraikan mencoba memulai hidup baru atau menikah lagi, ia terlihat/dianggap berzinah di mata hukum Tuhan.
Soal perceraian ini kembali dipertajam dalam Luk 16:18 :
Lukas 16:18
Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah."2) itulah sebabnya "Sola Scriptura" tidak cukup untuk menjawab pertanyaan anda. Kalo di agama Katolik aturannya sangat jelas dan tertulis, tidak hanya i) Sacred Scriptura (Kitab Suci), tetapi ada juga ii) Sacred Tradition, dan iii) otorisasi interpretasi tertulis dari Magisterium Gereja Katolik yg terdiri dari Paus dan Uskup2 Agung sedunia. Jadi gak bisa sembarangan orang awam seenaknya menginterpretasikan ayat2 yg sulit dipahami kayak gini.
Saya sangat menghormati Gereja Katolik tetapi bukan berarti umat kristen non-katolik tidak dapat memahami ayat-ayat tersebut tanpa tutorial dari Magisterium Dan Tradisi Suci Gereja Katolik. Dengan memahami konteks ayat, perikop atau pasal dan terjemahan dalam bahasa aslinya serta inspirasi daripada Roh Kudus, umat kristen niscaya akan menemukan kebenaran di balik apa yang tertulis di Alkitab.
Bayangkan setiap denominasi beda2 interpretasinya. Setiap orang awam juga beda2 interpetasinya. Akhirnya seenak diri sendiri. Tetapi yg mengadili di akhirat tetap Tuhan Yesus. Resiko tanggung sendiri....wkwkwk
Saya tidak menyangkali itu tetapi yang patut dicatat bahwa berdasarkan terjemahan indonesia yang sudah ada, orang kristen paling awam sekalipun sadar bahwa perceraian itu adalah hal yang dibenci Tuhan.
23 Maret diubah oleh EDO073
-
23 Maret
Kalau ditanya utk jawaban pribadi sih kalau udah cerai berarti udah final kalo saya. Ga perlu rujuk.
Apa iya Tuhan sejahat itu? Kita ga boleh nikah lagi? Langsung dicap wanita berdosa kah?
23 Maret diubah oleh MEIMEI833
-
23 Maret
Rujuk? Absolutely no. Milih pisah krn ga mau mati konyol demi menjaga ini itu, seperti pengalaman temen sampe milih bundir.
Kembali nikah? Iya, jika semesta berikan kesempatan ke dua dan bisa jatuh cinta lg..😄. If not, no matter at all. Single is better than live with wrong person.
Karena di usia mature plus pengalaman itu, logika sdh sgt berkuasa. Tp hidup ini penuh kejutan, who knows...hehehe.
God is good all the time. No pressure at all.
Hidup itu ttg konsekuensi, menurut saya.
-
24 Maret
Mungkin Tuhan mmg pny rencana atas jomblo nya sampean pak 😁 agar bapak ada kesempatan untuk melayani Allah dengan lebih sepenuh hati (1 Korintus 7:32-36) Btw, Doa & Hikmat, Minta pimpinan Tuhan dalam doa untuk memahami kehendak-Nya dalam situasi pribadi.
-
25 Maret
Entahlah, aku juga tdk mengerti karena aku tidak mengalaminya.
Satu hal yang ku tau, jomblo/single itu bikin sesak nafas.
Jangan sampai jadi jomblo abadi...
-
26 Maret
MEIMEI833 tulis:
Kalau ditanya utk jawaban pribadi sih kalau udah cerai berarti udah final kalo saya. Ga perlu rujuk.
Apa iya Tuhan sejahat itu? Kita ga boleh nikah lagi? Langsung dicap wanita berdosa kah?
Izinkan saya untuk menanggapi komentar anda di atas.
Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan,
1 Korintus 7:8-9
(8) Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku.
(9) Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu.
Secara teknik lingustik dan sejarah, kata janda-janda yang digunakan dalam ayat tersebut memang dterjamahkan dari kata chera, yang secara harfiah berarti "dirampas" atau "ditinggalkan" karena kematian atau cerai mati.
Dalam ayat tersebut juga, rasul Paulus menggabungkan "orang-orang yang tidak menikah" (agamos) dan "janda-janda" (chera). Karena bahasa Yunani saat itu tidak memiliki kata khusus untuk "duda", mayoritas pakar Alkitab berpendapat bahwa agamos di sini merujuk pada para duda, sehingga pasangan ini menjadi serasi: para duda dan para janda.
Tetapi rasul Paulus juga menambahkan "Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu."
Pada hari ini, makna janda "gerejawi" mengalami perluasan makna dari hanya janda karena kematian menjadi dan para istri yang bercerai secara sah di mata gereja. Untuk itulah rasul Paulus memberikan solusi praktis untuk menghindari dosa seksual, yaitu untuk menikah kembali.
Kesimpulan sementara:
Perceraian adalah sebuah tragedi dan kegagalan manusia terhadap idealisme Kerajaan Tuhan. Namun jika sebuah pernikahan sudah mati secara spiritual, memaksa pasangan tersebut tetap bersama dalam kebencian atau penderitaan dianggap tidak menyelamatkan jiwa. Memang Tuhan membenci perceraian tetapi rahmat Tuhan memungkinkan seseorang memulai hidup baru melalui pernikahan kembali yang sah secara gerejawi. -
27 Maret
LUKAS236 tulis:
Trus kalo cerai sebelum ikut kristus, apakah boleh menikah lagi dalam kristen?, karena saya baru login ikut kristus 🙏
Izinkan saya menanggapi komentar Anda di atas :
Jika perceraian terjadi sebelum Anda menjadi Kristen, hampir semua gereja memberikan kesempatan untuk menikah kembali di dalam gereja. Hal ini karena Anda dianggap memulai hidup baru sebagai anggota keluarga Allah yang telah ditebus.
-
27 Maret
Nah ini baru bener, tidak ada pernikahan yg sah dimata Tuhan bagi yg cerai hidup
TYAS229 tulis:
Dari sebelum memutuskan berpisah aku sdh tahu dan mengerti ayat ini sehingga ketika pengadilan ketok palu aku jg hrs konsekuen dg keputusanku.
Jadi, aku tidak akan rujuk ataupun akan menikah lg.
-
27 Maret
HELLY173 tulis:
Nah ini baru bener, tidak ada pernikahan yg sah dimata Tuhan bagi yg cerai hidup
Ada kok. Jika salah satu pihak dari pasangan suami istri melakukan hal-hal berikut, maka cerai hidup adalah sah di mata Tuhan sekaligus pernikahan kembali.
1. Kemurtadan secara harfiah yang berarti meninggalkan iman Kristen:
Jika salah satu pasangan secara sadar menolak Kristus atau berpindah ke agama lain, hal ini dianggap sebagai pengkhianatan terhadap landasan sakramental pernikahan.
2. Kekerasan dan Ancaman Nyawa:
Upaya pembunuhan atau kekerasan fisik yang hebat terhadap pasangan atau anak.
3. Gaya Hidup yang Menghancurkan Keluarga:
Adiksi berat (alkohol atau obat-obatan) yang menyebabkan penderitaan ekonomi dan moral yang tidak tertahankan bagi keluarga.
4. Perilaku Seksual yang Menyimpang:
Memaksa pasangan melakukan tindakan asusila atau terlibat dalam prostitusi.
5. Aborsi tanpa persetujuan:
melakukan aborsi tanpa alasan medis yang sangat mendesak dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap moral pernikahan.
Mengapa bisa begitu?
Karena Gereja melihat hal-hal tersebut sebagai bentuk pengkhianatan, yaitu kondisi dimana salah satu pihak melakukan tindakan yang "secara rohani membunuh" hakikat sakramen pernikahan itu sendiri.
Tentu saja Anda boleh tidak sepakat dengan itu tetapi Anda tentu tidak bisa menyangkali potensi yang sangat mengerikan yang akan terjadi jika salah satu pihak melakukan hal-hal tersebut kepada pasangannya, bahkan anak-anaknya.
Saya sepakat bahwa Tuhan membenci perceraian tetapi saya percaya bahwa Tuhan tetap mengasihi pasangan suami istri yang memutuskan bercerai. Tuhan tahu persis isi hati mereka dan waktulah yang akan memperlihatkannya kepada manusia.27 Maret diubah oleh EDO073
-
28 Maret
Sdr. Edo membicarakan hal yg berbeda dg Sis Helly.
"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah"
Walau Tuhan tidak suka, tetapi Tuhan memperkenankan perceraian.
Sehubungan dengan kawin/pernikahan kembali setelah bercerai, kita sebagai orang Kristen (Protestan atau Katolik) yg telah dewasa diberikan kebebasan utk:
1. mengikuti isi Alkitab
2. mengikuti pendapat pempimpin gereja
3. mengikuti pendapat teman
4. mengikuti pendapat kerabat/saudara
5. mengikuti pendapat sosial media
6. mengikuti pemikiran sendiri
EDO073 tulis:
.....
Saya sepakat bahwa Tuhan membenci perceraian tetapi saya percaya bahwa Tuhan tetap mengasihi pasangan suami istri yang memutuskan bercerai.
HELLY173 tulis:
Nah ini baru bener, tidak ada pernikahan yg sah dimata Tuhan bagi yg cerai hidup
-
28 Maret
Kalo pernikahannya beda agama mending jangan rujuk, tapi kalo pernikahan seiman kembali rujuk aja, menurut ku keselamatan cuma di dalam Yesus Kristus
-
28 Maret
LIYA574 tulis:
Sdr. Edo membicarakan hal yg berbeda dg Sis Helly.
"Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu. Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah"
Terima kasih sudah menanggapi komentar saya. Izinkan saya menjelaskan kepada Anda dasar dari tanggapan saya untuk komentar @HELLY173 :
Ayat yang anda kutip adalah Markus 10:11-12 :(11) Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.
(12) Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah."FYI, Rasul Markus menuliskan Injilnya terutama untuk jemaat di Roma (non-Yahudi). Penekanannya adalah pada prinsip dasar yang absolut tentang pernikahan sebagai persatuan yang tak terpisahkan oleh manusia. Rasul Markus ingin menunjukkan bahwa dalam Kerajaan Allah, standar moral tidak didasarkan pada celah hukum (loopholes), melainkan pada rancangan asli penciptaan.
Perhatikan bahwa di Markus 10:12, rasul Markus secara unik mencantumkan larangan yang sama bagi istri untuk menceraikan suaminya, sesuatu yang jarang dalam hukum Yahudi tetapi ada dalam budaya Romawi. Dengan menghilangkan pengecualian di sini, rasul Markus menegaskan bahwa kesetiaan adalah standar mutlak bagi kedua belah pihak tanpa kecuali.
Di Roma abad pertama, perceraian adalah hal yang umum dan sering dilakukan demi keuntungan politik atau sosial. Masyarakat Romawi, baik pria dan wanita, sering mempraktikkan "monogami serial", di mana seseorang bisa menikah dan bercerai berkali-kali secara legal.
Pernyataan Yesus di Markus menantang normalisasi perceraian ini dengan mengembalikan fokus pada ketetapan Allah yang absolut sejak penciptaan, bukan pada apa yang diizinkan oleh hukum sipil manusia.
Alasan mengapa rasul Markus tidak menuliskan "kecuali karena zina" seperti pada Mat 5:32 dan Mat 19:9 pada ayat-ayat tersebut :
1. Secara hukum, seorang suami Romawi tidak dianggap berzinah jika ia berhubungan seksual dengan:
- Budak (miliknya sendiri atau orang lain).
- Pelacur atau wanita dengan status sosial rendah (infamis).
- Wanita yang tidak menikah atau janda (kecuali jika wanita itu adalah warga negara terhormat, yang disebut sebagai kejahatan stuprum).
2. Kapan Pria Dianggap Berzina?
Seorang pria hanya bisa dituntut atas pasal perzinahan (adulterium) jika ia berhubungan dengan istri orang lain.
- Dalam kasus ini, pria tersebut dianggap melanggar hak milik suami wanita itu dan merusak garis keturunan keluarga lain.
- Hukuman bagi pria yang berzina dengan istri orang lain meliputi penyitaan setengah hartanya dan pengasingan ke pulau yang berbeda dengan wanita selingkuhannya (relegatio).
- Ini sangat berbeda dengan Hukum Yahudi yang akan mengeksekusi para pria atau wanita yang sudah kawin jika kedapatan berzina.3. Hak Istri yang Sangat Terbatas
Berbeda dengan suami yang bisa menuntut atau bahkan membunuh selingkuhan istrinya dalam kondisi tertentu, seorang istri Romawi pada abad pertama:
- Tidak memiliki hak hukum untuk menuntut suaminya atas dasar perselingkuhan.
- Tidak bisa memanggil dewan keluarga untuk menghakimi suaminya.
- Meskipun ia bisa memulai perceraian, ia tidak akan mendapatkan kompensasi hukum apa pun dari perselingkuhan suaminya tersebutBagi audiens Roma dalam Injil Markus:
- Dosa vs Kejahatan: Yesus menggeser fokus dari "kejahatan perdata" (yang hukumannya hanya pengasingan/harta) menjadi "dosa moral" yang serius di hadapan Allah.
- Perlindungan Istri: Di Roma, suami yang "jajan" dengan budak tidak dihukum apa-apa. Yesus mengatakan itu tetap perzinahan terhadap istrinya.
Jadi, bagi orang Romawi, ajaran Yesus jauh lebih berat secara moral daripada hukum negara mereka, karena Yesus menyamakan standar kesetiaan pria dengan wanita, sesuatu yang tidak dikenal dalam hukum kekaisaran.
Sekarang, apa korelasi penjelasan saya di atas dengan komentar @HELLY173 :HELLY173 tulis:
Nah ini baru bener, tidak ada pernikahan yg sah dimata Tuhan bagi yg cerai hidup
JIka pernyataan itu hanya merujuk kepada Mar 10:11-12 tanpa konteks apa pun, tentu saja itu valid. Tetapi jika menimbang penjelasan di atas, terlebih lagi jika menggunakan ayat-ayat pararel, seperti Mat 5:32 dan Mat 19:9, tentu saja pernyataan tersebut sangat debatable.
-
29 Maret
LIYA574 tulis:
Walau Tuhan tidak suka, tetapi Tuhan memperkenankan perceraian.
Izinkan saya menanggapi pernyataan Anda tersebut.
Pernyataan Anda tersebut valid secara esensi tetapi bagi segelintir orang Kristen dapat menimbulkan kesalahpahaman tertentu karena :
1. Orang bisa mengira bahwa Tuhan "plin-plan" atau bahwa perceraian adalah opsi yang mudah diambil asal ada izin Gereja.
2. Konsep Izin vs. Restu: Orang sering mencampuradukkan "diperkenankan" (diizinkan karena darurat) dengan "diberkati" (direstui sebagai hal baik). Di setiap gereja Tuhan, perceraian tetaplah dianggap sebagai dosa dan tragedi, bukan hak yang patut dirayakan.
3. Paradoks Teologis: Kalimat "Tuhan tidak suka tapi memperkenankan" terdengar kontradiktif bagi logika hukum formal (hitam-putih). Bagi orang yang terbiasa dengan hukum legalistik, mereka akan bingung: "Kalau Tuhan tidak suka, kenapa boleh?"
Agar tidak salah paham, ada konteks yang harus diberitahukan tentang perceraian :
1. Perceraian adalah "Amputasi": Seperti dokter yang terpaksa mengamputasi kaki untuk menyelamatkan nyawa pasien (meskipun dokter benci memotong kaki), Gereja mengizinkan perceraian hanya untuk menyelamatkan jiwa yang "sekarat" dalam pernikahan yang sudah hancur.2. Bukan Hak, tapi Dispensasi: Perceraian bukan hak setiap orang, melainkan keputusan pastoral dari Uskup setelah melalui proses bimbingan yang panjang.
3. Unsur Penyesalan: Orang yang bercerai dan menikah lagi harus melewati masa penitensi (pertobatan), karena mereka diakui telah gagal memenuhi standar ideal Tuhan.
Sekali lagi, kalimat pernyataan Anda itu valid secara esensi tetapi butuh "imbuhan" :
"Tuhan memperkenankan perceraian bukan sebagai pilihan bebas, melainkan sebagai obat pahit (belas kasih) bagi kelemahan manusia yang sudah tidak mampu lagi mempertahankan kesucian pernikahannya."
Izinkan saya mengedit komentar Anda di bawah ini untuk mempersingkat dan memperjelas fokus tanggapan saya :[Edit admin: Quote bukanlah untuk diedit. Silakan tuangkan/tuliskan pendapat Anda sendiri. Terima kasih.]
Markus 10:9
(9) Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."
Yesus menetapkan bahwa pernikahan idealnya tidak terpisahkan. Namun, Ia juga memberikan otoritas kepada Gereja untuk membuat keputusan pastoral di dunia yang akan "diakui" di surga.
Matius 18:18
(18) Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.
Jadi dalam konteks perceraian :
1. Mengikat: Gereja menegaskan kesucian pernikahan dan menyatakan bahwa secara ideal, ikatan itu kekal.
2. Melepas: Gereja, melalui pemimpin, memiliki kuasa untuk "melepas" seseorang dari beban hukum atau ikatan pernikahan yang telah "mati" secara rohani (misalnya karena perzinahan atau kekerasan) demi keselamatan jiwa orang tersebut.
Penting untuk diingat bahwa kuasa ini bukan berarti Gereja bisa "bermain Tuhan" atau mengubah hukum Allah sesuka hati :
- Kuasa ini diberikan untuk penyembuhan, bukan penghancuran.
- Gereja tidak "membenarkan" perceraian, tetapi "mengakui" adanya tragedi dan menggunakan kuasa "melepas" agar orang yang bersangkutan tidak binasa dalam keputusasaan atau dosa yang berkelanjutan.
Sebagai catatan :
Saya tidak sedang mempromosikan gereja atau denominasi tertentu, buat saya, ketika setiap gereja memandang serius setiap masalah perceraian dan pernikahan kembali berdasarkan pemahaman yang holistik dari isi kitab suci serta inspirasi daripada Roh Kudus maka segala keputusan yang ditetapkan dapat dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.9 April diubah oleh JODOHKRISTEN
-
29 Maret
anda tidak saya izinkan [Edit admin: Sebagian isian dihapus. Mari nyatakan pendapat atau keputusan Anda dengan tenang dan ramah. Terima kasih.]
EDO073 tulis:
Izinkan saya mengedit komentar Anda di bawah ini untuk mempersingkat dan memperjelas fokus tanggapan saya :
9 April diubah oleh JODOHKRISTEN
-
1 April
[Edit admin: Posting dihapus karena tidak benar-benar sesuai ketentuan. Tanggapilah postingannya, bukan orangnya.]
9 April diubah oleh JODOHKRISTEN
-
1 April
[Edit admin: Posting dihapus karena tidak benar-benar sesuai ketentuan.]
9 April diubah oleh JODOHKRISTEN
-
9 April
Shalom,
Kami mengajak Anda semua untuk bisa menyikapi pendapat yang berbeda dengan cara yang bijaksana, dengan hati yang tenang.
Kita bisa dan boleh tidak setuju dengan pendapat orang lain, namun harap nyatakan pendapat Anda dengan ramah dan menghormati orang yang berbeda pendapat dengan Anda.
Hindarilah:
- Mengedit quote.
- Menggurui: sampaikan pendapat Anda dengan bahasa yang ramah dan bijak, bukan dengan sikap superior atau menggurui.
- Menyinggung atau menyindir penulis posting.
Terima kasih. Tuhan memberkati.
9 April diubah oleh JODOHKRISTEN
-
9 April
Setubuh eeh setuju👆
Yang mana... Matius 19:6:
Markus 10:9
Maka itu ..Ibrani 13:4
Saya kira..
sebelum menjalin hubungan ke jenjang serius ada diskusi ada komunikasi satu sama lain
Kalau begini gimana..
Kalau begitu gimana .. Terkait pada pernikahan
Baik dalam segi penghasilan. Pendidikan, dan budaya dan etnis
Karena menikah bukan cuma menjalin hubungan tapi menyatukan perbedaan dalam segala hal
Mesti perlu pemikiran yang matang untuk jangka panjang agar tidak berdampak tidak merugikan diri sendiri (terbatin) orang lain (keluarga)
Kalo ada yang bilang menikah kembali karena jinah okelah ada pasal yang menjelaskan karena perjinahan
Kembali lagi ke janji nikah apakah itu hanya janji semata?
Berarti tidak menghargai 1.pasangan
2.janji pernikahan
Dan orang dengan pemikiran konyol berkata: kamu tidak tahu apa yang sebenarnya..
Tidak akan terjadi pelarian(lari) jika tidak dimulai dari awal (star mulai) / tidak akan terjadi perjinahan jika beriman
Ingat Kembali ke janj'i pernikahan sebelum mengenal satu sama lain terjalin nya hubungan mulai dari baik pandangan pertama, komunikasi sampai pada komitmen menyatukan hubungan yang dimateraikan PERNIKAHAN ya mesti sepakat dan dipegang teguh janji pernikahan itu bukan cuma disuarakan sehingga ketika terjadi badai topan dalam kekeluargaan tetap dapat menyelesaikan nya secara bersama-sama dalam ikatan cinta kasih sekalipun mungkin ada jeda waktu untuk tidak bicara yaa itu untuk koreksi diri masing-masing dan berbenah untuk kearah yang baik menyatu bersama kembali
Saya rasa menikah itu bukan cuma melepas masa lajang tapi melepas ego yang mementingkan mengutamakan diri sendiri
Buat kita-kita yang belum nikah alon alon asal kelakon ojo kesusu Abram dan sarah saja menikah di usia laju punya anak diusia monopouse
Tiada yang mustahil asal kita percaya
Sungguh sangat disayangkan (sayanga sekali ya bla bla bla) jika menikah terjadi perceraian kalo belum punya anak maa yaa it's okey waelah bagi mereka yang menganggap pernikahan itu sepele mengingkari janji suci pernikahan
Miris sekali apalagi yang cerai punya anak
Mental bully
Mental down
Bahan Cibiran
Menikah lah jika sudah siap dalam segala hal terkait pernikahan
Karena epek dari perceraian juga seperti penyakit dan turunan
Saya lihat beberapa orang yang cerai orang tuanya cerai berai juga
Seperti halnya mau berperang siapkan alat tempur pengaman persediaan makanan dan minuman demikian halnya dalam menikah jan kawinnya aja yang di ingat eeh jan lepas lajang /pesta nya aja yang diingat iya ga sih
@bersama kita bertumbuh
